I. Pendahuluan
Filsafat / filosofi berasal dari kata Yunani yaitu philos (suka) dan sophia (kebijaksanaan), yang diturunkan dari kata kerja filosoftein, yang berarti : mencintai kebijaksanaan, tetapi arti kata ini belum menampakkan arti filsafat sendiri karena “mencintai” masih dapat dilakukan secara pasif. Pada hal dalam pengertian filosoftein terkandung sifat yang aktif.
Filsafat adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori. Filsafat adalah suatu ilmu atau metode berfikir untuk memecahkan gejala-gejala alam dan masyarakat. Namun filsafat bukanlah suatu dogma atau suatu kepercayaan yang membuta. Filsafat mempersoalkan soal-soal: etika/moral, estetika/seni, sosial dan politik, epistemology/tentang asal pengetahuan, ontology/tentang manusia, dll.
Ketika kita memasuki alam pustaka filsafat maka kita akan bingung sendiri dengan begitu banyaknya buku, thesis, teori yang jumlahnya ribuan banyaknya. Untuk itu agar tidak membuang waktu dan terhindar dari kekacauan, kita dapat memakai cara Engels memisahkan filsafat itu menjadi dua kubu besar yaitu filsafat materialis dan filsafat idealis, materialisme dan idealisme.
Yang dipisahkan menurut Engels ialah didasarkan atas sikap yang diambil oleh si pemikir, yakni apa yang pertama ada terlebih dahulu. Yang mengatakan benda dahulu baru datang fikiran itulah yang materialis dan yang mengatakan fikiran dahulu baru datang benda itulah yang idealis. Pada kubu idealis kita dapatkan beberapa pemikir terkemuka seperti Plato, Hume, Berkeley dan “raksasa pikiran” Hegel, pada kubu materialis kita berjumpa dengan Heraklit, Demokrit, Diderot dan berpuncak pada Marx dan Engels. Diantara kedua kubu ini ada juga yang berdiri ditengah-tengah setengah idealis dan setengah materialis ini disebut dengan penganut filsafat dualisme.
Pentingnya berfilsafat dan cara belajar filsafat
Berfilsafat itu penting, dengan berfilsafat orang akan mempunyai pedoman untuk bersikap dan bertindak secara sadar dalam menghadapi gejala-gejala yang timbul dalam alam dan masyarakat, sehingga tidak mudah tejebak dalam timbul-tenggelamnya gejala-gejala yang terjadi.
Untuk belajar berfilsafat orang harus mempelajari filsafat. Cara belajar filsafat adalah menangkap pengertiannya secara ilmu lalu memadukan ajaran dan pengertiannya dalam praktek. Kemudian pengalaman dari praktek diambil dan disimpulkan kembali secara ilmu.
Monoisme dan Dualisme
Monoisme adalah suatu system filsafat yang bertitik tolak dari satu dasar pandangan , materi atau ide, yang mengatakan materi adalah primer adalah yang tergabung dalam aliran materialisme, sedangkan yang mengatakan ide adalah primer atau yang pertama mereka inilah yang tergabung dalam lairan idealisme. Istilah atau perkataan monoisme pertamakali dipakai oleh seorang filsuf bernama Chr. Wolf pada abad ke-18
Dualisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi dan ide sekaligus. Dualisme menganggap materi dan ide itu sama-sama primer, tidak ada yang sekunder. Keduanya timbul dan ada secara bersamaan. Materi ada karena adanya ide dan juga sebaliknya ide itu ada karena adanya materi. Tapi pada hakikatnya pandangan ini idealis juga, karena pandangan itu tidak lain hanya ada dalam fikiran saja, karena tidak ada dalam kenyataan.
II. Materialisme dan Idealisme
Seperti sudah dijelaskan diatas apa yang selalu menjadi pertanyaan filsafat akhirnya berpuncak pada apakah yang ada lebih dahulu, apakah yang primer benda atau fikiran, materi atau ide. Yang berpendapat ide/fikiran dahulu ada baru benda kemudian muncul dari padanya adalah yang digolongkan pada kaum Idealisme. Dan yang berpendapat bahwa benda/materi ada lebih dahulu baharu kemudian muncul ide mereka itulah yang berdiri di barisan kaum Materialisme
Jadi pengertian idealisme itu bukanlah seperti yang difitnahkan oleh orang-orang tertentu yaitu bahwa kaum materialis itu adalah orang-orang yang hanya mencari kesenangan hiduptak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, penganut sex bebas dsb-nya. Sedangkan kaum Idealis adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kesucian, lebih mementingkan berpikir dari pada makan, dll.
a. Filsafat Idealisme
Idealisme ialah filsafat yang pandangan yang menganggap atau memandang ide itu primer dan materi adalah sekundernya, dengan kata lain menganggap materi berasal dari ide atau diciptakan oleh ide.
Dengan David Hume sebagai filsuf idealis subyektif, kita dapat menggambarkan seluruh ahli filsafat idealis dari Plato sampai Hegel, “if I go into myself”, “kalau saya memasuki diri saya sendiri”, kata Hume, maka saya jumpai “bundles of conception”, bermacam pengertian, bermacam-macam gambaran tentang benda. “Engkau”, kata Hume cuma “ide” bagi saya (Hume).
Tapi “Engkau” buat Hume adalah saya buat Udin, misalnya. Jadi Udin bagi Hume hanyalah “Ide”, tetapi Hume juga cuma “ide” buat Udin, Udin dipandang dari pihak Hume hanya Ide, hanya gambaran di otak Hume begitu juga sebaliknya. Dengan begitu Hume membatalkan dirinya sendiri , mengakui bahwa dia sendiri tidak ada dan, hanya ide ???
Terhadap adanya pandangan idealisme demikian itu, Lenin dengan tajam mengeritik idealisme sebagai filsafat yang tanpa otak dan dikonsolidasikan oleh kepentingan klas-klas yang berkuasa -- klas-klas pemilik budak, kaum feodal dan kaum borjuasi --.
Aliran-aliran dalam filsafat Idealisme
1. Idealisme Obyektif
Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik tolak dari ide universil (Absolute Idea- Hegel / LOGOS-nya Plato) ide diluar ide manusia. Menurut idealisme obyektif segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil.
Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materiil, yang ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Dalam bentuknya yang amat primitif pandangan ini menyatakan bentuknya dalam penyembahan terhadap pohon, batu dsb-nya.
Akan tetapi sebagai suatu system filsafat, pandangan dunia ini pertama-tama kali disistimatiskan oleh Plato (427-347 S.M), menurut Plato dunia luar yang dapat di tangkap oleh panca indera kita bukanlah dunia yang riil, melainkan bayangan dari dunia “idea” yang abadi dan riil. Pandangan dunia Plato ini mewakili kepentingan klas yang berkuasa pada waktu itu di Eropa yaitu klas pemilik budak. Dan ini jelas nampak dalam ajarannya tentang masyarakat “ideal”.
Pada jaman feodal, filsafat idealisme obyektif ini mengambil bentuk yang dikenal dengan nama Skolastisisme, system filsafat ini memadukan unsur idealisme Aristoteles (384-322 S.M), yaitu bahwa dunia kita merupakan suatu tingkatan hirarki dari seluruh system hirarki dunia semesta, begitupun yang hirarki yang berada dalam masyarakat feodal merupakan kelanjutan dari dunia ke-Tuhanan. Segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini maupun dalam alam semesta merupakan “penjelmaan” dari titah Tuhan atau perwujudan dari ide Tuhan. Filsafat ini membela para bangsawan atau kaum feodal yang pada waktu itu merupakan tuan tanah besar di Eropa dan kekuasaan gereja sebagai “wakil” Tuhan didunia ini. Tokoh-tokoh yang terkenal dari aliran filsafat ini adalah: Johannes Eriugena (833 M), Thomas Aquinas (1225-1274 M), Duns Scotus (1270-1308 M), dsb.
Kemudian pada jaman modern sekitar abad ke-18 muncullah sebuah system filsafat idealisme obyektif yang baru, yaitu system yang dikemukakan oleh George.W.F Hegel (1770-1831 M). Menurut Hegel hakekat dari dunia ini adalah “ide absolut”, yang berada secara absolut dan “obyektif” didalam segala sesuatu, dan tak terbatas pada ruang dan waktu. “Ide absolut” ini, dalam prosesnya menampakkan dirinya dalam wujud gejala alam, gejala masyarakat, dan gejala fikiran. Filsafat Hegel ini mewakili klas borjuis Jerman yang pada waktu itu baru tumbuh dan masih lemah, kepentingan klasnya menghendaki suatu perubahan social, menghendaki dihapusnya hak-hak istimewa kaum bangsawan Junker. Hal ini tercermin dalam pandangan dialektisnya yang beranggapan bahwa sesuatu itu senantiasa berkembang dan berubah tidak ada yang abadi atau mutlak, termasuk juga kekuasaan kaum feodal. Akan tetapi karena kedudukan dan kekuatannya masih lemah itu membuat mereka tidak berani terang-terangan melawan filsafat Skolatisisme dan ajaran agama yang berkuasa ketika itu.
Pikiran filsafat idealisme obyektif ini dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam bentuk. Perwujudan paling umum antara lain adalah formalisme dan doktriner-isme. Kaum doktriner dan formalis secara membuta mempercayai dalil-dalil atau teori sebagai kekuatan yang maha kuasa , sebagai obat manjur buat segala macam penyakit, sehingga dalam melakukan tugas-tugas atau menyelesaikan persoalan-persoalan praktis mereka tidak bisa berfikir atau bertindak secara hidup berdasarkan situasi dan syarat yang kongkrit, mereka adalah kaum “textbook-thingking”.
2. Idealisme Subyektif
Idealisme subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide manusia.
Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah seorang uskup inggris yang bernama George Berkeley (1684-1753 M), menurut Berkeley segala, sesuatu yang tertangkap oleh sensasi/perasaan kita itu bukanlah bukanlah materiil yang riil dan ada secara obyektif. Sesuatu yang materiil misalkan jeruk, dianggapnya hanya sebagai sensasi-sensasi atau kumpulan perasaan/konsepsi tertentu (“bundles of conception” David Hume (1711-1776 M), -ed), yaitu perasaan / konsepsi dari rasa jeruk, berat, bau, bentuk dsb. Dengan demikian Berkeley dan Hume menyangkal adanya materi yang ada secara obyektif, dan hanya mengakui adanya materi atau dunia yang riil didalam fikirannya atau idenya sendiri saja.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari filsafat ini adalah, kecenderungan untuk bersifat egoistis “Aku-isme” yang hanya mengakui yang riil adalah dirinya sendiri yang ada hanya “Aku”, segala sesuatu yang ada diluar selain “Aku” itu hanya sensasi atau konsepsi-konsepsi dari “Aku”. Untuk berkelit dari tuduhan egoistis dan mengedepankan “Aku-isme/solipisme” Berkeley menyatakan hanya Tuhan yang berada tanpa tergantung pada sensasi.
Filsafat Berkeley dan Hume ini adalah filsafat Borjuasi besar Inggris pada abad ke-18, yang merupakan kekuatan reaksioner menentang materialisme klasik Perancis, sebagai manifestasi dari kekuatiran atas revolusi di Inggris pada waktu itu.
Pada abad ke-19, Idealisme subyektif mengambil bentuknya yang baru yang terkenal dengan nama “Positivisme”, yang di kemukakan pertama kali oleh Aguste Comte (1798-1857 M), menurutnya hanya “pengalaman”-lah yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya , selain dari pada itu tidak ada lagi kenyataan, dunia adalah hasil ciptaan dari pengalaman, dan ilmu hanya bertugas untuk menguraikan pengalaman itu. Dan masih banyak lagi pemikir-pemikir yang lainnya dalam filsafat ini, misalnya saja William Jones (1842-1910 M) dan John Dewey (1859-1952), keduanya berasal dari Amerika Serikat dan pencetus ide “pragmatisme”, menurut mereka Pragmatisme adalah suatu filsafat yang menggunakan akibat-akibat praktis dari ide-ide atau keyakinan-keyakinan sebagai suatu ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenarannya. Filsafat seperti ini sangat menekankan pada pandangan individualistic, yang mengedepankan sesuatu yang mempunyai keuntungan atau “cash-value”(nilai kontan)-lah yang dapat diterima oleh akal si “Aku” tsb. Pragmatisme berkembang di Amerika dan adalah filsafat yang mewakili kaum borjuasi besar di negeri yang katanya “the biggest of all”. Sebab dari pandangan filsafat seperti ini Imperialisme, tindakan eksploitasi dan penindasan dapat dibenarkan selama dapat mendapatkan keuntungan untuk si “Aku”.
Pandangan-pandangan idealisme subyektif dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tidak jarang kita temui perkataan-perkataan seperti ini :
“Baik buruknya keadaan masyarakat sekarang tergantung pada orang yang menerimanya, ialah baik bagi mereka yang menganggapnya baik dan buruk bagi mereka yang menganggapnya buruk.”
“kekacauan sekarang timbul karena orang yang duduk dipemerintahan tidak jujur, kalau mereka diganti dengan orang-orang yang jujur maka keadaan akan menjadi baik.”
“aku bisa, kau harus bisa juga,” dsb.
b. Filsafat Materialisme
Materialisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari pada materi (benda). Materialisme memandang bahwa benda itu primer sedangkan ide ditempatkan di sekundernya. Sebab materi ada terlebih dahulu baru ada ide. Pandangan ini berdasakan atas kenyataan menurut proses waktu dan zat.
Misal, menurut proses waktu, lama sebelum manusia yang mempunyai ide itu ada didunia, alam raya ini sudah ada.
Menurut zat, manusia tidak bisa berfikir atau mempunyai ide bila tidak mempunyai otak, otak itu adalah sebuah benda yang bisa dirasakan oleh panca indera kita. Otak atau materi ini yang lebih dulu ada baharu muncul ide dari padanya. Atau seperti kata Marx “Bukan fikiran yang menentukan pergaulan, melainkan keadaan pergaulan yang menentukan fikiran.” Maksudnya sifat/fikiran seorang individu itu ditentukan oleh keadaan masyarakat sekelilingnya, “masyarakat sekelilingnya” –ini menjadi materi atau sebab yang mendorong terciptanya fikiran dalam individu tersebut.
Aliran-aliran dalam materialisme
1. Materialisme Mekanik
Materialisme mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan berubah, geraknya itu adalah gerakan yang mekanis artinya, gerak yang tetap selamanya atau gerak yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.
Materialisme mekanik tersistematis ketika ilmu tentang meknika mulai berkembang dengan pesat, tokoh-tokoh yang terkenal sebagai pengusung materialisme pada waktu itu ialah Demokritus ( 460-370 SM), Heraklitus ( 500 SM) kedua pemikir Yunanai ini berpendapat bahwa aktivitas psikik hanya merupakan gerakan atom-atom yang sangat lembut dan mudah bergerak.
Mulai abad ke-4 sebelum masehi pandangan materialisme primitif ini mulai menurun pengaruhnya digantikan dengan pandangan idealisme yang diusung oleh Plato dan Aristoteles. Sejak itu, 1700 tahun lamanya dunia filsafat dikuasai oleh filsafat idealisme.
Baru pada akhir jaman feodal, sekitar abad ke-17 ketika kaum borjuis sebagai klas baru dengan cara produksinya yang baru, materialisme mekanik muncul dalam bentuk yang lebih modern karena ilmu pengetahuan telah maju sedemikian pesatnya. Pada waktu itu ilmu materialisme ini menjadi senjata moril / idiologis bagi perjuangan klas borjuis melawan klas feodal yang masih berkuasa ketika itu. Perkembangan materialisme ini meluas dengan adanya revolusi industri, di negeri-negeri Eropa. Wakil-wakil dari filsafat materialis pada abad ke-17 adalah Thomas Hobbes(1588-1679 M), Benedictus Spinoza (1632-1677 M) dsb. Aliran filsafat materialisme mekanik mencapai titik puncaknya ketika terjadi Revolusi Perancis pada abad ke-18 yang diwakili oleh Paul de Holbach (1723-1789 M), Lamettrie (1709-1751 M) yang disebut juga materialisme Perancis.
Materialisme Perancis dengan tegas mengatakan materi adalah primer dan ide adalah sekunder, Holbach mengatakan : “materi adalah sesuatu yang selalu dengan cara-cara tertentu menyentuh panca indera kita, sedang sifat-sifat yang kita kenal dari bermacam hal-ichwal itu adalah hasil dari bermacam impresi atau berbagai macam perubahan yang terjadi di alam pikiran kita terhadap hal-ichwal itu”. Materialisme Perancis menyangkal pandangan religus tentang penciptann dunia (Demiurge), yang sebelum itu menguasai alam pikiran manusia.. Bahkan secara terang-terangan Holbach mengatakan “nampaknya agama itu diadakanhanya untuk memperbudak rakyat dan supaya mereka tunduk dibawah kekuasaan raja lalim. Asal manusia merasa dirinya didalam dunia ini sangat celaka, maka ada orang yang datang mengancam mereka dengan kemarahan Tuhan, memakasa mereka diam dan mengarahkan pandangan mereka kelangit, dengan demikian mereka tidak lagi dapat melihat sebab sesungguhnya daripada kemalangannnya itu”.
Materialisme Perancis adalah pandangan yang menganggap segala macam gerak atau gejala-gejala yang terjadi dialam itu dikuasai oleh gerakan mekanika, yaitu pergeseran tempat dan perubahan jumlah saja. Bahkan manusia dan segala aktivitetnya pun dipandang seperti mesin yang bergerak secara mekanik, ini tampak jelas sekali dalam karya Lamettrie yang berjudul “Manusia adalah mesin”. Mereka tidak melihat adanya peranan aktif dari ide atau pikiran terhadap materi. Pandangan ini adalah ciri dan sekaligus kelemahan materialisme Perancis.
2. Materialisme metafisik
Materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena faktor luar atau kekuatan dari luar. Gerak materi itu disebut gerak ekstern atau gerak luar. selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Materialisme metafisik diwakili oleh Ludwig Feurbach, pandangan materialisme ini mengakui bahwa adanya “ide absolut” pra-dunia dari Hegel , adanya terlebih dahulu “kategori-kategori logis” sebelum dunia ada, adalah tidak lain sisa-sisa khayalan dari kepercayaan tentang adanya pencipta diluar dunia; bahwa dunia materiil yang dapat dirasakan oleh panca indera kita adalah satu-satunya realitet.
Tetapi materialisme metafisik melihat segala sesuatu tidak secara keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, atau segala sesuatu itu berdiri sendiri. Dan segala sesuatu yang real itu tidak bergerak, diam.
Pandangan ini mengidamkan seorang manusia suci atau seorang resi suci yang penuh cinta kasih. Feurbach berusaha memindahkan agama lama yang menekankan hubungan manusia dengan Tuhan menjadi sebuah agama baru yaitu hubungan cinta kelamin antara manusia dengan manusia. Seperti kata Feurbach: “Tuhan adalah bayangan manusia dalam cermin”, Feurbach menentang teologi, dalam filsafatnya atau “agama baru”-nya Feurbach mengganti kedudukan Tuhan dengan manusia, pendeknya manusia itu Tuhan. Feurbach tidak melihat peran aktif dari ide dalam perkembangan materi, yang materi bagi Feurbach adalah misalnya, manusia (baca: materi, pen) sedangkan dunia dimana manusia itu tinggal tidak ada baginya, atau menganggap sepi ativitet yang dilakukan manusia/materi tersebut.
Materialisme metafisik menganggap kontradiksi sebagai hal yang irasionil bukan sebagai hal yang nyata, disinilah letak dari idealisme Feurbach. Pandangannya bertolak daripada materialisme tetapi metode penyelidikan yang dipakai ialah metafisis. Metode metafisis inilah yang menjadi kelemahan terbesar bagi materialisme Feurbach.
3. Materialisme dialektis
Materialisme dialektis adalah aliran filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan metodenya dialektis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan lainnya, saling mempengaruhi, dan saling bergantung satu dengan lainnya. Gerak materi itu adalah gerakan yang dialektis yaitu pergerakan atau perubahan menuju bentuk yang lebih tinggi atau lebih maju seperti spiral. Tokoh-tokoh pencetus filsafat ini adalah Karl Marx (1818-1883 M), Friedrich Engels (1820-1895 M).
Gerakan materi itu adalah gerak intern, yaitu bergerak atau berubah karena dorongan dari faktor dalamnya (motive force-nya). Yang disebut “diam” itu hanya tampaknya atau bentuknya, sebab hakikat dari gejala yang tampaknya atau bentuknya “diam” itu isinya tetap gerak, jadi “diam” itu juga suatu bentuk gerak.
Metode yang dipakai adalah dialektika Hegel, Marx mengakui bahwa orang Yunani-lah yang pertama kali menemukan metode dialektika, tetapi Hegel-lah yang mensistematiskan metode tersebut. Tetapi oleh Marx dijungkir balikkan dengan bersandarkan materialisme. Marx dan temannya Engels mengambil materialisme Feurbach dan membuang metodenya yang metafisis sebagai dasar dari filsafatnya. Dan memakai dialektika sebagai metode dan membuang pandangan idealis Hegel.
Dialektika Hegel menentang dan menggulingkan metode metafisis yang selama beabad-abad menguasai lapangan filsafat. Hegel mengatakan “yang penting dalam filsafat adalah metode bukan kesimpulan-kesimpulan mengenai ini dan itu”. Ia menunjukkan kelemahan-kelemahan metafisika :
1. Kaum metafisis memandang sesuatu bukan dari keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, tetapi dipandangnya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sedangkan Hegel memandang dunia sebagai badan kesatuan, segala sesuatu didalamnya terdapat saling hubungan organic.
2. Kaum metafisis melihat segala sesuatu tidak dari geraknya, melainkan sebagai yang diam, mati dan tidak berubah-ubah, sedang Hegel melihat segala sesuatu dari perkembangannya, dan perkembangannya itu disebabkan kontradiksi internal, kaum metafisik berpendapat bahwa: “segala yang bertentangan adalah irasionil”. Mereka tidak tahu bahwa akal (reason) itu sendiri adalah pertentangan.
3. Sumbangan Hegel yang terpenting adalah kritiknya tentang evolusi vulgar, yang pada ketika itu sangat merajalela, dengan mengemukakan teorinya tentang “lompatan” (sprong) dalam proses perkembangan. Sebelum Hegel sudah banyak filsuf yang mengakui bahwa dunia ini berkembang, dan meninjau sesuatu dari proses perkembangannya, tetapi perkembangannya hanya terbatas pada perubahan yang berangsur-angsur (perubahan evolusioner) saja. Sedang Hegel berpendapat dalam proses perlembangan itu pertentangan intern makin mendalam dan meruncing dan pada suati tingkat tertentu perubahan berangsur-angsur terhenti dan terjadilah “lompatan”. Setelah “lompatan” itu terjadi, maka kwalitas sesuatu itu mengalami perubahan.
Akan tetapi dialektika Hegel ini diselimuti dengan kulit mistik, reaksioner, yaitu pandangan idealismenya sehingga dia memutar balikkan keadaan sebenarnya. Hukum tentang dialektika yaitu hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku didunia ini dipandangnya bukan seabagai suatu hal yang obyektif, yang primer melainkan perwujudan dari “ide absolut”. Kulitnya yang reaksioner inilah yang kemudian dibuang oleh Marx, dan isinya yang “rasionil” diambil serta ditempatkan pada kedudukan yang benar.
Sedangkan jembatan antara Marx dan Hegel adalah Feurbach, Materialisme dijadikan sebagai dasar filsafatnya tetapi Feurbach melihat gerak dari penjuru idealisme yang membuat ia berhenti dan membuang dialektika Hegel. Membuat hasil pemeriksaannya terpisah dan abstrak, Marx membuang metode metafisisnya, dan menggantinya dengan dialektika, sehingga menghasilkan sebuah system filsafat baru yang lebih kaya dan lebih sempurna dari pendahulunya.
III. Materi dan Ide
a. Materi.
Materi mempunyai dua pengertian, yaitu arti materi menurut filsafat, dan materi menurut ilmu alam. Materi menurut ilmu alam mempunyai arti yang lebih sempit daripada arti materi menurut filsafat
Materi menurut ilmu alam, ialah segala sesuatu yang mempunyai susunan atau yang tersusun secara organis atau dengan kata lain benda. Benda menurut ilmu alam mempunyai tiga bentuk yaitu benda padat (solid), benda cair (liquid) dan gas (gasceus).
Materi menurut filsafat, ialah segala sesuatu yang bisa ditangkap oleh indera manusia, serta bisa menimbulkan ide-ide tertentu. Dengan begitu pengartian materi menurut filsafat mencakup pula pengertian materi menurut ilmu alam.
Materi mempunyai peranan menetukan ide, materi menimbulkan ide. Ide manusia timbul setelah terlebih dahulu suatu materi ditangkap oleh indera. Sudah jelas yang “memproduksi” ide itu adalah sebuah materi yang sudah mencapai titik perkembangan yang sangat tinggi yang disebut dengan otak.
b. Ide.
Sebagaimana yang diterangkan diatas, materialisme dialektis berpendapat bahwa ide itu dilahirkan dan ditentukan oleh materi, ini mengandung dua pengertian:
1. Dipandang dari proses asalnya ide / pikiran, nyatalah bahwa sensasi (perasaan) itu tidak dilahirkan oeh materi biasa. Melainkan semacam organisme tertentu yang telah mencapai perkembangan yang sangat tinggi dan mempunyai struktur yang sangat complex yang kita sebut sebagai otak. Tanpa otak tidak akan ada pikiran / ide, otak atau system urat syaraf yang sangat kompleks adalah hasil tertinggi dari proses perkembangan alam. Oleh karena itu ide juga merupakanproduk dari proses perkembangan dari alam.
2. Dipandang dari isinya, bagaimanapun ide adalah pencerminan dari kenyataan obyektif. Marx berkata bahwa: “ide tidak lain daripada dunia materiil yang dicerminkan oleh otak manusia, dan diterjemah kan dalam bentuk bentuk pikiran”. Pencerminan itu hanya bisa terjadi dengan adanya kontak langsung antara kesadaran manusia dengan dunia luar, dengan praktek sosial manusia. Oleh karenanya ide juga merupakan produk dari proses perkembangan praktek sosial manusia.
Ide adalah cermin dari materi atau merupakan bentuk lain dari materi. Tetapi ide tidak mesti sama dengan materi, ide dapat menjangkau jauh didepan materi. Walau begitu ide tidak akan dapat lepas dari materi. Materi menentukan ide, sedangkan ide mempunyai peranan aktif terhadap perkembangan materi. Jadi ide mempunyai peranan aktif, tidak pasif seperti pencerminan cermin biasa.
Dengan demikian jelaslah pengertian materialisme dialektis tentang materi dan ide bertentangan dengan paham idealisme yang menganggap ide adalah yang terlebih dahulu ada daripada materi. Materialisme dialektis disatu pihak mengatakan materi ada terlebih dahulu daripada ide, tetapi dipihak lain mengakui peranan aktif daripada ide dalam perkembangan materi, ini mengandung dua pengertian :
1. Seperti dijelaskan diatas ide adalah pencerminan materi, tetapi proses pencerminan itu tidak semudah atau sesimple pencerminan dengan kaca-cermin, yang hanya bisa menjelaskan gejala luar saja. Melainkan melalui pencerminan yang aktif, melalui proses pemikiran yang rumit sehingga dapat mencerminkan kenyataan obyektif sebagaimana adanya, baik mengenal sesuatu itu dari gejala luarnya maupun gejala dalamnya atau hakekat suatu materi. Peranan aktif dari ide inilah yang memungkinkan manusia menyempurnakan alat-alat atau perkakas untuk memperbesar kemampuannya dalam mengenal atau mencerminkan keadaan maupun mengubah keadaan.
2. Peranan aktif ide itu berarti dalam mengenal dan mengubah keadaan itu manusia bertindak dengan sadar, dengan motif atau tujuan tertentu, yaitu untuk memenuhi kebutuhan praktek sosialnya untuk kehidupan.
Ide revolusioner yaitu ide yang mencerminkan hukum-hukum perkembangan keadaan obyektif, memainkan peranan untuk mendorong perkembangan keadaan. Sebaliknya ide reaksioner, ialah ide yang berlawanan dengan hukum-hukum perkembangan keadaan obyektif dan menghambat kemajuan.
Dengan dijelaskannya keprimeran materi dan peranan aktif ide, materialisme dialektis mengajarkan supaya dalam memandang dan memecahkan permasalahan harus bertolak dari kenyataan yang kongkrit dan berdasarkan data-data yang obyektif, dan jangan bersandar pada dugaan-dugaan subyektif dan hanya terpaku pada buku-buku yang mati, dan juga harus ditujukan pada kebutuhan praktek yang kongkrit. Dipihak lain ia memperingatkan kita kepada pentingnya teori, tetapi dipihak lain ia menolak “pendewaan” kepada teori atau dengan kata lain menentang dengan tegas terhadap kedogmatisan.[]
“ Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya ”
Karl Marx, thesis ke-11 tentang Feurbach
Senin, 24 Agustus 2009
Selasa, 14 April 2009
Sosialisme Borjuis Kecil dan Sosialisme Proletar
V. I. Lenin (1905)
Diterbitkan: 7 November (25 Oktober) 1905 dalam Proletary No. 24 dan Collected Works, Volume 9, halaman 438-46
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Progress Publishers, Moskow, USSR, 1966
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim
Dari bermacam doktrin sosialis, Marxisme-lah yang saat ini paling dominan di Eropa. Perjuangan untuk mencapai masyarakat sosialis hampir sepenuhnya dipahami oleh Marxisme sebagai perjuangan kelas buruh di bawah pimpinan partai-partai Sosial-Demokratis. Dominasi sosialisme proletariat ini berdasar pada ajaran Marxisme tidak dicapai seketika, tetapi semata setelah terjadi perjuangan panjang menentang bermacam doktrin usang, sosialisme borjuis kecil, anarkisme dan lain-lain. Sekitar 30 tahun yang lalu Marxisme tidak dominan, sekalipun di Jerman. Pandangan yang berlaku di negara tersebut bersifat transisi, bercampur baur dan eklektis, terletak diantara sosialisme borjuis kecil dan sosialisme proletariat. Doktrin-doktrin yang paling menyebar dikalangan buruh maju di negara-negara Romawi, di Perancis, Spanyol dan Belgia adalah Proudhonisme, Blanquisme [1] dan anarkisme yang nyata-nyata mengekspresikan cara pandang borjuis kecil, bukan proletariat. Apa yang menyebabkan cepat dan tuntasnya kemenangan Marxisme dalam dekade terakhir ini? Ketepatan pandangan Marxis dalam banyak hal telah dibuktikan oleh semua perkembangan masyarakat kontemporer baik ekonomi maupun politik, dan oleh seluruh pengalaman gerakan revolusioner serta perjuangan kelas-kelas tertindas. Kemunduran borjuis kecil, cepat atau lambat, tak dapat dielakkan akan mengakibatkan kepunahan segala macam prasangka borjuis kecil. Sementara itu tumbuhnya kapitalisme dan kian dalamnya perjuangan kelas dalam masyarakat kapitalis jadi agitasi terbaik bagi gagasan sosialisme proletar. Keterbelakangan Rusia itulah pada dasarnya yang bisa menjelaskan tetap kokohnya bermacam doktrin sosialis usang di sana. Seluruh sejarah aliran pemikiran revolusioner Rusia sepanjang perempat terakhir abad 19 adalah sejarah perjuangan Marxisme melawan sosialisme borjuis kecil Narodnik. [2] Meskipun kemajuan pesat dan keberhasilan luar biasa gerakan kelas pekerja Rusia pun sudah berhasil membuahkan kemenangan bagi Marxisme di Rusia tapi berkembangnya sebuah gerakan petani yang jelas revolusioner – khususnya revolusi petani terkenal di Ukraina tahun 1902 [3] - di satu sisi malah membangkitkan lagi Narodnisme kuno. Teori-teori Narodnik yang kuno dengan diwarnai oleh oportunisme Eropa yang populer masa itu (Revisionisme, Bernteinsime [4] dan kritisisme atas Marx), mendadani seluruh persediaan ideologis asli golongan yang umum disebut Sosialis-Revolusioner. [5] Itulah sebabnya mengapa masalah kaum petani menonjol dalam pertentangan Marxis melawan Narodnik sejati maupun golongan sosialis-revolusioner.
Untuk satu hal tertentu, Narodnisme adalah sebuah doktrin yang integral dan konsisten. Narodnisme menolak adanya dominasi kapitalisme di Rusia; menentang peran buruh pabrik sebagai pemimpin garis depan perjuangan kaum proletar; menolak pentingnya sebuah revolusi politik dan kebebasan politik borjuis; ia menyerukan perlu segera dilaksanakannya sebuah revolusi sosialis yang berangkat dari komune petani berikut bentuk-bentuk pertanian kecil-nya. Semua yang masih bertahan dalam teori integral ini sekarang hanyalah serpihan-serpihan saja, tapi untuk secara pandai memahami kontroversi-kontroversi yang berlangsung saat ini,dan menjaga supaya kontroversi itu tidak melorot menjadi sekedar perang mulut, orang semestinya ingat akar-akar Narodnik yang paling dasar dan umum yang sekaligus merupakan akar kesalahan Sosialis-Revolusioner kita.
Kaum Narodnik beranggapan bahwa kaum Muzhik adalah manusia Rusia masa depan. Pandangan ini tak pelak berkembang karena keyakinan mereka pada masa depan kapitalisme. Sedangkan kaum Marxis beranggapan bahwa buruh pekerja adalah manusia masa depan, dan perkembangan kapitalisme Rusia baik di bidang pertanian maupun industri makin menegaskan pandangan mereka. Gerakan kelas pekerja di Rusia telah berhasil memperoleh pengakuan bagi keberadaannya sendiri. Tetapi bagi gerakan petani, masih ada jurang pemisah antara Narodisme dan Marxisme hingga sekarang, yang mana hal ini terungkap dalam penafsiran mereka yang berbeda atas gerakan (petani) ini. Bagi kaum Narodnik, gerakan petani tersebut dengan sendirinya membuktikan kekeliruan Marxisme. Ini adalah gerakan yang bekerja untuk suatu revolusi sosialis yang langsung; gerakan ini tidak mengakui kebebasan politik borjuis; gerakan yang berangkat dari produksi skala kecil dan bukan produksi berskala besar. Singkatnya, bagi kaum Narodnik, gerakan petani lah yang benar-benar sosialis sejati dan segera merupakan gerakan sosialis. Kesetiaan Narodnik pada komune petani dan bentuk tertentu anarkisme Narodnik sepenuhnya bisa menjelaskan mengapa kesimpulan demikian yang selalu terumuskan. Bagi kaum Marxis, gerakan petani adalah gerakan demokratik, bukan gerakan sosialis. Di Rusia, seperti juga kasus di negara-negara lain, gerakan ini pasti sejalan dengan revolusi demokratik, revolusi yang borjuis kandungan sosial ekonominya. Gerakan yang sampai titik akhirnya memang tidak ditujukan untuk menggoyang pondasi tatanan borjuis, menentang prodksi komoditi atau melawan kapital. Sebaliknya gerakan itu ditujukan untuk menentang hubungan pra-kapitalis, hubungan perhambaan kuno di wilayah pedesaan dan melawan tuan-tanahisme, yang menjadi kunci seluruh kelangsungan hidup pemilikan hamba-hamba. Konsekuensinya kemenangan penuh gerakan petani ini tak akan menghapus kapitalisme; malahan sebaliknya, gerakan ini akan menciptakan pondasi lebih luas lagi bagi perkembangan kapitalisme, akan mempercepat serta memperdalam perkembangan kapitalis sejati. Kemenangan penuh pemberontakan kaum petani hanya bisa menciptakan benteng bagi republik demokrasi borjuis, yang didalamnya tumbuh untuk pertama kalinya suatu perjuangan proletariat melawan kehendak borjuasi dalam bentuk yang paling murni. Lantas, ada dua pandangan bertentangan yang harus dimengerti dengan jelas oleh siapapun yang ingin mempelajari jurang perbedaan prinsipil antara Sosialis-Revolusioner dan Sosialis-Demokrat. Merujuk ke salah satu pandangan, gerakan petani adalah gerakan sosialis, sedangkan merujuk ke pandangan lain gerakan petani adalah gerakan borjuis-demokratik. Dengan ini orang bisa lihat betapa gobloknya ungkapan orang-orang Sosialis-Revolusioner kita ketika mereka mengulang beratus kali (lihat, misalnya, dalam Revolutsionnaya Rossiya, no. 75) bahwa Marxis ortodoks telah mengabaikan masalah petani. Hanya ada satu cara untuk memberantas kebodohan berbahaya macam ini dan itu bisa diakukan dengan mengulang ABC; menyusun pandangan-pandangan Narodnik yang secara konsisten sudah kuno itu, dan beratus bahkan beribu kali menekan bahwa perbedaan yang sesungguhnya di antara kita itu tidak terletak pada soal berhasrat atau tidak berhasrat pada masalah petani, juga tidak terletak pada mengakui atau tidak mengakui masalah petani, tapi terletak pada perbedaan penilaian kita atas gerakan petani dan masalah petani saat ini di Rusia. Dia yang berkata bahwa Marxis mengabaikan masalah petani di Rusia adalah, pertama, seorang pengabai absolut. Sebab seluruh tulisan prinsipil Marcis Rusia, mulai dari tulisan Plekhanov Our Differences (muncul kurang lebih 20 tahun yang lalu), telah mencurahkan tenaga untuk menjelaskan kesalahan pandangan-pandangan kaum Narodnik mengenai masalah petani Rusia. Kedua, dia yang menyatakan bahwa Marcis mangabaikan masalah petani jelas menunjukkan hasratnya untuk menghindari keharusan memberi penilaian yang lengkap atas perbedaan prinsipil yang sesungguhnya, memberi jawaban atas pertanyaan apakah gerakan petani sekarang ini adalah gerakan borjuis atau tidak, apakah gerakan itu secara obyektif diarahkan untuk menghancurkan kelangsungan hidup penghambaan atau tidak.
Kaum Sosialis-Revolusioner tidak pernah memberikan, dan tidak selalu dapat memberikan satu jawaban jelas dan tepat pada masalah itu karena mereka menggapai-gapai tanpa harapan di antara pandangan kuno Narodnik dan pandangan Marxis saat ini mengenai masalah petani di Rusia. Kaum Marxis menyatakan bahwa kaum Sosialis-Revolusioner mewakili pendirian kaum borjuis kecil (mereka adalah ideolog kaum borjuis kecil) dengan alasan yang kuat bahwa mereka tidak dapat membersihkan diri dari ilusi-ilusi kaum borjuis kecil dan bayangan Narodnik dalam menilai gerakan buruh tani.
Itulah sebabnya mengapa kita mengulang ABC sekali lagi. Untuk apakah perjuangan kaum petani di Rusia saat ini? Untuk tanah dan kebebasan. Arti penting apa yang bakal dimiliki oleh seluruh kemenangan gerakan ini? Setelah meraih kemerdekaan, gerakan tersebut akan menghapuskan kekuasaan para tuan tanah dan birokrasi dalam adiminstrasi negara. Setelah berhasil menjaga tanah, gerakan itu akan memberikan tanah para tuan tanah kepada para petani. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah dari para tuan tanah tersebut juga berarti penghapusan produksi komoditi? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah tersebut mengganti bentuk pertanian individual dengan bentuk rumah tangga petani atas dasar, tanah komunal, atau tanah yang "disosialkan"? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah menjembatani jurang dalam yang memisahkan petani kaya, yang memiliki sekian kuda dan sapi, dari pertanian-cangkulan, buruh harian, misalnya: jurang pemisah antara borjuis petani dengan proletar pedesaan? Tidak, tidak akan! Sebaliknya, makin tuntas sosial-estate (para Tuan Tanah) yang paling tinggi itu dienyahkan dan dilenyapkan maka akan makin dalamlah perbedaan kelas antara borjuis dan proletariat. Apakah yang secara obyektif bakal punya arti dengan adanya kemenangan penuh kebangkitan perlawanan buruh tani? Kemenangan tersebut akan menghilangkan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, tetapi sama sekali tidak menghancurkan sistem ekonomi borjuis atau menghancurkan kapitalisme atau menghancurkan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas – ke dalam golongan kaya dan miskin, borjuis dan proletar. Mengapa gerakan petani saat ini adalah gerakan borjuis-demokratik? Karena setelah menghancurkan kekuasaan birokrasi dan tuan-tuan tanah, gerakan itu akan menyusun sebuah sistem masyarakat demokratik, tapi bagaimanapun juga, itu dilakukan tanpa mengubah pondasi borjuis dari masyarakat demokratis tersebut, tanpa menghapuskan kekuasaan kapital. Bagaimanakah seharusnya buruh berkesadaran kelas, kaum sosialis, memandang gerakan petani saat ini? Ia harus mendukung gerakan ini, menolong petani dalam kondisi yang paling bertenaga, menolong mereka menyingkirkan tuntas segala kekuasaan birokrasi dan kekuasaan tuan-tuan tanah. Bagaimanapun, pada saat yang sama mereka harus menjelaskan kepada para petani bahwa tidak cukup cuma merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah. Ketika mereka merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah tersebut, saat itu juga mereka harus bersiap untuk menghapuskan kekuasaan kapital, kekuasaan borjuis, dan untuk maksud ini maka suatu doktrin yang sepenuhnya berwatak sosialis; yaitu Marxist, harus segera disebar, proletariat pedesaan harus dipersatukan, digalang bersama dan diorganisir untuk perjuangan melawan borjuis petani dan semua borjuis Rusia. Dapatkah seorang buruh yang berkesadaran kelas melupakan perjuangan demokratik demi perjuangan sosalis, atau melupakan perjuangan sosialis demi perjuangan demokratik? Tidak, seorang buruh yang berkesadaran kelas akan menyebut dirinya seorang sosial demokrat karena ia memahami kaitan dua perjuangan tersebut. Dia tahu bahwa tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan jalan menuju sosialisme selain melalui demokrasi, kebebasan politik. Karenanya ia berjuang mencapai demokrasi sepenuhnya dan sekonsisten mungkin untuk mencapai tujuan puncak – sosialisme. Mengapa kondisi untuk perjuangan demokratik tidak sama dengan kondisi untuk perjuangan sosialis? Karena para buruh pekerja pasti akan memiliki sekutu yang berbeda di masing-masing dua perjuangan ini. Perjuangan demokratik dilakukan oleh buruh bersama dengan satu bagian dari borjuis, khususnya borjuis kecil. Di lain pihak, perjuangan sosialis dilakukan oleh buruh pekerja melawan seluruh borjuasi. Perjuangan melawan birokrat dan para tuan tanah dapat dan harus dilakukan bersama-sama dengan seluruh petani, bahkan bersama petani berkecukupan dan petani menengah. Di lain pihak, cuma berjuang bersama proletariat pedesaan sajalah, maka perjuangan melawan borjuis, dan karenanya juga berarti melawan petani berkecukupan, bisa diakukan dengan tepat. Bila kita selalu mengingat semua kebenaran Marxis yang elementer ini, yang oleh kaum Sosialis-Revolusioner selalu lebih suka dihindari, maka kita tak akan punya banyak kesulitan dalam menilai keberatan kaum Sosialis-Revolusioner "yang terakhir" atas Marxisme, seperti berikut ini:
"Mengapa itu perlu?" seruan dalam Revolutsionnaya Rossiya (no. 75), "Pertama mendukung kaum petani secara umum dalam melawan para tuan tanah, dan kemudian (yaitu, pada saat yang sama) mendukung kaum proletar menentang seluruh kaum petani, yang sekaligus sebagai ganti dari tindakan mendukung kaum proletar menentang para tuan tanah; dan apa yang Marxisme harus lakukan setelah itu, hanya surga yang tahu."
Ini adalah titik pandang anarkisme paling primitif, yang naif kekanak-kanakan. Selama berabad-abad dan bahkan ribuan tahun, manusia bermimpi melenyapkan "secara sekaligus" segala bentuk dan jenis penghisapan. Mimpi ini tetap sekedar mimpi sampai jutaan orang di seluruh dunia yang dihisap mulai bersatu untuk melakukan perjuangan konsisten, kokoh dan komprehensif merubah masyarakat kapitalis dalam arahan evolusi masyarakat tersebut yang terjadi secara alamiah. Mimpi-mimpi sosialis beralih menjadi perjuangan sosialis berjuta manusia hanya ketika sosialisme ilmiah Marx berhasil mengkaitkan desakan untuk berubah dengan perjuangan dari suatu kelas tertentu. Di luar perjuangan kelas, sosialisme hanyalah ungkapan kosong dan mimpi naif. Bagaimanapun, di Rusia, dua bentuk perjuangan yang berbeda dari dua kekuatan sosial yang berbeda tengah berlangsung di belakang penglihatan kita. Kaum proletar sedang berjuang melawan borjuasi, dimanapun hubungan-hubungan produksi kapitalis itu ada (dan hubungan produksi kapitalis itu ada – ini patut diketahui kaum revolusioner kita – bahkan dalam komune petani, misalnya: di tanah-tanah yang menurut titik pandang mereka telah seratus persenn "disosialisasikan"). Sedang sebagai bagian dari strata pemilik tanah kecil, borjuis kecil, kaum petani berjuang melawan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, melawan birokrat dan para tuan tanah. Hanya mereka yang benar-benar mengabaikan ekonomi politik dan sejarah revolusi-revolusi dunia yang bisa keliru melihat bahwa ini adalah dua perang sosial yang terpisah dan berbeda. Menutup mata terhadap perbedaan perang-perang tersebut dengan cara menuntut suatu gerakan yang "sekaligus" sama saja menyembunyikan kepala di bawah ketiak orang dan menolak membuat analisis realita. Kaum sosialis-revolusioner yang telah kehilangan integritas pandangan-pandangan kuno Narodnik, bahkan telah merupakan ajaran-ajaran Narodnik itu sendiri. Seperti itu-itu juga ditulis dalam Revolutsionnaya Rossiya dalam artikel yang sama: "Dengan menolong kaum petani untuk mengenyahkan tuan tanah, tuan Lenin tanpa sadar sudah membantu berdirinya ekonomi borjuis kecil di atas reruntuhan pertanian kepitalis yang kurang lebih sudah berkembang. Tidakkah ini sebuah "langah mundur" dari titik pandang Marxisme ortodoks?"
Memalukan, saudara-saudara!! Mengapa anda lupa dengan tulisan orang-orang anda sendiri, Mr. V.V.! Periksa tulisannya, Destiny of Capitalism, juga Sketches, tulisan tuan Nikolai-on, [6] dan sumber-sumber lain tentang bijaknya anda. Anda kemudian akan mengingat kembali bahwa pertanian tuan tanah di Rusia itu memadukan dalam dirinya gambaran baik kapitalisme dan pemilikan hamba-hamba. Kemudian anda akan menemukan bahwa terdapat suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada sewa buruh, suatu sistem yang langsung mempertahankan sistem kerja tanpa upah. Jika lebih jauh lagi anda mencari pemecahan kesulitan tersebut pada buku macam Marxis ortodoks, seperti volume ke tiga Kapital-nya Marx, [7] anda akan temui bahwa dimanapun tak ada sistem kerja tanpa upah yang berkembang, dan dimanapun sistem itu tak bisa berkembang serta kemudian berubah menjadi pertanian kapitalis kecuali melalui perantaraan pertanian petani borjuis kecil. Dalam usaha anda menghalau Marxisme, anda malah mundur ke metode yang terlalu primitif, metode yang sudah demikian lampau digunakan; pada Marxisme secara langsung anda memberikan satu konsepsi pertanian kapitalis skala besar yang amat dangkal dan aneh melebihi konsep pertanian skala besar dengan dasar sistem kerja tanpa upah. Anda berpendapat bahwa karena hasil pertanian di tanah milik tuan tanah itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian petani maka perampasan tanah milik tuan tanah adalah suatu langkah yang terbelakang. Argumentasi ini layak dinyatakan oleh seorang anak sekolah dasar kelas 4. Sekedar pertimbangan, Tuan-tuan: memisahkan hasil-rendah tanah petani dari hasil-tinggi perkebunan tuan-tuan tanah ketika perbudakan dihapuskan, tidakkah itu merupakan sebuah "langkah mundur"?
Sistem ekonomi tuan tanah di Rusia saat ini merupakan perpaduan antara ciri-ciri kapitalisme dan pemilikan-perhambaan. Secara obyektif, saat ini perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah adalah perjuangan melawan kelangsungan hidup perhambaan. Tapi mencoba menghitung seluruh kasus individual, mempertimbangkan setiap kasusnya dan menentukan secara tepat dengan ukuran skala seorang ahli obat, untuk menemukan kapan berakhirnya masa pemilikan-perhambaan dan kapitalisme dimulai, itu berarti mencoba menganggap Marxis sama dengan sifat teliti dan cermat. Kita tidak bisa menghitung bagian apa dari harga bahan-bahan yang dibeli dari sebuah toko kecil, yang mewakili nilai lebih dan bagian apa dari harga itu yang mewakili penipuan atas kerja buruh, dan sebagainya. Apakah itu berarti kita harus membuang teori nilai kerja, saudara-saudara?
Ekonomi tuan tanah kontemporer memadukan gambaran kapitalisme dan perhambaan. Tetapi dari kenyataan tersebut hanya ilmuwan saja yang bisa berkesimpulan bahwa inilah tugas kita untuk mempertimbangkan, menghitung dan memaparkan tiap menit gambaran dalam katagori sosial ini dan itu. Oleh karenanya hanya kaum utopialah yang dapat berkesimpulan bahwa, "tidak ada kebutuhan" bagi kita untuk melukiskan perbedaan di antara dua perang sosial yang berbeda. Sehingga sebenarnya, satu-satunya kesimpulan sesungguhnya yang muncul adalah bahwa baik dalam program maupun taktik, kita harus memadukan perjuangan proletariat yang sejati melawan kapitalisme dengan perjuangan demokrasi secara umum (dan petani secara umum) melawan penghambaan.
Makin jelas gambaran kapitalis pada ekonomi tuan tanah semifeodal saat ini, maka makin mendesak keharusan untuk mengorganisir proletariat pedesaan secara terpisah, karena ini akan lebih cepat menolong kapitalis sejati atau proletariat sejati, pihak yang berantagonisme ini menegaskan posisi mereka dimanapun perampasan tanah terjadi. Makin jelas gambaran kapitalis dalam ekonomi tuan tanah, makin cepat perebutan yang demokratik memberi dorongan pada perjuangan yang sesungguhnya untuk sosialisme – dan konsekuensinya, makin bahayanya membangun cita-cita palsu revolusi demokratik melalui pemakaian slogan "sosialisasi". Ini adalah kesimpulan yang ditarik dari kenyataan bahwa ekonomi tuan tanah adalah percampuran antara kapitalisme dan hubungan-hubungan pemilikan-perhambaan.
Jadi kita harus menggabungkan perjuangan proletar yang sejati dengan perjuangan petani pada umumnya, tetapi tidak mencampuradukan keduanya. Kita harus mendukung perjuangan demokratik dan perjuangan petani secara umum, tetapi tidak menenggelamkan diri dalam perjuangan yang tak berwatak kelas itu; kita tidak pernah boleh mencita-citakan perjuangan itu dengan slogan-slogan palsu seperti "sosialisasi", atau melupakan kebutuhan untuk mengorganisir kaum proletariat urban dan pedesaan dalam sebuah partai kelas yang sepenuhnya mandiri dari Sosial-Demokrasi. Sambil memberikan dukungan sepenuhnya para demokratisme yang paling kokoh, partai tersebut tidak akan membolehkan dirinya dialihkan dari jalan revolusioner oleh mimpi-mimpi reaksioner dan usaha coba-coba melakukan "persamaan" dalam sistem produksi komoditi. Perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah saat ini merupakan sebuah perjuangan revolusioner; perampasan tanah-tanah milik para tuan tanah pada tahap sekarang dari suatu evolusi ekonomi dan politik adalah revolusioner dalam setiap seginya dan kita mendukung serta menjaga tindakan Revolusioner-Demokratik ini. Tapi menyebut tindakan ini adalah "sosialisasi", dan menipu dirinya maupun rakyat dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya "persamaan" dalam pola penguasaan tanah di bawah sistem produksi komoditi, merupakan utopia kaum borjuis kecil yang reaksioner, pandangan yang kita letakkan pada kaum Sosialis-Reaksioner.
Catanan
1. Proudhonisme adalah sebuah aliran yang namanya berasal dari nama Pierre Joseph Proudhon (1809-1865), seorang sosialis borjuis kecil dan anarkis Perancis. Meskipun tajam mengkritik masyarakat kapitalis, Proudhon gagal memahami bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri kemiskinan, ketidaksamaan, penghisapan dan kebusukan-kebusukan hubungan kapitalis lainnya adalah dengan menghapuskan hubungan itu. Blanquisme adalah sebuah trend dalam gerakan sosialis Perancis yang diwakili oleh tokoh revolusioner terkemuka dan eksponen komunisme utopia: Louise Auguste Blanqui (1805-1881). Menurut Lenin, kaum Blanquis "mengharapkan umat manusia akan dibebaskan dari perbudakan upah, tidak melalui perjuangan kelas tetapi melalui suatu persekongkolan yang ditumbuhkan oleh sekelompok kecil intelektual." (V. I. Lenin, Collected Works, vol. 10, hal.392).
2. Narodisme adalah sebuah trend borjuis kecil dalam gerakan revolusioner Rusia tahun 1860 an dan 1870 an.
3. Suatu referensi pada aksi-aksi revolusioner kaum petani gubernia Poltava dan Kharkov di wilayah Ukraina (Rusia Kecil) akhir bulan Maret dan awal April 1902. Revolusi-revolusi itu dipercepat oleh kondisi petani yang sangat berat dan diperburuk oleh kegagalan panen dan kelaparan. Kaum petani menyerang tanah-tanah milik tuan-tuan tanah, merampas makanan dan makanan ternak serta menuntut redistribusi tanah. Gerakan ini dipadamkan dengan kekerasan.
4. Bernsteinisme adalah trend oportunis dalam gerakan Sosial Demokrat internasional pada akhir abad 19. Paham tersebut mengambil nama dari seorang revisionis, Eduard Bernstein (1850-1932), pemimpin sayap kanan ekstrim partai Sosialis-Demokrat Jerman dan Internasional kedua. Bernstein menentang perjuangan revolusioner oleh kelas buruh dan diktator proletariat, menyerukan kolaborasi antara golongan proletar dan borjuis dan menggaungkan slogan: "Gerakan adalah segalanya, tujuan akhir bukan apa-apa", yang berarti mengganti perjuangan revolusioner untuk sosialisme dengan perjuangan untuk reformasi dalam kerangka negara borjuis.
5. Sosialis-Revolusioner (S.R.s) adalah sebuah partai borjuis kecil di Rusia yang terbentuk akhir tahun 1901 dan awal tahun 1902. Organ-organ resminya adalah koran Revolutsionnaya Rossiya (Rusia Revolusioner) (1900-1905) dan majalah Vetsnik Russkoi Revolutsii (Majalah Revolusi Rusia) (1901-1905).
6. V.V. adalah nama samaran V.P. Vorontsov, penulis buku Destiny of Capitalism in Russia. Nikolai-on adalah nama samaran N. Danielson, penulis buku Sketches on Our Post-Reform Socialist Economy. Voronstsov dan Danielson adalah idolog Narodisme Liberal di tahun 1880-an dan tahun 1890-an.
7. Lihat Karl Marx, Capital, Volume III, Bab. XVLII ("Genesis of Capitalist Ground-Rent" – "Munculnya sewa tanah kapitalis").
Diterbitkan: 7 November (25 Oktober) 1905 dalam Proletary No. 24 dan Collected Works, Volume 9, halaman 438-46
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Progress Publishers, Moskow, USSR, 1966
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim
Dari bermacam doktrin sosialis, Marxisme-lah yang saat ini paling dominan di Eropa. Perjuangan untuk mencapai masyarakat sosialis hampir sepenuhnya dipahami oleh Marxisme sebagai perjuangan kelas buruh di bawah pimpinan partai-partai Sosial-Demokratis. Dominasi sosialisme proletariat ini berdasar pada ajaran Marxisme tidak dicapai seketika, tetapi semata setelah terjadi perjuangan panjang menentang bermacam doktrin usang, sosialisme borjuis kecil, anarkisme dan lain-lain. Sekitar 30 tahun yang lalu Marxisme tidak dominan, sekalipun di Jerman. Pandangan yang berlaku di negara tersebut bersifat transisi, bercampur baur dan eklektis, terletak diantara sosialisme borjuis kecil dan sosialisme proletariat. Doktrin-doktrin yang paling menyebar dikalangan buruh maju di negara-negara Romawi, di Perancis, Spanyol dan Belgia adalah Proudhonisme, Blanquisme [1] dan anarkisme yang nyata-nyata mengekspresikan cara pandang borjuis kecil, bukan proletariat. Apa yang menyebabkan cepat dan tuntasnya kemenangan Marxisme dalam dekade terakhir ini? Ketepatan pandangan Marxis dalam banyak hal telah dibuktikan oleh semua perkembangan masyarakat kontemporer baik ekonomi maupun politik, dan oleh seluruh pengalaman gerakan revolusioner serta perjuangan kelas-kelas tertindas. Kemunduran borjuis kecil, cepat atau lambat, tak dapat dielakkan akan mengakibatkan kepunahan segala macam prasangka borjuis kecil. Sementara itu tumbuhnya kapitalisme dan kian dalamnya perjuangan kelas dalam masyarakat kapitalis jadi agitasi terbaik bagi gagasan sosialisme proletar. Keterbelakangan Rusia itulah pada dasarnya yang bisa menjelaskan tetap kokohnya bermacam doktrin sosialis usang di sana. Seluruh sejarah aliran pemikiran revolusioner Rusia sepanjang perempat terakhir abad 19 adalah sejarah perjuangan Marxisme melawan sosialisme borjuis kecil Narodnik. [2] Meskipun kemajuan pesat dan keberhasilan luar biasa gerakan kelas pekerja Rusia pun sudah berhasil membuahkan kemenangan bagi Marxisme di Rusia tapi berkembangnya sebuah gerakan petani yang jelas revolusioner – khususnya revolusi petani terkenal di Ukraina tahun 1902 [3] - di satu sisi malah membangkitkan lagi Narodnisme kuno. Teori-teori Narodnik yang kuno dengan diwarnai oleh oportunisme Eropa yang populer masa itu (Revisionisme, Bernteinsime [4] dan kritisisme atas Marx), mendadani seluruh persediaan ideologis asli golongan yang umum disebut Sosialis-Revolusioner. [5] Itulah sebabnya mengapa masalah kaum petani menonjol dalam pertentangan Marxis melawan Narodnik sejati maupun golongan sosialis-revolusioner.
Untuk satu hal tertentu, Narodnisme adalah sebuah doktrin yang integral dan konsisten. Narodnisme menolak adanya dominasi kapitalisme di Rusia; menentang peran buruh pabrik sebagai pemimpin garis depan perjuangan kaum proletar; menolak pentingnya sebuah revolusi politik dan kebebasan politik borjuis; ia menyerukan perlu segera dilaksanakannya sebuah revolusi sosialis yang berangkat dari komune petani berikut bentuk-bentuk pertanian kecil-nya. Semua yang masih bertahan dalam teori integral ini sekarang hanyalah serpihan-serpihan saja, tapi untuk secara pandai memahami kontroversi-kontroversi yang berlangsung saat ini,dan menjaga supaya kontroversi itu tidak melorot menjadi sekedar perang mulut, orang semestinya ingat akar-akar Narodnik yang paling dasar dan umum yang sekaligus merupakan akar kesalahan Sosialis-Revolusioner kita.
Kaum Narodnik beranggapan bahwa kaum Muzhik adalah manusia Rusia masa depan. Pandangan ini tak pelak berkembang karena keyakinan mereka pada masa depan kapitalisme. Sedangkan kaum Marxis beranggapan bahwa buruh pekerja adalah manusia masa depan, dan perkembangan kapitalisme Rusia baik di bidang pertanian maupun industri makin menegaskan pandangan mereka. Gerakan kelas pekerja di Rusia telah berhasil memperoleh pengakuan bagi keberadaannya sendiri. Tetapi bagi gerakan petani, masih ada jurang pemisah antara Narodisme dan Marxisme hingga sekarang, yang mana hal ini terungkap dalam penafsiran mereka yang berbeda atas gerakan (petani) ini. Bagi kaum Narodnik, gerakan petani tersebut dengan sendirinya membuktikan kekeliruan Marxisme. Ini adalah gerakan yang bekerja untuk suatu revolusi sosialis yang langsung; gerakan ini tidak mengakui kebebasan politik borjuis; gerakan yang berangkat dari produksi skala kecil dan bukan produksi berskala besar. Singkatnya, bagi kaum Narodnik, gerakan petani lah yang benar-benar sosialis sejati dan segera merupakan gerakan sosialis. Kesetiaan Narodnik pada komune petani dan bentuk tertentu anarkisme Narodnik sepenuhnya bisa menjelaskan mengapa kesimpulan demikian yang selalu terumuskan. Bagi kaum Marxis, gerakan petani adalah gerakan demokratik, bukan gerakan sosialis. Di Rusia, seperti juga kasus di negara-negara lain, gerakan ini pasti sejalan dengan revolusi demokratik, revolusi yang borjuis kandungan sosial ekonominya. Gerakan yang sampai titik akhirnya memang tidak ditujukan untuk menggoyang pondasi tatanan borjuis, menentang prodksi komoditi atau melawan kapital. Sebaliknya gerakan itu ditujukan untuk menentang hubungan pra-kapitalis, hubungan perhambaan kuno di wilayah pedesaan dan melawan tuan-tanahisme, yang menjadi kunci seluruh kelangsungan hidup pemilikan hamba-hamba. Konsekuensinya kemenangan penuh gerakan petani ini tak akan menghapus kapitalisme; malahan sebaliknya, gerakan ini akan menciptakan pondasi lebih luas lagi bagi perkembangan kapitalisme, akan mempercepat serta memperdalam perkembangan kapitalis sejati. Kemenangan penuh pemberontakan kaum petani hanya bisa menciptakan benteng bagi republik demokrasi borjuis, yang didalamnya tumbuh untuk pertama kalinya suatu perjuangan proletariat melawan kehendak borjuasi dalam bentuk yang paling murni. Lantas, ada dua pandangan bertentangan yang harus dimengerti dengan jelas oleh siapapun yang ingin mempelajari jurang perbedaan prinsipil antara Sosialis-Revolusioner dan Sosialis-Demokrat. Merujuk ke salah satu pandangan, gerakan petani adalah gerakan sosialis, sedangkan merujuk ke pandangan lain gerakan petani adalah gerakan borjuis-demokratik. Dengan ini orang bisa lihat betapa gobloknya ungkapan orang-orang Sosialis-Revolusioner kita ketika mereka mengulang beratus kali (lihat, misalnya, dalam Revolutsionnaya Rossiya, no. 75) bahwa Marxis ortodoks telah mengabaikan masalah petani. Hanya ada satu cara untuk memberantas kebodohan berbahaya macam ini dan itu bisa diakukan dengan mengulang ABC; menyusun pandangan-pandangan Narodnik yang secara konsisten sudah kuno itu, dan beratus bahkan beribu kali menekan bahwa perbedaan yang sesungguhnya di antara kita itu tidak terletak pada soal berhasrat atau tidak berhasrat pada masalah petani, juga tidak terletak pada mengakui atau tidak mengakui masalah petani, tapi terletak pada perbedaan penilaian kita atas gerakan petani dan masalah petani saat ini di Rusia. Dia yang berkata bahwa Marxis mengabaikan masalah petani di Rusia adalah, pertama, seorang pengabai absolut. Sebab seluruh tulisan prinsipil Marcis Rusia, mulai dari tulisan Plekhanov Our Differences (muncul kurang lebih 20 tahun yang lalu), telah mencurahkan tenaga untuk menjelaskan kesalahan pandangan-pandangan kaum Narodnik mengenai masalah petani Rusia. Kedua, dia yang menyatakan bahwa Marcis mangabaikan masalah petani jelas menunjukkan hasratnya untuk menghindari keharusan memberi penilaian yang lengkap atas perbedaan prinsipil yang sesungguhnya, memberi jawaban atas pertanyaan apakah gerakan petani sekarang ini adalah gerakan borjuis atau tidak, apakah gerakan itu secara obyektif diarahkan untuk menghancurkan kelangsungan hidup penghambaan atau tidak.
Kaum Sosialis-Revolusioner tidak pernah memberikan, dan tidak selalu dapat memberikan satu jawaban jelas dan tepat pada masalah itu karena mereka menggapai-gapai tanpa harapan di antara pandangan kuno Narodnik dan pandangan Marxis saat ini mengenai masalah petani di Rusia. Kaum Marxis menyatakan bahwa kaum Sosialis-Revolusioner mewakili pendirian kaum borjuis kecil (mereka adalah ideolog kaum borjuis kecil) dengan alasan yang kuat bahwa mereka tidak dapat membersihkan diri dari ilusi-ilusi kaum borjuis kecil dan bayangan Narodnik dalam menilai gerakan buruh tani.
Itulah sebabnya mengapa kita mengulang ABC sekali lagi. Untuk apakah perjuangan kaum petani di Rusia saat ini? Untuk tanah dan kebebasan. Arti penting apa yang bakal dimiliki oleh seluruh kemenangan gerakan ini? Setelah meraih kemerdekaan, gerakan tersebut akan menghapuskan kekuasaan para tuan tanah dan birokrasi dalam adiminstrasi negara. Setelah berhasil menjaga tanah, gerakan itu akan memberikan tanah para tuan tanah kepada para petani. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah dari para tuan tanah tersebut juga berarti penghapusan produksi komoditi? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah tersebut mengganti bentuk pertanian individual dengan bentuk rumah tangga petani atas dasar, tanah komunal, atau tanah yang "disosialkan"? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah menjembatani jurang dalam yang memisahkan petani kaya, yang memiliki sekian kuda dan sapi, dari pertanian-cangkulan, buruh harian, misalnya: jurang pemisah antara borjuis petani dengan proletar pedesaan? Tidak, tidak akan! Sebaliknya, makin tuntas sosial-estate (para Tuan Tanah) yang paling tinggi itu dienyahkan dan dilenyapkan maka akan makin dalamlah perbedaan kelas antara borjuis dan proletariat. Apakah yang secara obyektif bakal punya arti dengan adanya kemenangan penuh kebangkitan perlawanan buruh tani? Kemenangan tersebut akan menghilangkan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, tetapi sama sekali tidak menghancurkan sistem ekonomi borjuis atau menghancurkan kapitalisme atau menghancurkan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas – ke dalam golongan kaya dan miskin, borjuis dan proletar. Mengapa gerakan petani saat ini adalah gerakan borjuis-demokratik? Karena setelah menghancurkan kekuasaan birokrasi dan tuan-tuan tanah, gerakan itu akan menyusun sebuah sistem masyarakat demokratik, tapi bagaimanapun juga, itu dilakukan tanpa mengubah pondasi borjuis dari masyarakat demokratis tersebut, tanpa menghapuskan kekuasaan kapital. Bagaimanakah seharusnya buruh berkesadaran kelas, kaum sosialis, memandang gerakan petani saat ini? Ia harus mendukung gerakan ini, menolong petani dalam kondisi yang paling bertenaga, menolong mereka menyingkirkan tuntas segala kekuasaan birokrasi dan kekuasaan tuan-tuan tanah. Bagaimanapun, pada saat yang sama mereka harus menjelaskan kepada para petani bahwa tidak cukup cuma merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah. Ketika mereka merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah tersebut, saat itu juga mereka harus bersiap untuk menghapuskan kekuasaan kapital, kekuasaan borjuis, dan untuk maksud ini maka suatu doktrin yang sepenuhnya berwatak sosialis; yaitu Marxist, harus segera disebar, proletariat pedesaan harus dipersatukan, digalang bersama dan diorganisir untuk perjuangan melawan borjuis petani dan semua borjuis Rusia. Dapatkah seorang buruh yang berkesadaran kelas melupakan perjuangan demokratik demi perjuangan sosalis, atau melupakan perjuangan sosialis demi perjuangan demokratik? Tidak, seorang buruh yang berkesadaran kelas akan menyebut dirinya seorang sosial demokrat karena ia memahami kaitan dua perjuangan tersebut. Dia tahu bahwa tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan jalan menuju sosialisme selain melalui demokrasi, kebebasan politik. Karenanya ia berjuang mencapai demokrasi sepenuhnya dan sekonsisten mungkin untuk mencapai tujuan puncak – sosialisme. Mengapa kondisi untuk perjuangan demokratik tidak sama dengan kondisi untuk perjuangan sosialis? Karena para buruh pekerja pasti akan memiliki sekutu yang berbeda di masing-masing dua perjuangan ini. Perjuangan demokratik dilakukan oleh buruh bersama dengan satu bagian dari borjuis, khususnya borjuis kecil. Di lain pihak, perjuangan sosialis dilakukan oleh buruh pekerja melawan seluruh borjuasi. Perjuangan melawan birokrat dan para tuan tanah dapat dan harus dilakukan bersama-sama dengan seluruh petani, bahkan bersama petani berkecukupan dan petani menengah. Di lain pihak, cuma berjuang bersama proletariat pedesaan sajalah, maka perjuangan melawan borjuis, dan karenanya juga berarti melawan petani berkecukupan, bisa diakukan dengan tepat. Bila kita selalu mengingat semua kebenaran Marxis yang elementer ini, yang oleh kaum Sosialis-Revolusioner selalu lebih suka dihindari, maka kita tak akan punya banyak kesulitan dalam menilai keberatan kaum Sosialis-Revolusioner "yang terakhir" atas Marxisme, seperti berikut ini:
"Mengapa itu perlu?" seruan dalam Revolutsionnaya Rossiya (no. 75), "Pertama mendukung kaum petani secara umum dalam melawan para tuan tanah, dan kemudian (yaitu, pada saat yang sama) mendukung kaum proletar menentang seluruh kaum petani, yang sekaligus sebagai ganti dari tindakan mendukung kaum proletar menentang para tuan tanah; dan apa yang Marxisme harus lakukan setelah itu, hanya surga yang tahu."
Ini adalah titik pandang anarkisme paling primitif, yang naif kekanak-kanakan. Selama berabad-abad dan bahkan ribuan tahun, manusia bermimpi melenyapkan "secara sekaligus" segala bentuk dan jenis penghisapan. Mimpi ini tetap sekedar mimpi sampai jutaan orang di seluruh dunia yang dihisap mulai bersatu untuk melakukan perjuangan konsisten, kokoh dan komprehensif merubah masyarakat kapitalis dalam arahan evolusi masyarakat tersebut yang terjadi secara alamiah. Mimpi-mimpi sosialis beralih menjadi perjuangan sosialis berjuta manusia hanya ketika sosialisme ilmiah Marx berhasil mengkaitkan desakan untuk berubah dengan perjuangan dari suatu kelas tertentu. Di luar perjuangan kelas, sosialisme hanyalah ungkapan kosong dan mimpi naif. Bagaimanapun, di Rusia, dua bentuk perjuangan yang berbeda dari dua kekuatan sosial yang berbeda tengah berlangsung di belakang penglihatan kita. Kaum proletar sedang berjuang melawan borjuasi, dimanapun hubungan-hubungan produksi kapitalis itu ada (dan hubungan produksi kapitalis itu ada – ini patut diketahui kaum revolusioner kita – bahkan dalam komune petani, misalnya: di tanah-tanah yang menurut titik pandang mereka telah seratus persenn "disosialisasikan"). Sedang sebagai bagian dari strata pemilik tanah kecil, borjuis kecil, kaum petani berjuang melawan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, melawan birokrat dan para tuan tanah. Hanya mereka yang benar-benar mengabaikan ekonomi politik dan sejarah revolusi-revolusi dunia yang bisa keliru melihat bahwa ini adalah dua perang sosial yang terpisah dan berbeda. Menutup mata terhadap perbedaan perang-perang tersebut dengan cara menuntut suatu gerakan yang "sekaligus" sama saja menyembunyikan kepala di bawah ketiak orang dan menolak membuat analisis realita. Kaum sosialis-revolusioner yang telah kehilangan integritas pandangan-pandangan kuno Narodnik, bahkan telah merupakan ajaran-ajaran Narodnik itu sendiri. Seperti itu-itu juga ditulis dalam Revolutsionnaya Rossiya dalam artikel yang sama: "Dengan menolong kaum petani untuk mengenyahkan tuan tanah, tuan Lenin tanpa sadar sudah membantu berdirinya ekonomi borjuis kecil di atas reruntuhan pertanian kepitalis yang kurang lebih sudah berkembang. Tidakkah ini sebuah "langah mundur" dari titik pandang Marxisme ortodoks?"
Memalukan, saudara-saudara!! Mengapa anda lupa dengan tulisan orang-orang anda sendiri, Mr. V.V.! Periksa tulisannya, Destiny of Capitalism, juga Sketches, tulisan tuan Nikolai-on, [6] dan sumber-sumber lain tentang bijaknya anda. Anda kemudian akan mengingat kembali bahwa pertanian tuan tanah di Rusia itu memadukan dalam dirinya gambaran baik kapitalisme dan pemilikan hamba-hamba. Kemudian anda akan menemukan bahwa terdapat suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada sewa buruh, suatu sistem yang langsung mempertahankan sistem kerja tanpa upah. Jika lebih jauh lagi anda mencari pemecahan kesulitan tersebut pada buku macam Marxis ortodoks, seperti volume ke tiga Kapital-nya Marx, [7] anda akan temui bahwa dimanapun tak ada sistem kerja tanpa upah yang berkembang, dan dimanapun sistem itu tak bisa berkembang serta kemudian berubah menjadi pertanian kapitalis kecuali melalui perantaraan pertanian petani borjuis kecil. Dalam usaha anda menghalau Marxisme, anda malah mundur ke metode yang terlalu primitif, metode yang sudah demikian lampau digunakan; pada Marxisme secara langsung anda memberikan satu konsepsi pertanian kapitalis skala besar yang amat dangkal dan aneh melebihi konsep pertanian skala besar dengan dasar sistem kerja tanpa upah. Anda berpendapat bahwa karena hasil pertanian di tanah milik tuan tanah itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian petani maka perampasan tanah milik tuan tanah adalah suatu langkah yang terbelakang. Argumentasi ini layak dinyatakan oleh seorang anak sekolah dasar kelas 4. Sekedar pertimbangan, Tuan-tuan: memisahkan hasil-rendah tanah petani dari hasil-tinggi perkebunan tuan-tuan tanah ketika perbudakan dihapuskan, tidakkah itu merupakan sebuah "langkah mundur"?
Sistem ekonomi tuan tanah di Rusia saat ini merupakan perpaduan antara ciri-ciri kapitalisme dan pemilikan-perhambaan. Secara obyektif, saat ini perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah adalah perjuangan melawan kelangsungan hidup perhambaan. Tapi mencoba menghitung seluruh kasus individual, mempertimbangkan setiap kasusnya dan menentukan secara tepat dengan ukuran skala seorang ahli obat, untuk menemukan kapan berakhirnya masa pemilikan-perhambaan dan kapitalisme dimulai, itu berarti mencoba menganggap Marxis sama dengan sifat teliti dan cermat. Kita tidak bisa menghitung bagian apa dari harga bahan-bahan yang dibeli dari sebuah toko kecil, yang mewakili nilai lebih dan bagian apa dari harga itu yang mewakili penipuan atas kerja buruh, dan sebagainya. Apakah itu berarti kita harus membuang teori nilai kerja, saudara-saudara?
Ekonomi tuan tanah kontemporer memadukan gambaran kapitalisme dan perhambaan. Tetapi dari kenyataan tersebut hanya ilmuwan saja yang bisa berkesimpulan bahwa inilah tugas kita untuk mempertimbangkan, menghitung dan memaparkan tiap menit gambaran dalam katagori sosial ini dan itu. Oleh karenanya hanya kaum utopialah yang dapat berkesimpulan bahwa, "tidak ada kebutuhan" bagi kita untuk melukiskan perbedaan di antara dua perang sosial yang berbeda. Sehingga sebenarnya, satu-satunya kesimpulan sesungguhnya yang muncul adalah bahwa baik dalam program maupun taktik, kita harus memadukan perjuangan proletariat yang sejati melawan kapitalisme dengan perjuangan demokrasi secara umum (dan petani secara umum) melawan penghambaan.
Makin jelas gambaran kapitalis pada ekonomi tuan tanah semifeodal saat ini, maka makin mendesak keharusan untuk mengorganisir proletariat pedesaan secara terpisah, karena ini akan lebih cepat menolong kapitalis sejati atau proletariat sejati, pihak yang berantagonisme ini menegaskan posisi mereka dimanapun perampasan tanah terjadi. Makin jelas gambaran kapitalis dalam ekonomi tuan tanah, makin cepat perebutan yang demokratik memberi dorongan pada perjuangan yang sesungguhnya untuk sosialisme – dan konsekuensinya, makin bahayanya membangun cita-cita palsu revolusi demokratik melalui pemakaian slogan "sosialisasi". Ini adalah kesimpulan yang ditarik dari kenyataan bahwa ekonomi tuan tanah adalah percampuran antara kapitalisme dan hubungan-hubungan pemilikan-perhambaan.
Jadi kita harus menggabungkan perjuangan proletar yang sejati dengan perjuangan petani pada umumnya, tetapi tidak mencampuradukan keduanya. Kita harus mendukung perjuangan demokratik dan perjuangan petani secara umum, tetapi tidak menenggelamkan diri dalam perjuangan yang tak berwatak kelas itu; kita tidak pernah boleh mencita-citakan perjuangan itu dengan slogan-slogan palsu seperti "sosialisasi", atau melupakan kebutuhan untuk mengorganisir kaum proletariat urban dan pedesaan dalam sebuah partai kelas yang sepenuhnya mandiri dari Sosial-Demokrasi. Sambil memberikan dukungan sepenuhnya para demokratisme yang paling kokoh, partai tersebut tidak akan membolehkan dirinya dialihkan dari jalan revolusioner oleh mimpi-mimpi reaksioner dan usaha coba-coba melakukan "persamaan" dalam sistem produksi komoditi. Perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah saat ini merupakan sebuah perjuangan revolusioner; perampasan tanah-tanah milik para tuan tanah pada tahap sekarang dari suatu evolusi ekonomi dan politik adalah revolusioner dalam setiap seginya dan kita mendukung serta menjaga tindakan Revolusioner-Demokratik ini. Tapi menyebut tindakan ini adalah "sosialisasi", dan menipu dirinya maupun rakyat dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya "persamaan" dalam pola penguasaan tanah di bawah sistem produksi komoditi, merupakan utopia kaum borjuis kecil yang reaksioner, pandangan yang kita letakkan pada kaum Sosialis-Reaksioner.
Catanan
1. Proudhonisme adalah sebuah aliran yang namanya berasal dari nama Pierre Joseph Proudhon (1809-1865), seorang sosialis borjuis kecil dan anarkis Perancis. Meskipun tajam mengkritik masyarakat kapitalis, Proudhon gagal memahami bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri kemiskinan, ketidaksamaan, penghisapan dan kebusukan-kebusukan hubungan kapitalis lainnya adalah dengan menghapuskan hubungan itu. Blanquisme adalah sebuah trend dalam gerakan sosialis Perancis yang diwakili oleh tokoh revolusioner terkemuka dan eksponen komunisme utopia: Louise Auguste Blanqui (1805-1881). Menurut Lenin, kaum Blanquis "mengharapkan umat manusia akan dibebaskan dari perbudakan upah, tidak melalui perjuangan kelas tetapi melalui suatu persekongkolan yang ditumbuhkan oleh sekelompok kecil intelektual." (V. I. Lenin, Collected Works, vol. 10, hal.392).
2. Narodisme adalah sebuah trend borjuis kecil dalam gerakan revolusioner Rusia tahun 1860 an dan 1870 an.
3. Suatu referensi pada aksi-aksi revolusioner kaum petani gubernia Poltava dan Kharkov di wilayah Ukraina (Rusia Kecil) akhir bulan Maret dan awal April 1902. Revolusi-revolusi itu dipercepat oleh kondisi petani yang sangat berat dan diperburuk oleh kegagalan panen dan kelaparan. Kaum petani menyerang tanah-tanah milik tuan-tuan tanah, merampas makanan dan makanan ternak serta menuntut redistribusi tanah. Gerakan ini dipadamkan dengan kekerasan.
4. Bernsteinisme adalah trend oportunis dalam gerakan Sosial Demokrat internasional pada akhir abad 19. Paham tersebut mengambil nama dari seorang revisionis, Eduard Bernstein (1850-1932), pemimpin sayap kanan ekstrim partai Sosialis-Demokrat Jerman dan Internasional kedua. Bernstein menentang perjuangan revolusioner oleh kelas buruh dan diktator proletariat, menyerukan kolaborasi antara golongan proletar dan borjuis dan menggaungkan slogan: "Gerakan adalah segalanya, tujuan akhir bukan apa-apa", yang berarti mengganti perjuangan revolusioner untuk sosialisme dengan perjuangan untuk reformasi dalam kerangka negara borjuis.
5. Sosialis-Revolusioner (S.R.s) adalah sebuah partai borjuis kecil di Rusia yang terbentuk akhir tahun 1901 dan awal tahun 1902. Organ-organ resminya adalah koran Revolutsionnaya Rossiya (Rusia Revolusioner) (1900-1905) dan majalah Vetsnik Russkoi Revolutsii (Majalah Revolusi Rusia) (1901-1905).
6. V.V. adalah nama samaran V.P. Vorontsov, penulis buku Destiny of Capitalism in Russia. Nikolai-on adalah nama samaran N. Danielson, penulis buku Sketches on Our Post-Reform Socialist Economy. Voronstsov dan Danielson adalah idolog Narodisme Liberal di tahun 1880-an dan tahun 1890-an.
7. Lihat Karl Marx, Capital, Volume III, Bab. XVLII ("Genesis of Capitalist Ground-Rent" – "Munculnya sewa tanah kapitalis").
Sabtu, 21 Februari 2009
Spontanitas Massa dan Kesadaran Kaum Sosial Demokrat
Karl Marx
Sudah kita katakan bahwa gerakan kita, yang jauh lebih luas dan mendalam daripada gerakan pada tahun-tahun 70-an, harus dijiwai oleh tekad tulus ikhlas dan energi yang sama seperti yang menjiwai gerakan pada waktu itu. Memang, sampai kini kiranya tak seorang pun meragukan bahwa kekuatan gerakan dewasa ini terletak pada kebangkitan massa (terutama proletariat industri) dan bahwa kelemahannya terletak pada ketidak cukupan kesadaran dan inisiatif di kalangan para pemimpin revolusioner.
Akan tetapi di waktu akhir-akhir ini telah didapat suatu penemuan yang sangat mengagumkan, yang mengancam akan meruntuhkan semua pandangan yang berlaku selama ini mengenai soal tersebut. Penemuan ini didapat oleh Raboceye Dyelo, yang dalam berpolemik dengan Iskra dan Zarya tidak membatasan diri pada keberatan-keberatan mengenai bagian-bagian tersendiri-sendiri, tetapi mencoba membawa “perbedaan-perbedaan pendapat umum” ke akar yang lebih mendalam –ke ”penilaian yang berbeda mengenai arti relatif unsur spontan dan unsur ‘berencana’ secara sadar”. Tesis tuduhan Raboceye Dyelo berbunyi : “peremehan arti penting unsur obyektif atau unsur spontan perkembangan" [*1]. Mengenai ini kami mengatakan : jika polemik dengan Iskra dan Zarya tidak membawa hasil lain apapun kecuali mendorong Raboceye Dyelo sampai pada ide tentang “perbedaan-perbedaan pendapat umum”, maka hasil ini saja akan memberikan banyak kepuasan kepada kita, begitu penting tesis ini dan begitu terang ia menyoroti seluruh inti sari perbedaan-perbedaan pendapat di bidang teori dan politik dewasa ini yang ada di kalangan kaum sosial-demokrat Rusia.
Itulah sebabnya masalah hubungan antara kesadaran dengan spontanitas mempunyai arti penting umum yang maha besar, dan itulah sebabnya masalah ini harus dibicarakan secara panjang lebar.
A. PERMULAAN KEBANGKITAN YANG SPONTAN
Dalam bab di muka sudah kita tunjukkan betapa umumnya kegairahan pemuda terpelajar Rusia pada teori Marxisme dalam pertengahan tahun-tahun 90-an. Sekitar waktu itu juga pemogokan-pemogokan buruh yang terjadi sesudah perang industri yang terkenal di Petersburg pada tahun 1896 bersifat merata juga. Menjalarnya pemogokan-pemogokan buruh ini ke seluruh Rusia menunjukan dengan jelasnya betapa dalam kebangkitan kembali gerakan rakyat, dan jika kita hendak berbicara tentang “unsur spontan” itu maka, sudah barang tentu, gerakan inilah yang pertama-tama harus dianggap sebagai spontan. Tetapi kan spontanitas yang satu berbeda dengan yang lain. Pemogokan-pemogokan terjadi di Rusia baik dalam tahun-tahun 70-an maupun 60-an (dan bahkan dalam paro pertama abad ke 19) yang dibarengi dengan penghancuran mesin-mesin “secara spontan”, dan sebagainya. Dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” ini maka pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an bahkan boleh disebut “sadar’, sedemikian besar langkah maju yang telah dibuat oleh gerakan buruh pada waktu itu. Ini menunjukan kepada kita bahwa “unsur spontan” pada hakekatnya tidak kurang dan tidak lebih merupakan kesadaran dam bentuk embrio. Kerusuhan-kerusuhan yang primitifpun sudah mngungkapkan kebangkitan kesadaran sampai batas tertentu: kaum buruh kehilangan kepercayaan mereka yang sudah lama sekali pada kelanggengan sistem yang menindas mereka, mereka mulai….saya tak akan mengatakan mengerti, tetapi mulai merasakan perlunya perlawanan kolektif dan tegasnya mencampakkan kepatuhan budak kepada sep-sep mereka. Tetapi ini bagaimanapun juga lebih banyak merupakan manifestasi rasa putus asa dan balas dendam daripada perjuangan. Pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an itu memperlihatkan kepada kita kilasan-kilasan kesadaran yang jauh lebih besar; tuntutan-tuntutan tertentu diajukan, diperhitungkan sebelumnya saat yang menguntungkan; kejadian-kejadian dan contoh-contoh yang terkenal ditempat-tempat lain didiskusikan, dan sebagainya. Kalau kerusuhan-kerusuhan semata-mata pemberontakan kaum tertindas, maka pemogokan-pemogokan yang sistematis sudah merupakan sudah merupakan merupakan embrio perjuangan klas, tetapi hanya embrio saja. Dilihat dari pemogokan-pemogokan ini hanyalah perjuangan trade-unionis, tetapi belum merupakan perjuangan sosial-demokratis. Pemogokan-pemogokan ini menandakan bangkitnya anatagonisme antara kaum buruh dengan kaum majikan, tetapi pada kaum buruh tidak ada dan tidak mungkin ada kesadaran mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan yang tak terdamaikan dengan seluruh sistem politik dan sosial modern, yaitu kesadaran mereka belum merupakan kesadaran sosial-demokratis. Dalam arti ini, pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an, kendatipun kemajuannya yang besar jika dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” itu, tetap merupakan gerakan spontan belaka.
Sudah kita katakan bahwa pada kaum buruh tidak mungkin ada kesadaran sosial demokratis. Kesadaran sosial-demokratis itu hanya dapat dimasukkan dari luar. Sejarah semua negeri menunjukkan bahwa klas buruh, dengan usahanya sendiri semata-mata, hanya dapat mengembangkan kesadaran trade-unionis saja, yaitu keyakinan akan perlunya menggabungkan diri dalam perserikatan-perserikatan, melancarkan perjuangan melawan kaum majikan, dan berusaha keras memaksa pemerintah mengeluarkan undang-undang yang diperlukan kaum buruh, dan sebagainya. [*2] Tetapi ajaran sosialisme lahir dari teori-teori filsafat, sejarah dan ekonomi yang diciptakan oleh wakil-wakil terpelajar klas-klas bermilik, kaum intelektual. Menurut kedudukan sosial mereka, pendiri-pendiri sosialisme ilmiah modern, Marx dan Engels sendiri termasuk intelejensia borjuis. Persis begitu pula di Rusia ajaran-ajaran teori sosial-demokrasi timbul terlepas sama sekali dari pertumbuhan spontan gerakan buruh, ia timbul sebagai hasil yang wajar dan tak terelakan dari perkembangan pikiran dikalangan intelejensia sosialis revolusioner. Pada waktu yang sedang kita bicarakan ini, yaitu pada pertengahan tahun-tahun 90-an, ajaran ini tidak hanya merupakan program yang dirumuskan secara sempurna dari grup Pembebasan Kerja, tetapi juga telah menarik ke pihaknya matoritas pemuda revolusioner di Rusia.
Dengan demikian terdapat baik kebangkitan spontan massa buruh, keinsafan untuk hidup secara sadar dan berjuangan secara sadar, maupun pemuda revolusioner yang bersenjatakan teori sosial-demokratis, yang berusaha keras untuk berhubungan dengan kaum buruh. Dalam hubungan ini teristimewa penting menyebut kenyataan yang sering dilupakan (dan relatif sedikit diketahui) bahwa kaum sosial-demokrat yang pertama pada periode itu dengan bersemangat melakukan agitasi ekonomi (dan dengan sepenuhnya memperhatikan dalam hal ini petunjuk-petunjuk yang betul-betul berguna yang termuat dalam brosur Tentang Agitasi yang ketika itu masih berupa naskah), mereka bukan hanya tidak memandang agitasi ekonomi sebagai satu-satunya tugas mereka, tetapi sebaliknya, sejak dari awal mula mereka juga mengajukan tugas-tugas sejarah yang paling luas dari sosial-demokrasi Rusia pada umumnya, dan tugas dan menggulingkan otokrasi pada khususnya. Misalnya, sudah pada akhir tahun 1895 grup sosial-demokrat Petersburg, yang mendirikan Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh [44], mempersiapkan nomor pertama surat kabar yang dinamakan Raboceye Dyelo . Nomor yang sudah siap sepenuhnya untuk cetak ini disita oleh gendarme yang pada tanggal 8 malam menjelang tanggal 9 Desember 1895 mengerebek rumah salah seorang anggota grup tersebut, yaitu Anatoli Alekseyewic [*3], maka itu Raboceye Dyelo yang orisinil itu ditakdirkan tidak melihat dunia. Tajuk rencana surat kabar ini (yang barang kali kira-kira tigapuluh tahun kemudian salah satu Ruskaya Starina [45] akan membongkarnya dari arsip Jawatan Kepolisian) melukiskan tugas-tugas sejarah klas buruh Rusia dan menempatkan pencapaian kemerdekaan politik dideretan paling depan tugas-tugas ini. Selanjutnya terdapat artikel”apakah yang Dipikirkan Oleh Menteri-menteri Kita?" [*4] yang membahas pembubaran komite-komite PBH oleh kepolisian, dan beberapa surat tidak hanya dari Petersburg tetapi juga dari tempat-tempat lain di Rusia (misalnya, sepucuk surat tentang serangan berdarah terhadap kaum buruh di Provinsi Yaroslav). Dengan demikian, jika kami tidak salah, “usaha pertama”, kaum sosial demokrat Rusia pada tahun-tahun 90-an ini, bukanlah surat kabar yang bersifat lokal yang sempit, lebih-lebih bukan surat kabar yang bersifat “ekonomi”, melainkan surat kabar yang bertujuan menyatukan perjuangan pemogokan dengan gerakan revolusioner melawan otoktrasi, dan menarik semua orang yang ditindas oleh obskurantisme [46] reaksioner supaya mendukung soaial-demokrasi. Tak seorangpun yang sedikit saja mengenal keadaan gerakan pada waktu itu bisa menyangsikan bahwa surat kabar yang demikian itu pasti akan mendapat simpati penuh dikalangan kaum buruh di ibukota dan intelegensia revolusioner dan oplahnya pasti akan besar sekali. Kegagalan usaha itu hanyalah menunjukkan bahwa kaum sosial-demokrat pada masa itu tidak sanggup memenuhi tuntutan-tuntutan mendesak pada saat itu karena mereka kurang pengalaman revolusioner dan latihan praktis. Demikian juga harus dikatakan mengenai S. Petersburgski Raboci Listok [47] dan terutama mengenai Rabocaya Gazeta dan mengenai Manifesto Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia yang didirikan dalam musim semi tahun 1898.Sudah barang tentu tidak terlintas dalam kepala kami untuk menyalahkan para aktivis pada kala itu karena ketidaksiapan ini. Tetapi untuk menggunakan pengalaman gerakan itu dan untuk menarik pelajaran praktis dari pengalaman itu, kita harus memahami sedalam-dalamnya sebab-sebab dan arti penting kekurangan ini atau kekurangan itu. Karena itu sangatlah penting menunjukkan bahwa sebagian (mungkin bahkan mayoritas) dari kamusosial-demokrat, yang melakukankegiatan pada tahun-tahun 1895-1898, sepenuhnya tepatmenganggap mungkin bahkan pada waktu itu, pada awal mula gerakan "spontan" itu, untuk tampil dengan program yang sangat luas dan taktik militan [*5].
Ketidaksiapan pada mayoritas kaum revolusioner, yang merupakan gejala yang sepenuhnya wajar, tak dapat menimbulkan kekuatiran-kekuatiran khusus apapun. Karena tugas-tugas sudah ditetapkan dengan tepat, karena ada enerzi untuk usaha-usaha yang berulangulang guna melaksanakan tugas-tugas ini, maka kegagalan-kegagalan sementara bukan bencana yang begitu besar. Pengalaman revolusioner dan kecakapan berorganisasi adalah hal-hal yang dapat diperoleh asalkan ada hasrat untuk memperolehnya, asalkan kekurangan-kekurangan itu disadari --yang dalam usaha revolusioner merupakan lebih dari separo pengkoreksian kekurangan-kekurangan itu!
Tetapi bencana yang tidak begitu besar itu menjadi bencana yang nyata ketika kesadaran ini mulai menjadi kabur (dan kesadaran ini sangat hidup di kalangan aktivis-aktivis dari grup tersebut diatas), ketika muncul orang-orang -- dan bahkan organ-organ sosial-demokrat -- yang bersedia memandang kekurangan-kekurangan ini sebagai kebajikan, yang bahkan mencoba memberi dasar teori bagi pembungkukkan dan pemujaan kepada spontanitas. Sudahlah tiba waktunya untuk menyimpulkan aliran ini, yang inti sarinya secara sangat tidak tepat dan terlalu sempit melukiskan sebagi konsepsi "ekonomisme".
B. PEMUJAAN KEPADA SPONTANITAS. RABOCAYA MISL
Sebelum membicarakan manifestasi pemujaan ini dalam literatur, kami ingin menyebutkan kenyataan khas yang berikut (yang sampai kepada kita sumber tersebut diatas), yang sedikit menyoroti bagaimana dua aliran yang bakal bentrokan dalam sosial demokrat Rusia timbul dan tumbuh di kalangan kawan-kawan yang bekerja di Peterburg. Pada awal tahun 1897, sebelum pembuangan mereka, A.A Waneyev dan beberapa orang kawannya mengunjungi sutu rapat khusus [48], dimana berkumpul anggota-anggota "tua" dan "muda" Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh. Pembicaraan berpusat terutama disekitar organisasi dan khususnya sekitar "anggaran dasar untuk dana buruh", yang dalam bentuknya yang difinitif dimuat dalam Listok Rabotnika [49] No.9-10, hal 46. Perbedaan pendapat yang tajam segera tersingkap antara anggota-anggota tua (kaum "Desembris", sebagaimana kaum sosial-demokrat Petersburg secara bergurau menamakan mereka) dengan beberapa anggota "muda" (yang kemudian dengan aktif ambil bagian dalam Rabocaya Mils), dan segera berkobarlah diskusi yang hangat. Anggota-anggota "muda" mempertahankan prinsip-prinsip pokok anggaran dasar dalam bentuk sebagaimana telah disiarkan. Anggota-anggota "tua" mengatakan bahwa yang dibutuhkan pertama-tama sama sekali bukanlah ini, melainkan pengkonsolidasian Liga Perjuangan menjadi sebuah organisasi kaum revolusioner, dan berbagai dana buruh, lingkaran propaganda pemuda pelajar dan lain-lain, harus tunduk kepada organisasi itu. Tak usah dikatakan lagi kiranya bahwa orang-orang yang berdebat itu jauh darai membayangkan bahwa perbedaan pendapat ini adalah permulaan dari perpisahan; sebaliknya mereka menganggapnya sebagai bersifat berdiri sendiri dan kebetulan. Tetapi kenyataan ini menunjukan bahwa di Rusia "ekonomisme" juga timbul dan meluas bukan sama sekali tanpa perjuangan menentang kaum sosial-demokrat "tua" (ini sering dilupakan oleh kaum ekonomis yang sekarang). Dan jika, pada pokoknya, perjuangan ini tidak meninggalkan bekas-bekas "dokumenter", ini semata-mata karena susunan keanggotaan lingkaran-lingkaran yang bekerja waktu itu mengalami perubahan yang begitu sering sehingga tak ada kontinuitas dan karena itu perbedaan-perbedaan pendapat itu tidak tercatat dalam dokumen apapun.
Terbitnya Rabocaya Misl menyingkap ekonomisme, tetapi juga tidak sekaligus. Kita harus membayangkan sendiri secara konkrit syarat-syarat bekerja dan sifat pendek umur mayoritas lingkaran-lingkaran Rusia (dan hanya mereka yang telah mengalaminya dapat membayangkan secara konkrit), agar dapat mengerti betapa banyak hal yang bersifat kebetulan terdapat dalam sukses-sukses dan kegagalan-kegagalan aliran baru itu di berbagai kota, dan betapa lama baik pendukung-pendukung maupun lawan-lawan aliran "baru" ini tidak dapat mengambil keputusan --memang mereka tidak mempunyai kesempattan sama sekali untuk memutuskan-- mengenai apakah ini benar-benar suatu aliran yang khas atau hanya suatu pengungkapan ketidaksiapan perorangan-perorangan tertentu. Misalnya, nomor-nomor pertama stensilan dari Rabocaya Misl bahkan sama sekali tidak diketahui mayoritas besar kaum sosial-demokrat, dan jika sekarang kita dapat mengutuf tajuk rencana nomor pertamanya, ini hanyalah karena tajuk rencana itu dimuat kembali dalam artikel W.I. [50] (Listok Rabotnika No. 9-10, hlm.47 dan berikutnya) yang sudah tentu tidak lupa menyanjung-nyanjung dengan bersemangat --bersemangat tanpa akal-- surat kabar baru itu yang begitu berbeda dari surat-surat kabar dan rencana surat-surat kabar yang kami sebutkan diatas [*6]. Dan tajuk rencana ini patut dibicarakan karena ia begitu menonjol mengungkapkan seluruh jiwa Rabocaya Misl dan ekonomisme pada umumnya.
Sesudah menyatakan bahwa tangan "simanset biru"[51] tak akan dapat menahan perkembangan gerakan buruh, tajuk rencana itu seterusnya mengatakan: "……. Daya hidup gerakan buruh sedemikian karena kaum buruh itu sendiri akhirnya memegang nasib mereka dalam tangan mereka sendiri dengan merebutnya dari tangan para pemimpin", dan tesis dasar ini dikembangkan lebih lanjut secara terperinci. Sebetulnya pemimpin-pemimpin (yaitu sosial demokrat, organisator-organisator Liga Perjuangan) itu, boleh dikatakan direnggut oleh polisi dari tangan kaum buruh [*7]; tetapi digambarkan seolah-seolah kaum buruh melakukan perjuangan melawan para pemimpin dan membebaskan diri dari penindasan mereka. Bukannya menyerukan maju ke arah konsolidasi organisasi revolusioner dan kearah perluasan aktivitas politik, malah mengeluarkan seruan mundur ke perjuangan trade-unionis semata-mata. Dinyatakan bahwa "dasar ekonomi dari gerakan dibarengkan oleh usaha untuk selama-lamanya tidak melupakan cita-cita politik", dan bahwa semboyan gerakan buruh ialah "berjuang untuk perbaikan keadaan ekonomi" (!) atau lebih baik lagi, "Buruh untuk Buruh". Dinyatakan bahwa dana pemogokan "lebih berharga bagi gerakan daripada seratus organisasi lain" (bandingkan pernyataan ini yang dikeluarkan dalam bulan Oktober 1897 dengan perdebatan anatar kaum "Desembris" dengan anggota-anggota muda pada awal tahun 1897), dan sebagainya. Semboyan-semboyan seperti: kita harus memusatkan perhatian bukan pada "sari" kaum buruh melainkan pada buruh "rata-rata", pada massa buruh; "politik selalu mengikuti ekonomi dengan patuh"[*8] dan sebagainya dan sebagainya menjadi mode dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat atas massa pemuda yang tertarik pada gerakan tetapi yang dalam kebanyakan hal hanya tahu Marxisme sepotong-sepotong, Marxisme yang diuraikan secara legal.
Ini merupakan penindihan sepenuhnya kesadaran oleh spontanitas --spontanitas kaum "sosial-demokrat" yang mengulang-ulangi "ide-ide" Tuan W.W, spontanitas buruh-buruh yang terpesona oleh argumen-argumen bahwa tambahan satu kopek untuk setiap rubel lebih berharga daripada segala sosialisme dan segala politik dan bahwa mereka harus melancarkan "perjuangan dengan mengetahui bahwa mereka berjuang bukan untuk sesuatu generasi yang akan datang melainkan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka" (tajuk rencana Rabocaya Misl No.1). Kata-kata seperti itu selalu menjadi senjata yang paling disukai kaum borjuis Eropa Barat yang karena membenci sosialisme berusaha keras (seperti "Sosial-Politiker" Jerman Hirsch) untuk memindahkan trade-unionis Inggris ke tanah air mereka dan mengkhotbahkan kepada kaum buruh bahwa perjuangan serikat buruh semata-mata [*9] adalah justru perjuangan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, dan bukan untuk sesuatu generasi yang akan datang dan sesuatu sosialisme yang akan datang. Dan sekarang "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia" telah mulai mengulang-ulangi kata-kata burjuis. Disini penting menyebutkan tiga keadaan yang akan berguna bagi kita dalam menganalisa lebih lanjut perbedaan-perbedaan pendapat dewasa ini [*10].
Pertama-tama, penindihan kesadaran oleh spontanitas, yang telah kita sebutkan diatas , juga terjadi secara spontan. Ini tampaknya seperti persilatan lidah tetapi, sayang ini adalah kebenaran yang pahit. Ia terjadi bukan sebagai perjuangan secara terbuka antara dua pendirian yang sama sekali berlawanan, dimana yang satu menang atas yang lain, tetapi ia terjadi karena semakin banyak jumlah "orang tua" -orang revolusioner yang "direnggut" oleh gendarme dan karena semakin banyak jumlah orang "muda" "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia" muncul diatas panggung. Setiap orang yang --tak akan saya katakan telah mengambil bagian dalam gerakan Rusia dewasa ini,tetapi sekurang-kurangnya telah menghirup udaranya --tahu betul bahwa memang demikianlah halnya. Dan jika kami sekalipun demikian teristimewa mendesak supaya pembaca menjadi jelas sepenuhnya mengenai kenyataanyang sudah umum diketahui ini, dan jika kami demi kejelasan, begitulah, mengutip bahan-bahan mengenai Raboceye Dyelo terbitan pertama dan mengenai perdebatan antara kaum "tua" dengan kaum "muda" pada awal tahun 1897-- ini adalah karena orang-orang berspekulasi dengan ketidaktahuan rakyat umum (atau para pemuda yang masih remaja sekali) mengenai kenyataan ini dan membangga-banggakan "demokratisme" mereka. Kami akan kembali lagi kepada hal ini nanti.
Kedua, dalam manifestasi yang pertama di bidang sastra dari ekonomisme, kita sudah dapat melihat gejala yang sangat istimewa dan yang sangat khas untuk memahami semua perbedaan pendapat dikalangan kaum sosial-demokrat dewasa ini, bahwa pengikut-pengikut "gerakan buruh semata-mata", para pemuja hubungan yang paling erat dan paling "organik" ( istilah yang dipakai Raboceye Dyelo) dengan perjuangan proletar, lawan-lawan dari segala intelegensia non buruh (walaupun itu intelegensia sosialis) terpaksa, guna mempertahankan pendirian mereka, menggunakan argumen-argumen "kaum trade-unionis semata-mata" yang borjuis. Ini menunjukkan bahwa sejak awal mula Rabocaya Misl mulai --secara sadar-- melaksanakan program Credo. Ini menunjukkan (sesuatu yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh Raboceye Dyelo) bahwa segala pemujaan kepada spontanitas gerakan buruh, segala peremehan peranan "unsur sadar", peranan sosial-demokrasi, terlepas sama sekali apakah orang-orang yang meremehkan itu suka atau tidak, berarti memperkuat pengaruh ideologi burjuis di kalangan kaum buruh. Semua yang berbicara tentang "penilaian terlalu tinggi arti penting ideologi" [*11], tentang membesar-besarkan peranan unsur sadar [*12], dan sebagainya membayangkan bahwa gerakan buruh murni dengan sendirinya dapat dan akan menghasilkan ideologi yang bebas bagi dirinya sendiri, asal saja kaum buruh "merebut nasib mereka dari tangan para pemimpin". Tetapi ini adalah kesalahan besar. Untuk melengkapi apa yang telah disebutkan diatas, kita akan mengutip lagi kata-kata yang tepat dan penting sekali yang diucapkan K. Kautsky tentang rancangan program baru Partai Sosial-Demokrat Austria [*13]:
"banyak kritikus revisionis kita berpendapat bahwa Marx menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dan perjuangan klas tidak hanya menciptakan syarat-syarat untuk produksi sosialis, tetapi juga, dan secara langsung, melahirkan kesadaran (kursif dari K.K) tentang keharusan produksi sosialis. Dan para kritikus ini menegaskan bahwa Inggris , negeri yang paling berkembang secara kapitalis, lebih jauh daripada negeri lain manapun dari kesadaran ini. Berdasarkan rancangan itu, orang bisa mengira bahwa pandangan yang katanya Marxisme-ortodoks ini, yang dengan cara yang ditunjukkan diatas sudah terbantah , disetujui juga oleh komisi yang menyusun program Austria itu. Dalam rancangan program itu tercantum: 'semakin berkembang kapitalisme semakin bertambah besar jumlah proletariat, proletariat akan semakin dipaksa dan memperoleh kemampuan untuk melancarkan perjuangan melawan kapitalisme, Proletariat menjadi sadar akan kemungkinan dan keharusan sosialisme. Dalam hubungan ini kesadaran sosialis tampak sebagai hasil yang semestinya dan langsung dari perjuangan klas proletariat. Tetapi sama sekali tidak benar. Tentu saja sosialisme, sebagai ajaran, bersumber pada hubungan-hubungan ekonomi modern sebagaimana perjuangan klas proletariat dan sebagaimana yang tersebut belakangan, timbul dari perjuangan menentang kemiskinan dan kesengsaraan massa yang diciptakan oleh kapitalisme, tetapi sosialisme dan perjuangan kelas timbul berdampingan satu dengan yang lainnya dan bukannya yang satu timbul dari yang lain: masing-masing dibawah syarat-syarat yang berbeda. Kesadaran sosialis modern dapat timbul hanya atas dasar pengetahuan ilmiah yang mendalam. Memang, ilmu ekonomi modern merupakan suatu syarat bagi produksi sosialis sama halnya seperti, misalnya, teknologi modern, dan proletarian tak dapat menciptakan yang satu atau yang lainnya, bagaimanapun juga ia menginginkannya: kedua-duanya timbul dari proses sosial modern. Pembawa ilmu bukanlah proletariat, melainkan intelegensia borjuis (kursif dari K.K): dalam otak anggota-anggota perorangan dari lapisan inilah lahir sosialisme modern, dan merekalah yang menyampaikannya kepada orang-orang proletas yang menonjol perkembangan inteleknya, yang selanjutnya memasukkannnya kedalam perjuangan klas proletariat dimana syarat-syarat mengijinkannya. Jadi, kesadaran sosialis adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalam perjuangan klas proletariat dari luar (von Aussen Hineingentragenes) dan bukan sesuatu yang timbul dari dalamnya secara spontan (Urwuchsig). Karena itu program Hainfeld yang lama tepat sepenuhnya menyatakan bahwa tugas sosial-demokrasi ialah meresapkan proletariat (secara hurufiah: menjenuhkan proletariat) dengan kesadaran akan kedudukannya dan kesadaran akan tugasnya. Ini tak akan perlu jika kesadaran itu timbul dengan sendirinya dari perjuangan klas. Rancangan yang baru itu menjiplak dalil dalil ini dari propram yang lama, dan membubuhkannya pada dalil tersebut diatas. Tetapi ini sama sekali memutuskan jalannya pikiran…."
Karena tak mungkin ada ideologi bebas yang dikembangkan oleh massa buruh sendiri dalam proses gerakan mereka [*14], maka persoalannya hanyalah demikian : ideologi borjuis atau sosialis. Disini tak ada jalan tengah (karena umat manusia belum menciptakan ideologi "ketiga" manapun, dan lagi pada umumnya dalam masyarakat yang dikoyak-koyak oleh kontradiksi-kontradiksi klas sekali-kali tak akan ada ideologi non-klas atau diatas klas). Karena itu, setiap peremehan ideologi sosialis dan setiap penjauhan diri dari padanya berarti memperkuat ideologi borjuis.Orang berbicara tentang spontanitas, tetapi perkembangan spontan gerakan buruh menuju justru ke arah ketundukannya kepada ideologi borjuis, berjalan justru menurut program Credo, karena gerakan buruh yang spontan adalah trade-unionis, adalah Nur-Gewerkschaftlerei, sedang trade-uninis berarti pembudakan kaum buruh secara ideologi oleh borjuis. Karena itu tugas kita, tugas sosial-demokrasi, ialah memerangi spontanitas, membelokkan gerakan buruh dari aspirasi trade-unionisme yang spontan untuk berlindung dibawah sayap borjuis ini, dan menariknya ke bawah sayap sosial-demokrasi revolusioner. Karena itu kata-kata para penulis surat "ekonomi" dalam Iskra No. 12, yang menyatakan bahwa usaha-usaha yang bagaimanapun dari ideologis yang paling bersemangat tidak akan bisa membelokkan gerakan buruh dari jalan yang ditentukkan oleh saling pengaruh antara unsur-unsur materiil dengan lingkungan materiil, sepenuhnya sama dengan meninggakan sosialisme, dan sekiranya penulis-penulis surat ini sanggup mempertimbangkan apa yang mereka katakan itu dengan tiada takut, dengan konsekwen sepenuhnya, seperti yang mestinya dilakukan oleh setiap orang yang memasuki arena aktivitas kesusasteraan dan aktivitas sosial, maka bagi mereka tidak lain tinggal "mendekapkan tangan yang menganggur di dada yang kosong " dan…. Dan menyerahkan medan aktivitas kepada tuan-tuan sebangsa Tuan Struwe dan Tuan Prokopowic yang menyeret gerakan buruh "menurut garis perlawanan sekecil-kecilnya", yaitu menurut garis trade-unionisme borjuis, atau kepada tuan-tuan sebangsa Tuan Zubatov yang menyeretnya menurut garis "ideologi" kepadrian dan gendarme.
Ingatlah contoh Jerman. Apa jasa bersejarah Lassalle kepada gerakan buruh Jerman? Jasanya ialah bahwa dia membelokkan gerakan itu dari jalan trade-unionisme dan koperasi yang dikhotbahkan orang-orang progresis, jalan yang telah ditempuhnya secara spontan (dengan bantuan yang bersimpati dari Schulze-Delitzsch dan orang-orang sebangsa dia). Untuk memenuhi tugas ini diperlukan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan omongan tentang peremehan unsur spontan, tentang taktik-sebagai proses, tentang saling pengaruh antara unsur-unsur dengan lingkungan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan perjuangan mati-matian melawan spontanitas, dan hanya sesudah perjuangan demikian itu, yang dilancarkan selama bertahun-tahun, barulah dapat, misalnya, mengubah penduduk buruh Berlin dari sebagi sandaran partai progresis menjadi satu benteng terbaik sosial-demokrasi. Dan perjuangan ini sekarangpun sekali-kali belum selesai (sebagimana mungkin nampak bagi mereka yang mempelajari sejarah gerakan Jerman menurut Prokopowic, dan mempelajari filsafat gerakan Jerman menurut Struwe). Sekarangpun klas buruh Jerman, boleh dikatakan, terpecah-belah dalam beberapa ideologi: sebagian kaum buruh terorganisasi dalam serikat-serikat buruh Katolik dan monarkis, sebagian lagi terorganisasi dalam serikat-serikat Buruh Hirsch-Duncker [53], yang didirikan oleh pemuja-pemuja borjuis dari trade-unionisme Inggris, sedang sebagian lagi terorganisasi dalam serikat-serikat buruh sosial-demokratis. Bagian yang terakhir ini tak berhingga lebih banyak daripada semua lainnya, tetapi ideologi sosial-demokratis dapat mencapai keunggulan ini, dan akan dapat mempertahankannya, hanya melalui perjuangan gigih menentang semua ideologi lainnya.
Tetapi mengapa --pembaca akan bertanya-- gerakan yang spontan, gerakan menurut garis perlawanan sekecil-kecilnya, menuju justru ke dominasi ideologi borjuis? Karena alasan yang sederhana yaitu bahwa ideologi borjuis jauh lebih tua menurut asal-usulnya daripada ideologi sosialis; karena ia dikembangkan secara lebih menyeluruh dan karena ia mempunyai sarana penyebaran yang tak berhingga lebih banyaknya [*15]. Dan semakin muda gerakan sosialis itu disuatu negeri, maka semakin keraslah ia harus berjuang menentang segala usaha memperkuat ideologi non-sosialis, dan semakin keraslah kaum buruh harus diperingatkan terhadap penasehat-penasehat jelek yang berteriak-teriak menentang "penilaian terlampau tinggi unsur sedar", dan sebagainya. Penulis-penulis ekonomi itu, seirama denga Raboceye Dyelo, mengecam ketidaktoleran yang khas bagi masa kanak-kanak gerakan itu. Atas ini kita jawab: ya, gerakan kita memang masih dalam masa kanak-kananya, dan agar bisa lebih cepat dewasa, ia harus menjangkiti dengan ketidaktoleranan terhadap orang-orang yang menghambat pertumbuhannnya dengan pemujaan mereka kepada spontanitas. Tak ada yang lebih menggelikan dan lebih merugikan daripada berlagak sebagi "orang tua" yang sudah lama mengalami segala episode perjuangan yang menentukan.
Ketiga, Rabocaya Misl nomor pertama menunjukkan bahwa istilah "ekonomisme" ( yang, tentu saja, tidak kita usulkan supaya dilepaskan sebab bagaimanapun juga sebutan ini sudah berakar) tidak cukup mencerminkan hakekat aliran baru itu. Rabocaya Misl tidak menolak sama sekali perjuangan politik: dalam anggaran dasar untuk dana buruh yang dimuat dalam Rabocaya Misl No.1, ada disebut-sebut tentang perjuangan melawan pemerintah. Hanya saja Rabocaya Misl berpendapat bahwa "politik selalu mengikuti ekonomi dengan patuh" (dan Raboceye Dyelo membuat variasi dari tesis ini ketika, dalam programnya, ia mengatakan bahwa "di Rusia lebih dari negeri lain manapun, perjuangan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari perjuangan politik). Jika dengan politik itu dimaksudkan politik sosial-demokratis, maka dalil-dalil yang diajukan Rabocaya Misl dan Raboceye Dyelo itu salah sama sekali. Perjuangan ekonomi kaum buruh sering sekali berkaitan (meskipun bukan tak terpisahkan) dengan politik borjuis, politik kepaderian, dan lain-lain, sebagaimana sudah kita lihat. Dalil-dalil Raboceye Dyelo itu benar jika dengan politik itu dimaksudkan politik trade-unionis, yaitu hasrat umum semua buruh guna memperoleh dari pemerintah tindakan-tindakan tertentu untuk meringankan kesengsaraan yang menjadi ciri keadaan mereka, tetapi yang tidak melenyapkan keadaan itu, yaitu tindakan-tindakan yang tidak menghapuskan penundukkan kerja kepada kapital. Hasrat ini memang umum bagi trade-unionis Inggris yang bersikap memusuhi sosialisme, bagi kaum buruh Katolik, bagi kaum buruh "Zubatov" , dan sebagainya. Ada bermacam-macam politik. Jadi, kita lihat bahwa Rabocaya Misl lebih memuja spontanitasnya, memuja ketiadaannya akan kesadaran daripada pengingkari perjuangan politik. Walaupun mengakui sepenuhnya perjuangan politik (lebih tepat dikatakan keinginan-keinginan dan tuntutan-tuntutan politik kaum buruh), yang tumbuh secara spontan dari gerakan buruh itu sendiri, Rabocaya Misl sama sekali menolak menyusun secara bebas politik sosial-demokratis yang khas yang sesuai dengan tugas-tugas umum sosialisme dan dengan syarat-syarat dewasa ini di Rusia. Selanjutnya kita akan menunjukkan Raboceye Dyelo juga membuat kesalahan yang sama.
C. GRUP PEMBEBASAN DIRI DAN RABOCEYE DYELO [54]
Kita dengan begitu panjang lebar telah membicarakan tajuk rencana Rabocaya Misl nomor pertama yang tidak banyak diketahui dan sekarang hampir dilupakan orang, karena tajuk rencana ini paling awal dan paling menyolok menyatakan aliran pikiran yang umum yang kemudian muncul sebagi aliran-aliran kecil yang tak terhitung banyaknya. W.I sepenuhnya benar ketika, dalam memuji nomor pertama dan tajuk rencana Rabocaya Misl, dia mengatakan bahwa tajuk rencana tersebut ditulis secara "tajam dan dengan bergelora"(Listok Rabotnika No. 9-10 hal.49). Setiap orang yang percaya pada pendapatnya, yang berpendapat bahwa dia memberikan sesuatu yang baru, menulis "dengan gelora" dan dengan cara yang begitu rupa sehingga pandangan-pandangannya itu tampak menonjol. Hanyalah orang-orang yang biasa berdiri diatas dua perahu yang tidak mempunyai "gelora" sedikitpun, hanya orang-orang yang demikianlah yang bisa kemarin memuji-muji gelora Rabocaya Misl, hari ini menyerang "gelora polemik" lawan-lawan Rabocaya Misl.
Kita tidak akan membicayakan Lampiran Khusus Rabocaya Misl (nanti kita akan berkesempatan, mengenai berbagai hal, menyinggung tulisan ini, yang menyatakan ide-iede kaum ekonomis dengan konsekwen) tetapi hanya dengan singkat akan membicarakan Seruan Grup Pembebasan Diri Buruh ( Maret 1899, dimuat lagi dalam Nakanunye [55] London, No.7 Juli 1899). Penulis-penulis seruan ini tepat sekali mengatakan bahwa "kaum buruh Rusia baru saja bangun, baru saja melihat sekelilingnya, dan secara naluri mencekau alat perjuangan yang pertama dijumpai". Tetapi di sini penulis-penulis itu menarik kesimpulan salah yang sama seperti yang di tarik Rabocaya Misl dengan melupakan bahwa kenalurian adalah kesadaran (spontanitas) yang harus dibantu oleh kaum sosialis, bahwa alat perjuangan "yang pertama dijumpai", dalam masyarakat modern, akan selalu berupa alat perjuangan trade-unionis, dan ideologi "yang pertama dijumpai" akan berupa ideologi (trade-unionis) borjuis. Begitu juga, penulis-penulis ini tidak menolak politik, mereka hanya (hanya!) mengatakan, dengan mengulangi kata-kata yang diucapkan Tuan W.W, bahwa politik adalah bangunan atas, dan oleh karenanya, "agitasi politik harus menjadi bangunan-atas dari agitasi untuk kepentingan perjuangan ekonomi; ia harus tumbuh di atas dasar perjuangan ekonomi ini dan berjalan dibelakangnya".
Adapun Raboceye Dyelo, ia memulai aktivitasnya langsung dengan "membela" kaum ekonomis. Ia betul-betul berbohong dalam nomor pertamanya itu juga ( No. 1, hal 141-142) ketiga ia menyatakan bahwa ia "tidak tahu kawan-kawan muda mana yang dimaksud oleh Akselrod" dalam brosurnya yang terkenal, [*16] dimana ia memperingatkan kaum ekonomis, tetapi Raboceye Dyelo dalam polemik sengit dengan Akselrod dan Plekhanov mengenai kebohongan itu, terpaksa mengakui bahwa ia "dengan menyatakan kebingungan ingin membela semua sosial-demokrat yang lebih muda di luar negeri dari tuduhan yang tidak adil" (Akselrod menuduh kaum ekonomis berpandangan cupet). Sebetulnya tuduhan ini adil sepenuhnya, dan Raboceye Dyelo tahu betul bahwa tuduhan ini antara lain menimpa juga W.I. seorang anggota dewan redaksinya. Sepintas lalu baiklah saya sebutkan bahwa dalam polemik tersebut Akselrod sepenuhnya benar dan Raboceye Dyelo sama sekali salah dalam menafsirkan brosur saya Tugas-Tugas Kaum Sosial-Demokrat Rusia [*17] . Brosur itu ditulis dalam tahun 1897, sebelum Rabocaya Misl terbit, ketika saya berpendapat, dan berhak berpendapat, bahwa haluan semula Liga Perjuangan Petersburg, yang saya lukiskan diatas, adalah haluan yang berdominasi. Dan haluan itu adalah benar-benar haluan yang berdominasi, setidak-tidaknya sampai pertengahan tahun 1898. Karena itu Raboceye Dyelo tidak berhak sedikitpun dalam usahanya membantah adanya dan bahaya ekonomisme, menunjuk kepada brosur yang menyatakan pandangan-pandangan yang didesak oleh pandangan-pandangan "ekonomis" di Petersburg dalam tahun 1897-1898 [*18]
Tetapi Raboceye Dyelo tidak hanya "membela" kaum ekonomis --ia sendiri senantiasa tergelincir kedalam kesalahan-kesalahan mereka yang fundamental. Sumber kekacauan ini terletak dalam pengertian yang bercabang mengenai tesis dalam program Raboceye Dyelo berikut: "kita anggap gejala yang paling penting dari kehidupan Rusia, gejala yang terutama akan menentukan tugas-tugas" "dan watak aktivitas kesusasteraan Perserikatan, ialah gerakan massa buruh (kursif dari Raboceye Dyelo) yang telah timbul dalam tahun-tahun belakangan ini". Bahwasanya gerakan massa merupakan gejala yang paling penting, ini tak dapat dipertengkarkan lagi. Tetapi seluruh persoalannya ialah bagaimana memahami "penentuan tugas" oleh gerakan massa ini. Ini bisa diinterpretasi dengan dua cara: atau dalam arti pemujaan kepada spontanitas gerakan ini, artinya menurunkan peranan sosial-demokrasi menjadi pembudakan belaka kepada gerakan buruh sebagaimana adanya (interpretasi Rabocaya Misl, Grup Pembebasan Diri dan kaum ekonomis lainnya); atau dalam arti bahwa gerakan massa mengajukan kepada kita tugas-tugas baru di bidang teori, politik dan organisasi, yang jauh lebih rumit daripada tugas-tugas yang dapat memuaskan kita dalam periode sebelum timbulnya gerakan massa. Raboceye Dyelo telah dan masih cenderung justru ke interpretasi yang pertama, karena ia tidak mengatakan apapun yang tegas tentang sesuatu tugas baru, melainkan terus-menerus memperbincangkan seolah-olah "gerakan massa" ini justru membebaskan kitadari keharusan menyadari dengan jelas dan menyelesaikan tugas-tugas yang diajukannya kepada kita. Cukup ditunjukkan bahwa Raboceye Dyelo mengangap tidak mungkin menentukan penggulingan otokrasi sebagai tugas pertama gerakan massa buruh, dan bahwa ia memerosotkan tugas ini (demi kepentingan gerakan massa) menjadi tugas perjuangan untuk tuntutan-tuntutan politik yang terdekat (Jawaban, hal. 25) .
Akan kami lewati artikel B. Kricevski, redaktur Raboceye Dyelo, yang berjudul "Perjuangan Ekonomi dan Politik Dalam Gerakan Rusia", yang dimuat dalam surat kabar itu No.7, yang mengulangi kesalahan-kesalahan [*19] itu juga, dan langsung beralih Raboceye Dyelo No.10. Tentu saja, kita tidak akan menguraikan secara terperinci berbagai kebertan yang diajukan B. Kreicevski dan Martinov terhadap Zarya dan Iskra.Yang menarik perhatian kita disini semata-mata pendirian prinsipiil yang dibentangkan oleh Raboceye Dyelo No.10. Misalnya, kita tidak akan mengupas keanehan --bahwa Raboceye Dyelo melihat suatu 'kontradiksi yang diametral" antara dalil:
"Sosial-demokrasi tidak mengikat tangannya, tidak membatasi aktivitas-aktivitasnya pada sesuatu rencana atau metode perjuangan politik yang telah dipertimbangkan sebelumnya; ia mengakui semua alat perjuangan selama alat-alat perjuangan itu sesuai dengan kekuatan yang ada pada partai", dan seterusnya (Iskra. No.1) [56]
dengan dalil :
"Tanpa organisasi yang kuat, yang berpengalam dalam perjuangan politik dalam segala keadaan dan dalam segala periode, maka tak mungkin berbicara tentang rencana aktivitas yang sistematis yang diterangi dengan prinsip-prinsip yang teguh dan yang dilaksanakan dengan gigih, yang merupakan satu-satunya yang patut dinamakan taktik" (Iskra No.4) [57]
Mencampuradukkan pengakuan, dalam prinsip, atas segala alat perjuangan, atas segala rencana dan metode, selama hal-hal ini bermanfaat --dengan tuntutan supaya pada saat politik tertentu kita berpedoman pada rencana yang dilaksanakan dengan teguh, jika kita hendak mempersoalkan taktik, ini berarti sama dengan mencampuradukkan pengakuan ilmu kedokteran atas berbagai cara pengobatan dengan tuntutan berpegang teguh pada satu cara pengobatan tertentu untuk penyakit tertentu. Akan tetapi soalnya ialah bahwa Raboceye Dyelo, walaupun ia sendiri mengidap penyakit yang telah kita namakan memuja-muja spontanitas, tidak mau mengakui "cara pengobatan" apapun untuk penyakit itu. Karena itu, ia telah membuat penemuan yang istimewa bahwa "taktik- sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme" (No. 10, hal.18), bahwa taktik adalah "proses pertumbuhan tugas-tugas Partai yang tumbuh bersama dengan Partai" (hal.11, kursif dari Raboceye Dyelo). Ucapan yang terakhir ini mempunyai segala kemungkinan untuk menjadi peribahasa yang terkenal, suatu monumen yang abadi bagi "aliran" Raboceye Dyelo. Atas pertanyaan : kemana? Suatu organ pimpinan menjawab: gerakan adalah proses perubahan jarak antara titik pangkal dan titik-titik berikutnya gerakan itu. Tetapi kedalaman yang tiada tolok taranya ini bukan hanya suatu keanehan (jika demikian halnya, tak akan ada gunanya dibicarakan secara khusus), melainkan juga merupakan program seluruh aliran, yaitu program itu juga yang dinyatakan oleh R.M (dalam Lampiran Khusus Rabocaya Misl) dengan kata-kata: perjuangan yang dikehendaki ialah perjuangan yang mungkin dan perjuangan yang mungkin adalah perjuangan yang berlaku pada saat tertentu. Inilah justru aliran opurtunisme yang terbatas, yang seecara pasif menyesuaikan diri dengan spontanitas.
"Taktik- sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme!" Sungguh, ini adalah fitnahan terhadap Marxisme; ini berarti mengubahnya menjadi karikatur Marxisme yang dihadapkan kepada kita oleh kaum Narodnik dalam perang mereka melawan kita. Ini berarti meremehkan inisiatif dan enerzi aktivis-aktivis yang sadar, padahal Marxisme, sebaliknya, memberikan dorongan raksasa kepada inisiatif dan enerzi sosial-demokrat, membukakan baginya perspektif-perspektif yang seluas-luasnya dan (jika orang boleh menyatakan begitu) menyediakan untuknya kekuatan perkasa berjuta-juta orang dari klas buruh yang "secara spontan" bangkit berjuang! Seluruh sejarah sosial-demokrasi internasional penuh dengan rencana-rencana yang diajukan kadang-kadang oleh satu pimpinan politik, kadang-kadang oleh pimpinan politik lainnya; ada yang membenarkan pandangan jauh dan ketepatan pandangan politik dan organisasi dari pimpinan politik yang satu dan ada yang memperlihatkan kecupetan serta satu titik balik yang paling penting dalam sejarahnya --terbentuknya Kerajaan, pembukaan Reichstag dan pemberian hak pilih umum -- Liebknecht mempunyai satu rencana untuk politik dan pekerjaan sosial demokratis pada umumnya dan Schwetzer mempunyai rencana lain. Ketika Undang-Undang Anti Sosialis menyerang kaum Sosialis Jerman, Most dan Hasselmann mempunyai satu rencana, mereka siap seketika itu juga menyerukan dilakukannya kekerasan dan teror; Hochberg, Schraman dan (sebagian) Bernstein mempunyai rencana lain, mereka mulai mengkhotbahkan kepada kaum sosial-demokrat bahwa mereka sendirilah dengan kekasaran dan kerevolusioneran yang keterlaluan yang telah memprovokasi pengundangan Undang-Undang itu, dan sekarang harus bertingkah laku yang patut menjadi teladan untuk memperoleh maaf; rencana yang ketiga ialah yang diajukan oleh mereka yang mempersiapkan dan melaksanakan penerbitan organ ilegal. Tentu saja mudah, dalam menoleh kembali, bertahun-tahun sesudah perjuangan mengenai masalah pemilihan jalan terakhir dan sesudah sejarah menjatuhkan putusannya yang terakhir mengenai ketepatan jalan yaang telah terpilih, mengucapkan pepatah yang mendalam tentang pertumbuhan tugas-tugas Partai yang tumbuh bersama dengan partai. Tetapi pada saat kekalutan [*20], ketika "kritikus-kritikus" dan kaum ekonomis Rusia memerosotkan sosial demokrat ke tingkat trade-unionisme, dan ketika kaum teroris semakin kuat mengkhotbahkan diterimanya "taktik-sebagai-rencana" yang mengulangi lagi kesalahan-kesalahan lama, pada saat demikian itu, bila membatasi diri pada kedalaman-kedalaman itu, berarti memberi kepada diri sendiri "surat keterangan tentang kemiskinan". Pada saat banyak orang sosial-demokrat Rusia di hinggapi justru kelangkaan inisitif dan enerzi, dihinggapi kelangkaan "ruang lingkup propaganda politik, agitasi politik dan organisasi politik" [*21], kelangkaan "rencana" untuk mengorganisasi pekerjaan revolusioner secara lebih luas, bila pada saat yang demikian mengatakan: "taktik-sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme" berarti tidak hanya memvulgarkan Marxisme di bidang teori, tetapi juga menyeret Partai mundur dalam praktek.
Raboceye Dyelo seterusnya menggurui kita :
"Tugas orang revolusioner sosial-demokrat hanyalah mempercepat perkembangan objektif dengan pekerjaannya yang secara sadar, tetapi bukan meniadakannya atau menggantinya dengan rencana-rencana subyektif. Iskra tahu semua ini dalam teori. Tetapi arti penting mahabesar yang secara tepat diberikan Marxisme kepada pekerjaan revolusioner yang sadar menyebabkan Iskra dalam praktek, karena padangannya yang dokriner tentang taktik, meremehkan arti penting unsur obyektif atau spontan perkembangan" (hal.18).
Satu contoh lagi tentang kekalutan teori yang luar biasa yang sudah sepatutnya bagi Tuan W.W dan kelompoknya. Kita akan bertanya kepada ahli filsafat kita: dalam hal apa dapat tercermin "peremehan" perkembangan obyektif dari pihak penyusun rencana-rencana yang subyektif? Jelas, dalam hal bahwa ia mengabaikan kenyataan bahwa perkembangan obyektif ini menciptakan atau memperkuat, menghancurkan atau melemahkan klas-klas, lapisan-lapisan, golongan-golongan tertentu, bangsa-bangsa, kelompok-kelompok bangsa tertentu, dsb, dengan begitu menjadi syarat bagi pengelompokan kekuatan-kekuatan politik internasional tertentu, bagi penentuan pendirian partai-partai revolusioner, dan sebagainya. Tetapi jika demikian, maka kesalahan penyusun rencana-rencana itu bukanlah dalam hal meremehkan unsur spontan melainkan sebaliknya, dalam hal meremehkan unsur sadar, karena dia tidak mempunyai cukup "kesadaran" untuk memahami secara tepat perkembangan obyektif. Karena itu omongan tentang "penilaian arti "relatif" (krsif dari Raboceye Dyelo) spontanitas dan kesadaran itu saja sudah menyingkapkan ketiadaan "kesadaran" sama sekali . Jika "unsur-unsur spontan perkembangan" tertentu dapat ditangkap oleh kesadaran manusia pada umumnya, maka penilaian yang tidak tepat mengenai unsur-unsur spontan itu akan sama saja dengan "meremehkan unsur sadar". Tetapi jika unsur-unsur spontan itu tidak dapat ditangkap oleh kesadaran, maka kita tak dapat mengetahuinya, dan tidak dapat membicarakannya. Jadi apakah yang dipercakapkan oleh B. Kreicevski itu? Jika dia berpendapat bahwa "rencana-rencana subyektif" Iskra itu salah (dan dia justru menyatakan rencana-rencana subyektif itu salah), maka dia semestinya menunjukkan kenyataan-kenyataan obyektif apa yang diabaikan dalam rencana-rencana ini, dan kemudian menuduh Iskra tidak mempunyai cukup kesadaran karena mengabaikannya dan menuduh Iskra, menggunakan kata-kata dia sendiri, "meremehkan secara sadar". Tetapi jika dia, walaupun tidak puas dengan rencana-rencana subyektif, tidak mempunyai argumen lain kecuali kutipan "meremehkan unsur spontan" (!!), maka dia dengan itu hanya membuktikan bahwa : 1) secara teori dia memahami Marxisme ala orang-orang sebangsa Kareyev dan Mikhailovski yang sudah cukup di cemooohkan oleh Beltov [58], dan 2) dalam praktek, dia sepenuhnya puas dengan "unsur-unsur spontan perkembangan" yang telah membawa kaum Marxis legal kita ke Bernsteinisme dan membawa kaum sosial-demokrat kita ke ekonomisme, dan bahwa dia "sangat marah" kepada orang-orang yang telah bertekad bulat bagaimanapun juga akan membelokkan sosial-demokrasi Rusia dari jalan perkembangan "spontan".
Dan kemudian menyusullah hal-hal yang sungguh lucu. "Persis seperti manusia-manusia akan berbiak dengan cara kuno, kendatipun segala sukses ilmu pengetahuan alam, demikian pulalah kelahiran sistem masyarakat baru, dimasa depan juga., terutama sebagai akibat ledakan-ledakan spontan, kendatipun segala sukses ilmu-ilmu sosial dan pertambahan jumlah pejuang yang sadar" (hal.19). Persis seperti kata arif bijaksana kuno yang berbunyi: "Setiap orang tolol dapat melahirkan anak", kata arif bijaksana kaum "sosialis modern" (a la Narcissus Tuporilov [59]) juga berbunyi: setiap orang tolol dapat ikut serta dalam kelahiran spontan sistem masyarakat baru. Kita juga berpendapat demikia. Untuk keikutsertaan semacam itu cukuplah menyerah kepada ekonomisme ketika ekonomisme berkuasa, dan menyerah kepada terorisme ketika terorisme merajalela. Misalnya, dalam musim semi tahun ini, ketika begitu penting memperingatkan orang supaya jangan tergila-gila akan terorisme, Raboceye Dyelo bengong dihadapan masalah yang "baru" baginya itu. Dan sekarang, enam bulan sesudah itu, ketika masalah tersebut telah menjadi kurang aktual, ia sekaligus menyodorkan kepada kita pertanyaan : "kita berpendapat bahwa tidak mungkin dan tidak seharusnya tugas sosial-demokrasi menghalang-halangi kebangkitan semangat teroris"(Raboceye Dyelo, No.10, hal 23)., juga resolusi Kongres: "Kongres menganggap teror yang sistematis dan ofensif sebagai tak tepat pada waktunya (Dua Kongres, Hal.18). Betapa terang dan sambung-menyambung! Jangan menghalang-halangi, tetapi menyatakan sebagai tak tepat pada waktunya, dan menyatakannya dengan begitu rupa sehingga teror yang sistematis dan defensif tidak termasuk dalam ruang lingkup "resolusi" itu. Haruslah diakui bahwa resolusi semacam itu sangat aman dan sepenuhnya terjamin terhadap kesalahan, seperti orang yang berbicara tetapi tidak mengatakan apa-apa itu terjamin terhadap kesalahan! Dan apa yang dibutuhkan untuk menyusun resolusi semacam itu hanyalah: kecakapan untuk mengekor di belakang gerakan. Ketika Iskra mentertawakan Raboceye Dyelo karena menyatakan soal teror sebagi suatu soal baru, maka ia dengan marah menuduh Iskra "luar biasa kurang ajarnya karena memaksakan pada organisasi Partai pemecahan soal-soal taktik yang diusulkan oleh sekelompok penulis emigran lebih dari lima belas tahun yang lalu" (hal.24). Memang, alangkah kurang ajarnya dan alangkah dibesar-besarkannya unsur sadar --mula-mula secara teori memecahkan masalah-masalah, kemudian meyakinkan organisasi, Partai dan Massa akan ketepatan pemecahan itu! [*22]. Akan lebih baik jika sekadar mengulang-ulang sesuatu yang telah hafal dan tanpa "memaksakan" sesuatu pada siapapun juga, tunduk pada setiap "pembelokan" baik ke jurusan ekonomisme ataupun ke jurusan terorisme. Raboceye Dyelo bahkan menggeneralisasi petuah besar dari kebijaksanaan duniawi ini dan menuduh Iskra serta Zarya "mempertentangkan program mereka dengan gerakan seperti roh yang melayang-layang diatas kekacauan yang tak berbentuk", (hal.29). Tetapi apa lagi fungsi sosial-demokrasi jika bukan sebagai "roh", yang tidak hanya melayang-layang diatas gerakan spontan, tetapi juga meningkatkan gerkan ini ke tingkat "programnya"? Tentulah, bukan pula fungsinya mengekor di belakang gerakan: paling banter, ini tidak akan ada gunanya bagi gerakan: paling buruk ia akan sangat, sangat merugikan. Tetapi Raboceye Dyelo tidak hanya mengikuti "taktik-sebagai-proses" ini, bahkan mengangkatnya menjadi suatu prinsip, sehingga lebih tepatlah menamakan haluan Raboceye Dyelo bukan oportunisme, melainkan ekorisme (dari kata ekor). Dan haruslah diakui bahwa orang-orang yang telah bertekad untuk selalu membuntut dibelakang gerakan dan menjadi ekornya, selama-lamanya dan mutlak tidak bisa "meremehkan unsur spontan perkembangan".
* * *
Demikianlah, kita sudah menjadi yakin bahwa kesalahan pokok "aliran baru" dalam sosial demokrasi Rusia berupa pemujaan kepada spontanitas, dan ketidakmengertian bahwa spontanitas massa menuntut kesadaran besar-besaran dari kita kaum sosial-demokrat. Semakin besar kebangkitan spontanitas dari massa, semakin meluaslah gerakan, maka semakin cepat lagi dengan tiada bandingnya bertambah besarnya tuntutan akan kesadaran yang besar-besaran dalam pekerjaan teori, politik dan organisasi dari sosial-demokrasi.
Kebangkitan spontan massa di Rusia telah (dan terus) berlangsung dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga pemuda sosial-demokrat ternyata belum dipersiapkan untuk menunaikan tugas-tugas raksasa ini. Ketidaksiapan ini merupakan kemalangan kita bersama, kemalangan semua orang sosial-demokrat-Rusia. Kebangkitan massa meluas dan berlangsung dengan tak putus-putusnya dan sambung-bersambung; ia bukan hanya tidak berhenti di tempat-tempat di mana ia telah mulai, tetapi melanda tempat-tempat baru dan lapisan-lapisan baru penduduk (di bawah pengaruh gerakan buruh telah hidup kembali gejolak di kalangan pemuda-pelajar, kaum intelektual pada umumnya dan bahkan dikalangan kaum tani). Akan tetapi kaum revolusioner ketinggalan di belakang kebangkitan ini baik dalam "teori-teori" mereka maupun dalam aktivitas mereka; mereka gagal mendirikan organisasi yang tak putus-putusnya dan yang sambung-bersambung, yang sanggup memimpin seluruh gerakan.
Dalam Bab I telah kami buktikan bahwa Raboceye Dyelo meremehkan tugas-tugas teori kita dan bahwa ia "secara spontan" mengulang-ulangi semboyan yang sedang menjadi mode "kebebasan mengkritik"; bahwa mereka yang mengulang-ulangi semboyan ini tidak mempunyai cukup "kesadaran" untuk memahami pertentangan yang diametral antara pendirian para "kritikus" oportunis dengan pendirian kkaum revolusioner di Jerman dan di Rusia.
Dalam bab-bab yang berikut akan kita bahas bagaimana pemujaan kepada spontanitas ini mendapatkan perwujudannya di bidang tugas-tugas politik dan pekerjaan organisasi dari sosial-demokrasi.
________________________________________
Catatan:
[*1] Raboceye Dyelo no.10, September 1901, hlm. 17-18 Kursif dari Raboceye Dyelo.
[*2]Trade-unionis tidak menutup pintu sama sekali terhadap politik sebagaimana kadang-kadang diduga orang. Trade-unionis selalu melakukan agitasi dan perjuangan politik tertentu (tetapi bukan agitasi dan perjuangan politik sosial-demokratis). Dalam bab berikutnya kita akan membicarakan perbedaan antara politik trade-unionis dengan politik sosial-demokratis.
[44] Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg dibentuk oleh W. I. Lenin dalam musim rontok tahun 1895 dan mempersatukan semua lingkaran buruh Marxis di Petersburg. Ia dipimpin oleh suatu Grup Sentral di bawah pimpinan Lenin. Liga Perjuangan itu adalah organisasi pertama di Rusia yang mengkombinasi sosialisme dengan gerakan buruh dan beralih dari mempropagandakan Marxisme di kalangan selingkaran kecil kaum buruh yang maju ke agitasi politik di kalangan massa luas klas buruh.
"Arti penting Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg terletak dalam kenyataan bahwa ia, sebagaimana kata Lenin, merupakan embrio pertama yang sesungguhnya dari partai revolusioner yang didukung oleh gerakan buruh".
[*3] A.A wanayev meninggal di Siberia Timur pada tahun 1899 karena penyakit TBC yang diidafnya selama dikurung tersendiri dalam penjara sebelum perang. Karena itu kita berpendapat keterangan diatas boleh disiarkan, yang kita jamin kebenarannya karena ia berasal dari orang-orang yang secra langsung dan dekatnya mengenal A.A. Wanayev.
[45] Ruskaya Starina-- majalah bulanan tentang sejarah, terbit di Petersburg dari tahun 1870 sampai 1918.
[*4] Lihat Kumpulan karya, edisi Rusia ke-4, Jilid 2, hal.71-76—red.
[46] Obskurantisme-- sikap yang bermusuhan terhadap pencerahan dan kemajuan, semangat yang menghambat kemajuan.
[47] S. Petesburgski Raboci Listok (Lembaran Buruh Petersburg)-- surat kabar ilegal, organ Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg. Terbit dua nomor: No. 1 dalam bulan Februari (bertanggal Januari) 1897 (distensil di Rusia sebanyak 300-400 eksemplar); dan No. 2 dalam bulan September 1897 di Jenewa.
[*5] "Ketika bersikap negatif terhadap aktivitas-aktivitas sosial demokrat pada akhir tahun-tahun 90-an, Iskra mengabaikan tidak adanya syarat-syarat pada waktu itu untuk pekerjaan lain kecuali perjuangan untuk -tuntutan-tuntutan kecil". Demikian kaum ekonomis menerangkan dalam surat mereka yaitu Surat Kepada Organ-Organ Sosial-Demokrat Rusia (Iskra No.12). Kenyataan-kenyataan yang dikutip diatas membuktikan bahwa pernyataan tentang "tidak adanya syarat-syarat" bertentangan sama sekali dengan kebenaran. Tidak hanya pada akhir, tetapi bahkan pada pertengahan tahun-tahun 90-an, semua syarat untuk pekerjaan lain sudah ada selain perjuangan untuk tuntutan-tuntutan kecil, semua syarat sudah ada --kecuali latihan yang cukup bagi para pemimpin. Bukannya terus terang mengakui tidak cukupnya latihan pada pihak kita, para ideologis, para pemimpin --kaum "ekonomis" hendak melempaskan semua kesalahan pada "tidak adanya syarat-syarat", pada pengaruh lingkungan materiil yang menentukan jalan, yang dari jalan ini tak seorang idiologis pun akan mungkin membelokkan gerakan. Apa ini kalau bukan membungkuk-bungkuk kepada spontanitas, kalau bukan kegila-gilaan para ideologis akan kekurangan kekurangan mereka sendiri?
[48] Rapat khusus yang dimaksudkan Lenin diadakan di Petersburg antara tanggal 14 dan 17 Februari (26 Februari dan 1 Maret) 1897. rapat ini dihadiri oleh W. I. Lenin, A. A. Waneyev, G. M. Krzyizyanovski dan anggota-anggota lainnya dari Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg, yaitu "veteran-veteran" yang telah dikeluarkan dari penjara selama tiga hari sebelum dikirim ke pembuangan Siberia dan "orang-orang muda" yang memimpin Liga Perjuangan sesudah Lenin ditangkap.
[49] Listok Rabotnika (Lembaran Pekerja)-- diterbitkan di Jenewa oleh Perserikatan Kaum Sosial-Demokrat Rusia Di Luar Negeri dari tahun 1896-1899. Terbit sepuluh nomor. No. 1 sampai No. 8 diedit oleh grup Pembebasan Kerja. Karena mayoritas anggota Perserikatan memebelok ke "ekonomisme", maka grup Pembebasan Kerja menolak untuk terus mengedit penerbitan-penerbitannya. No. 9- No. 10 diterbitkan oleh dewan redaksi baru yang dibentuk oleh Perserikatan.
[50] Artikel W.I.-- yang dimaksud ialah artikel W. P. Iwansyin.
[*6]Sambil lalu perlu dinyatakan bahwa pujian-pujian kepada Rabocaya Misldalam bulan November 1898, pada waktu ekonomisme, terutama diluar negeri, telah terbentuk sepenuhnya, berasal dari W.I itu juga yang tak lama kemudian menjadi salah seorang redaktur dari Raboceye Dyelo. Namun Raboceye Dyelo tetap tidak mengakui adanya dua aliran dalam sosial-demokrasi Rusia dan terus tidak mengakuinya hingga kini!
[51] Gendarme-gendarme tsar mengenakan baju seragam bermanset biru.
[*7]Bahwasanya kiasan ini benar, dapat dilihat dari kenyataan khas yang berikut. Ketika, sesudah penangkapan atas diri kaum "Desembris", tersiar berita dikalangan kaum buruh di Jalan Schusselburg bahwa penangkapan itu terjadi atas bantuan seorang provokator N.N. Mikhailov (seorang dokter gigi) yang dekat dengan salah satu dari grup-grup yang berhubungan dengan kaum Desembris, kaum buruh menjadi begitu marah sehingga mengambil keputusan membunuh Mikhailov.
[*8]Kutipan-kutipan ini diambil dari tajuk rencana dalam nomor pertama Rabocaya Misl itu juga. Dari sini orang dapat menilai taraf teori yang dimiliki oleh "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia"[52], yang terus mengulang-ulangi pemvulgaran secara kasar "meterialisme ekonomi" pada waktu dalam literatur terjadi perang kaum Marxis menentang Tuan W.W yang sebenarnya, yang sudah lama dijuluki "ahli urusan reaksioner", karena mempunyai pandangan-pandangan yang serupa mengenai hubungan antara politik dengan ekonomi!
[52] W. W. --nama samaran W. P. Worontstov, salah seorang ideologis dari Narodisme liberal dalam tahun-tahun 80-an dan 90-an abad ke-19. Kata-kata Lenin "W. W. dari sosial-demokrasi Rusia" merupakan sindiran untuk kaum "ekonomis" yang mewakili aliran oportunis dalam sosial demokrasi Rusia.
[*9] Orang-orang Jerman bahkan mempunyai kata khusus : "Nur-Gewerkschafter", yang artinya pembela perjuangan "serikat buruh semata-mata"
[*10] Kita tekankan kata kata dewasa ini untuk dialamatkan kepada mereka yang mungkin secara munafik mengangkat bahu seraya berkata: sungguh mudah sekarang mencaci-maki Rabocaya Mils, tetapi kan hanya sesuatu yang sudah usang! Mutato nomine de te fabula narratur (ubahlah namanya maka kisah itu mengenai dirimu.--Red), demikianlah jawaban kita kepada kaum munafik dewasa ini yang semacam itu yang ketundukannya sama-sekali kepada ide-ide Rabocaya Misl akan dibuktikan berikut ini.
[*11] Surat kaum "ekonomis" dalam Iskra No.12.
[*12] Raboceye Dyelo No.10
[*13] Neue Zeit (Zaman Baru. --red) 1901-1902, XX, I, No.3 hlm 79. Rancangan komisi yang dibicarakan K. Kautsky itu diterima oleh Kongres Wina (pada akhir tahun lalu) dalam bentuk yang sedikit diubah.
[*14] Ini sudah barang tentu tidaklah berarti bahwa kaum buruh tidak ambil bagian dalam menciptakan ideologi demikian itu. Tetapi mereka ambil bagian itu bukan sebagai kaum buruh, melainkan sebagai ahli-ahli teori sosialisme, sebagai orang-orang sebangsa Proudhon dan sebangsa Waitling; dengan kata lain, mereka ambil bagian hanya apabila dan sejauh mereka mampu. Sedikit atau banyak, menguasai pengetahuan pada zaman mereka dan mendorong maju pengetahuan. Dan agar kaum buruh dapat melakukan ini lebih sering, maka perlu dilakukan segala usaha guna meningkatkan taraf kesadaran kaum buruh pada umumnya; kaum buruh jangan membatasi diri pada bingkai "literatur untuk kaum buruh" yang dipersempit secara dibuat-buat, tetapi harus belajar menguasai semakin banyak literatur umum. Bahkan akan lebih tepat jika dikatakan bukannya "membatasi diri" tetapi dibatasi, karena kaum buruh sendiri membaca dan ingin membaca semua yang ditulis untuk intelegensia dan hanya beberapa orang intelektual (yang jelek) yang berpendapat bahwa "bagi kaum buruh" cukuplah diceritai tentang keadaan-keadaan pabrik dan diulang-ulang saya yang sudah lama diketahui.
[53] Serikat-Serikat Buruh Hirsch-Duncker-- didirikan oleh borjuis-borjuis liberal Hirsch dan Duncker dalam tahun 1868 di Jerman. Hirsch dan Duncker mengkhotbahkan "kerukunan kepentingan-kepentingan klas", menyelewengkan buruh dari perjuangan klas revolusioner melawan borjuasi, membatasi tugas-tugas gerakan serikat buruh pada bingkai tugas-tugas di bidang dana saling bantu dan organisasi pendidikan-kebudayaan.
[*15] Sering dikatakan: Klas buruh secara spontan condong kepada sosialisme. Itu sepenuhnya benar dalam arti bahwa teori sosialis menentukan sebab-sebab kesengsaraan klas buruh dengan lebih mendalam dan lebih tepat daripada teori lain manapun juga, dan karena itu kaum buruh dapat mencernakannya dengan begitu mudah akan tetapi asal saja teori ini sendiri tidak menyerah kepada spontanitas, asalkan ia membuat spontanitas tunduk padanya. Biasanya ini diterima sebagi benar, tetapi justru inilah yang dilupakan atau diputarbalikkan oleh Raboceye Dyelo. Klas buruh secar spontan condong kepada sosialisme, tetapi sungguhpun demikian ideologi burjuis yang lebih tersebar luas ( dan terus-menerus dihidupkan kembali dalam bentuk-bentuk yang sangat beraneka warna) secara spontan lebih-lebih lagi mendesakkan diri pada klas buruh.
[54] Grup Pembebasan Diri Buruh— satu grup kecil orang-orang “ekonomis yang dibentuk di Petersburg dalam musim rontok tahun 1898. Grup ini yang bereksistensi hanya beberapa bulan saja, mengeluarkan sebuah manifesto yang memaparkan tujuan-tujuannya (dimuat dalam Nakanunye, majalah yang terbit di London), susunan anggaran dasar dan beberapa surat sebaran untuk disebarkan di kalangan buruh.
[55] Nakanunye (Menyongsong)-- majalah dari aliran Narodnik yang terbit dalam bahasa Rusia di London dari bulan Januari 1899 samapai Februari 1902. terbit 37 nomor. Nakanunye menghimpun di sekitarnya wakil-wakil berbagai partai borjuis kecil.
[*16] Tentang Masalah Tugas-Tugas dan Taktik kaum Sosial Demokrat Rusia Dewasa ini, Jenewa 1898. Dua pucuk surat yang ditulis kepada Rabocaya Gazeta dalam tahun 1897.
[*17] Lihat Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4 Jilid 2, hal.299-326 --Red.
[*18] Dalam membela kebohongannya yang pertama ("kita tak tahu kawan-kawan muda mana yang dimaksud oleh P. B. Akselrod") Raboceye Dyelo menambah dengan kebohongan yang kedua, ketika dalam jawabannya ia menulis: "Sejak tinjauan tentang Tugas-Tugas diterbitkan, dikalangan orang-orang sosial-demokrat Rusia tertentu telah timbul atau kecendrungan-kecendrungan ke arah keberatsebelahan ekonomi, yang merupakan langkah mundul dari keadaan gerakan kita sebagaimana dilukiskan dalam Tugas-Tugas (hal.9). Inilah yang dikatakan Jawaban itu, yang dimuat dalam tahun 1900. Tetapi Raboceye Dyelo nomor pertama (yang memuat tinjauan itu) terbit dalam bulan April 1899. Apakah ekonomisme itu baru timbul dalam tahun 1899? Tidak, dalam tahun 1899 terdengar protes pertama kaum sosial demokrat Rusia terhadap ekonomisme (protes terhadap Credo). Ekonomisme timbul dalam tahun 1897, sebagaimana Raboceye Dyelo tahu betul, karena sudah pada bulan November 1898, W.I. Memuji Rabocaya Misl (lihat Listok Rabotnika No.9-10)
[*19] "Teori tingkat-tingkat" atau teori "lika-liku yang takut takut-takut" dalam perjuangan politik dinyatakan, misalnya dalam artikel ini demikian: "Akan tetapi tuntutan-tuntutan-tuntutan politik, yang menurut wataknya adalah umum bagi seluruh Rusia, harus mula-mula" (ini ditulis dalam bulan Agustus 1900!) " sesuai dengan pengalaman yang diperoleh lapisan tertentu"(sic!). "kaum buruh dari perjuangan ekonomi. Hanya (!) atas dasar pengalaman inilah agitasi politik dapat dan harus dimulai", dan seterusnya.(hal.11). Pada halaman 4 sipenulis ketika menyanggah apa yang dianggapnya sebagai tuduhan yang sama sekali tidak beralasan yaitu tuduhan sebagai bid'ah ekonomis, dengan mengharukan berseru : "Sosial-demokrat mana sih yang tidak tahu bahwa menurut ajaran Marx dan Engels kepentingan-kepentingan ekonomi dari berbagai klas memainkan peranan yang menentukan dalam sejarah dan, karenanya, bahwa terutama perjuangan proletariat untuk kepentingan-kepentingan ekonominya harus mempunyai arti penting nomor satu bagi perkembangan klasya dan perjuangannya untuk pembebasan ?"(Kursif dari kami). Kata "karenanya"sama sekali tidak pada tempatnya. Dari kenyataan bahwa kepentingan-kepentingan ekonomi memainkan peranan yang menentukan sekali-kali tidak seharusnya ditarik kesimpulan bahwa perjuangan ekonomi (yaitu, perjuangan serikat buruh) mempunyai arti penting nomor satu, karena kepentingan-kpentingan yang paling pokok, yang "menentukan" dari klas-klas dapat dipenuhi hanya dengan perubahan-perubahan politik yang radikal pada umumnya; terutama kepentingan-kpentingan ekonomi yang pokok dari proletariat dapat dipenuhi hanya dengan revolusi politik yang akan mengganti diktatur borjuasi dengan diktatur proletariat. B. Kreicevski mengulangi argumen-argumen "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia" (yaitu, politik mengikuti ekonomi dan lain-lain) dan argumen-argumen kaum Bernsteinis dari sosial-demokrasi Jerman (misalnya, justru dengan argumen semacam ini. Woltmann mencoba membuktikan bahwa kaum buruh pertama-tama harus memperoleh "kekuatan ekonomi" sebelum memikirkan revolusi politik).
[56] W. I. Lenin, Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4, Moskow, 1946, Jilid 4, hlm. 345-346.
[57] Ibid, Jilid 5, hlm. 6.
[*20] "Ein Jahr der Verwirrung" ("Tahun Kekalutan") adalah judul yang diberikan oleh Mehring pada bab dalam bukunya Sejarah Sosial-Demokrasi Jerman dimana ia melukiskan keragu-raguan dan ketiadaan kebulatan tekad yang mula-mula dipertunjukan oleh kaum sosialis dalam memilih "taktik-sebagai-rencana" yang sesuai dengan syarat-syarat baru.
[*21] dari tajuk rencana Iskra No. 1 (Lihat Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4, Jilid 4, hal.344 -Red)
[58] Dengan nama samaran N. Beltov, G. W. Plekhanov menerbitkan bukunya yang terkenal Tentang Perkembangan Pandangan Monistik Mengenai Sejarah, yang terbit secara legal di Petersburg dalam tahun 1895.
[59] Yang dimaksud ialah sajak satiris "Lagu Pujian Sosialis Rusia Supra-Modern" oleh Y. O. Martov, yang dimuat dalam Zarya No. , April 1901, dengan bertanda tangan "Narcissus Tuporilov". Sajak ini memperolok-olok kaum "ekonomis" dan penyesuaian diri mereka dengan gerakan spontan.
[*22] Jangan dilupakan pula bahwa dalam memecahkan "secara teori" masalah teror, grup Pembebasan Kerja menggeneralisasi pengalaman gerakan revolusioner yang terdahulu.
Sudah kita katakan bahwa gerakan kita, yang jauh lebih luas dan mendalam daripada gerakan pada tahun-tahun 70-an, harus dijiwai oleh tekad tulus ikhlas dan energi yang sama seperti yang menjiwai gerakan pada waktu itu. Memang, sampai kini kiranya tak seorang pun meragukan bahwa kekuatan gerakan dewasa ini terletak pada kebangkitan massa (terutama proletariat industri) dan bahwa kelemahannya terletak pada ketidak cukupan kesadaran dan inisiatif di kalangan para pemimpin revolusioner.
Akan tetapi di waktu akhir-akhir ini telah didapat suatu penemuan yang sangat mengagumkan, yang mengancam akan meruntuhkan semua pandangan yang berlaku selama ini mengenai soal tersebut. Penemuan ini didapat oleh Raboceye Dyelo, yang dalam berpolemik dengan Iskra dan Zarya tidak membatasan diri pada keberatan-keberatan mengenai bagian-bagian tersendiri-sendiri, tetapi mencoba membawa “perbedaan-perbedaan pendapat umum” ke akar yang lebih mendalam –ke ”penilaian yang berbeda mengenai arti relatif unsur spontan dan unsur ‘berencana’ secara sadar”. Tesis tuduhan Raboceye Dyelo berbunyi : “peremehan arti penting unsur obyektif atau unsur spontan perkembangan" [*1]. Mengenai ini kami mengatakan : jika polemik dengan Iskra dan Zarya tidak membawa hasil lain apapun kecuali mendorong Raboceye Dyelo sampai pada ide tentang “perbedaan-perbedaan pendapat umum”, maka hasil ini saja akan memberikan banyak kepuasan kepada kita, begitu penting tesis ini dan begitu terang ia menyoroti seluruh inti sari perbedaan-perbedaan pendapat di bidang teori dan politik dewasa ini yang ada di kalangan kaum sosial-demokrat Rusia.
Itulah sebabnya masalah hubungan antara kesadaran dengan spontanitas mempunyai arti penting umum yang maha besar, dan itulah sebabnya masalah ini harus dibicarakan secara panjang lebar.
A. PERMULAAN KEBANGKITAN YANG SPONTAN
Dalam bab di muka sudah kita tunjukkan betapa umumnya kegairahan pemuda terpelajar Rusia pada teori Marxisme dalam pertengahan tahun-tahun 90-an. Sekitar waktu itu juga pemogokan-pemogokan buruh yang terjadi sesudah perang industri yang terkenal di Petersburg pada tahun 1896 bersifat merata juga. Menjalarnya pemogokan-pemogokan buruh ini ke seluruh Rusia menunjukan dengan jelasnya betapa dalam kebangkitan kembali gerakan rakyat, dan jika kita hendak berbicara tentang “unsur spontan” itu maka, sudah barang tentu, gerakan inilah yang pertama-tama harus dianggap sebagai spontan. Tetapi kan spontanitas yang satu berbeda dengan yang lain. Pemogokan-pemogokan terjadi di Rusia baik dalam tahun-tahun 70-an maupun 60-an (dan bahkan dalam paro pertama abad ke 19) yang dibarengi dengan penghancuran mesin-mesin “secara spontan”, dan sebagainya. Dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” ini maka pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an bahkan boleh disebut “sadar’, sedemikian besar langkah maju yang telah dibuat oleh gerakan buruh pada waktu itu. Ini menunjukan kepada kita bahwa “unsur spontan” pada hakekatnya tidak kurang dan tidak lebih merupakan kesadaran dam bentuk embrio. Kerusuhan-kerusuhan yang primitifpun sudah mngungkapkan kebangkitan kesadaran sampai batas tertentu: kaum buruh kehilangan kepercayaan mereka yang sudah lama sekali pada kelanggengan sistem yang menindas mereka, mereka mulai….saya tak akan mengatakan mengerti, tetapi mulai merasakan perlunya perlawanan kolektif dan tegasnya mencampakkan kepatuhan budak kepada sep-sep mereka. Tetapi ini bagaimanapun juga lebih banyak merupakan manifestasi rasa putus asa dan balas dendam daripada perjuangan. Pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an itu memperlihatkan kepada kita kilasan-kilasan kesadaran yang jauh lebih besar; tuntutan-tuntutan tertentu diajukan, diperhitungkan sebelumnya saat yang menguntungkan; kejadian-kejadian dan contoh-contoh yang terkenal ditempat-tempat lain didiskusikan, dan sebagainya. Kalau kerusuhan-kerusuhan semata-mata pemberontakan kaum tertindas, maka pemogokan-pemogokan yang sistematis sudah merupakan sudah merupakan merupakan embrio perjuangan klas, tetapi hanya embrio saja. Dilihat dari pemogokan-pemogokan ini hanyalah perjuangan trade-unionis, tetapi belum merupakan perjuangan sosial-demokratis. Pemogokan-pemogokan ini menandakan bangkitnya anatagonisme antara kaum buruh dengan kaum majikan, tetapi pada kaum buruh tidak ada dan tidak mungkin ada kesadaran mengenai pertentangan-pertentangan kepentingan yang tak terdamaikan dengan seluruh sistem politik dan sosial modern, yaitu kesadaran mereka belum merupakan kesadaran sosial-demokratis. Dalam arti ini, pemogokan-pemogokan pada tahun-tahun 90-an, kendatipun kemajuannya yang besar jika dibandingkan dengan “kerusuhan-kerusuhan” itu, tetap merupakan gerakan spontan belaka.
Sudah kita katakan bahwa pada kaum buruh tidak mungkin ada kesadaran sosial demokratis. Kesadaran sosial-demokratis itu hanya dapat dimasukkan dari luar. Sejarah semua negeri menunjukkan bahwa klas buruh, dengan usahanya sendiri semata-mata, hanya dapat mengembangkan kesadaran trade-unionis saja, yaitu keyakinan akan perlunya menggabungkan diri dalam perserikatan-perserikatan, melancarkan perjuangan melawan kaum majikan, dan berusaha keras memaksa pemerintah mengeluarkan undang-undang yang diperlukan kaum buruh, dan sebagainya. [*2] Tetapi ajaran sosialisme lahir dari teori-teori filsafat, sejarah dan ekonomi yang diciptakan oleh wakil-wakil terpelajar klas-klas bermilik, kaum intelektual. Menurut kedudukan sosial mereka, pendiri-pendiri sosialisme ilmiah modern, Marx dan Engels sendiri termasuk intelejensia borjuis. Persis begitu pula di Rusia ajaran-ajaran teori sosial-demokrasi timbul terlepas sama sekali dari pertumbuhan spontan gerakan buruh, ia timbul sebagai hasil yang wajar dan tak terelakan dari perkembangan pikiran dikalangan intelejensia sosialis revolusioner. Pada waktu yang sedang kita bicarakan ini, yaitu pada pertengahan tahun-tahun 90-an, ajaran ini tidak hanya merupakan program yang dirumuskan secara sempurna dari grup Pembebasan Kerja, tetapi juga telah menarik ke pihaknya matoritas pemuda revolusioner di Rusia.
Dengan demikian terdapat baik kebangkitan spontan massa buruh, keinsafan untuk hidup secara sadar dan berjuangan secara sadar, maupun pemuda revolusioner yang bersenjatakan teori sosial-demokratis, yang berusaha keras untuk berhubungan dengan kaum buruh. Dalam hubungan ini teristimewa penting menyebut kenyataan yang sering dilupakan (dan relatif sedikit diketahui) bahwa kaum sosial-demokrat yang pertama pada periode itu dengan bersemangat melakukan agitasi ekonomi (dan dengan sepenuhnya memperhatikan dalam hal ini petunjuk-petunjuk yang betul-betul berguna yang termuat dalam brosur Tentang Agitasi yang ketika itu masih berupa naskah), mereka bukan hanya tidak memandang agitasi ekonomi sebagai satu-satunya tugas mereka, tetapi sebaliknya, sejak dari awal mula mereka juga mengajukan tugas-tugas sejarah yang paling luas dari sosial-demokrasi Rusia pada umumnya, dan tugas dan menggulingkan otokrasi pada khususnya. Misalnya, sudah pada akhir tahun 1895 grup sosial-demokrat Petersburg, yang mendirikan Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh [44], mempersiapkan nomor pertama surat kabar yang dinamakan Raboceye Dyelo . Nomor yang sudah siap sepenuhnya untuk cetak ini disita oleh gendarme yang pada tanggal 8 malam menjelang tanggal 9 Desember 1895 mengerebek rumah salah seorang anggota grup tersebut, yaitu Anatoli Alekseyewic [*3], maka itu Raboceye Dyelo yang orisinil itu ditakdirkan tidak melihat dunia. Tajuk rencana surat kabar ini (yang barang kali kira-kira tigapuluh tahun kemudian salah satu Ruskaya Starina [45] akan membongkarnya dari arsip Jawatan Kepolisian) melukiskan tugas-tugas sejarah klas buruh Rusia dan menempatkan pencapaian kemerdekaan politik dideretan paling depan tugas-tugas ini. Selanjutnya terdapat artikel”apakah yang Dipikirkan Oleh Menteri-menteri Kita?" [*4] yang membahas pembubaran komite-komite PBH oleh kepolisian, dan beberapa surat tidak hanya dari Petersburg tetapi juga dari tempat-tempat lain di Rusia (misalnya, sepucuk surat tentang serangan berdarah terhadap kaum buruh di Provinsi Yaroslav). Dengan demikian, jika kami tidak salah, “usaha pertama”, kaum sosial demokrat Rusia pada tahun-tahun 90-an ini, bukanlah surat kabar yang bersifat lokal yang sempit, lebih-lebih bukan surat kabar yang bersifat “ekonomi”, melainkan surat kabar yang bertujuan menyatukan perjuangan pemogokan dengan gerakan revolusioner melawan otoktrasi, dan menarik semua orang yang ditindas oleh obskurantisme [46] reaksioner supaya mendukung soaial-demokrasi. Tak seorangpun yang sedikit saja mengenal keadaan gerakan pada waktu itu bisa menyangsikan bahwa surat kabar yang demikian itu pasti akan mendapat simpati penuh dikalangan kaum buruh di ibukota dan intelegensia revolusioner dan oplahnya pasti akan besar sekali. Kegagalan usaha itu hanyalah menunjukkan bahwa kaum sosial-demokrat pada masa itu tidak sanggup memenuhi tuntutan-tuntutan mendesak pada saat itu karena mereka kurang pengalaman revolusioner dan latihan praktis. Demikian juga harus dikatakan mengenai S. Petersburgski Raboci Listok [47] dan terutama mengenai Rabocaya Gazeta dan mengenai Manifesto Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia yang didirikan dalam musim semi tahun 1898.Sudah barang tentu tidak terlintas dalam kepala kami untuk menyalahkan para aktivis pada kala itu karena ketidaksiapan ini. Tetapi untuk menggunakan pengalaman gerakan itu dan untuk menarik pelajaran praktis dari pengalaman itu, kita harus memahami sedalam-dalamnya sebab-sebab dan arti penting kekurangan ini atau kekurangan itu. Karena itu sangatlah penting menunjukkan bahwa sebagian (mungkin bahkan mayoritas) dari kamusosial-demokrat, yang melakukankegiatan pada tahun-tahun 1895-1898, sepenuhnya tepatmenganggap mungkin bahkan pada waktu itu, pada awal mula gerakan "spontan" itu, untuk tampil dengan program yang sangat luas dan taktik militan [*5].
Ketidaksiapan pada mayoritas kaum revolusioner, yang merupakan gejala yang sepenuhnya wajar, tak dapat menimbulkan kekuatiran-kekuatiran khusus apapun. Karena tugas-tugas sudah ditetapkan dengan tepat, karena ada enerzi untuk usaha-usaha yang berulangulang guna melaksanakan tugas-tugas ini, maka kegagalan-kegagalan sementara bukan bencana yang begitu besar. Pengalaman revolusioner dan kecakapan berorganisasi adalah hal-hal yang dapat diperoleh asalkan ada hasrat untuk memperolehnya, asalkan kekurangan-kekurangan itu disadari --yang dalam usaha revolusioner merupakan lebih dari separo pengkoreksian kekurangan-kekurangan itu!
Tetapi bencana yang tidak begitu besar itu menjadi bencana yang nyata ketika kesadaran ini mulai menjadi kabur (dan kesadaran ini sangat hidup di kalangan aktivis-aktivis dari grup tersebut diatas), ketika muncul orang-orang -- dan bahkan organ-organ sosial-demokrat -- yang bersedia memandang kekurangan-kekurangan ini sebagai kebajikan, yang bahkan mencoba memberi dasar teori bagi pembungkukkan dan pemujaan kepada spontanitas. Sudahlah tiba waktunya untuk menyimpulkan aliran ini, yang inti sarinya secara sangat tidak tepat dan terlalu sempit melukiskan sebagi konsepsi "ekonomisme".
B. PEMUJAAN KEPADA SPONTANITAS. RABOCAYA MISL
Sebelum membicarakan manifestasi pemujaan ini dalam literatur, kami ingin menyebutkan kenyataan khas yang berikut (yang sampai kepada kita sumber tersebut diatas), yang sedikit menyoroti bagaimana dua aliran yang bakal bentrokan dalam sosial demokrat Rusia timbul dan tumbuh di kalangan kawan-kawan yang bekerja di Peterburg. Pada awal tahun 1897, sebelum pembuangan mereka, A.A Waneyev dan beberapa orang kawannya mengunjungi sutu rapat khusus [48], dimana berkumpul anggota-anggota "tua" dan "muda" Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh. Pembicaraan berpusat terutama disekitar organisasi dan khususnya sekitar "anggaran dasar untuk dana buruh", yang dalam bentuknya yang difinitif dimuat dalam Listok Rabotnika [49] No.9-10, hal 46. Perbedaan pendapat yang tajam segera tersingkap antara anggota-anggota tua (kaum "Desembris", sebagaimana kaum sosial-demokrat Petersburg secara bergurau menamakan mereka) dengan beberapa anggota "muda" (yang kemudian dengan aktif ambil bagian dalam Rabocaya Mils), dan segera berkobarlah diskusi yang hangat. Anggota-anggota "muda" mempertahankan prinsip-prinsip pokok anggaran dasar dalam bentuk sebagaimana telah disiarkan. Anggota-anggota "tua" mengatakan bahwa yang dibutuhkan pertama-tama sama sekali bukanlah ini, melainkan pengkonsolidasian Liga Perjuangan menjadi sebuah organisasi kaum revolusioner, dan berbagai dana buruh, lingkaran propaganda pemuda pelajar dan lain-lain, harus tunduk kepada organisasi itu. Tak usah dikatakan lagi kiranya bahwa orang-orang yang berdebat itu jauh darai membayangkan bahwa perbedaan pendapat ini adalah permulaan dari perpisahan; sebaliknya mereka menganggapnya sebagai bersifat berdiri sendiri dan kebetulan. Tetapi kenyataan ini menunjukan bahwa di Rusia "ekonomisme" juga timbul dan meluas bukan sama sekali tanpa perjuangan menentang kaum sosial-demokrat "tua" (ini sering dilupakan oleh kaum ekonomis yang sekarang). Dan jika, pada pokoknya, perjuangan ini tidak meninggalkan bekas-bekas "dokumenter", ini semata-mata karena susunan keanggotaan lingkaran-lingkaran yang bekerja waktu itu mengalami perubahan yang begitu sering sehingga tak ada kontinuitas dan karena itu perbedaan-perbedaan pendapat itu tidak tercatat dalam dokumen apapun.
Terbitnya Rabocaya Misl menyingkap ekonomisme, tetapi juga tidak sekaligus. Kita harus membayangkan sendiri secara konkrit syarat-syarat bekerja dan sifat pendek umur mayoritas lingkaran-lingkaran Rusia (dan hanya mereka yang telah mengalaminya dapat membayangkan secara konkrit), agar dapat mengerti betapa banyak hal yang bersifat kebetulan terdapat dalam sukses-sukses dan kegagalan-kegagalan aliran baru itu di berbagai kota, dan betapa lama baik pendukung-pendukung maupun lawan-lawan aliran "baru" ini tidak dapat mengambil keputusan --memang mereka tidak mempunyai kesempattan sama sekali untuk memutuskan-- mengenai apakah ini benar-benar suatu aliran yang khas atau hanya suatu pengungkapan ketidaksiapan perorangan-perorangan tertentu. Misalnya, nomor-nomor pertama stensilan dari Rabocaya Misl bahkan sama sekali tidak diketahui mayoritas besar kaum sosial-demokrat, dan jika sekarang kita dapat mengutuf tajuk rencana nomor pertamanya, ini hanyalah karena tajuk rencana itu dimuat kembali dalam artikel W.I. [50] (Listok Rabotnika No. 9-10, hlm.47 dan berikutnya) yang sudah tentu tidak lupa menyanjung-nyanjung dengan bersemangat --bersemangat tanpa akal-- surat kabar baru itu yang begitu berbeda dari surat-surat kabar dan rencana surat-surat kabar yang kami sebutkan diatas [*6]. Dan tajuk rencana ini patut dibicarakan karena ia begitu menonjol mengungkapkan seluruh jiwa Rabocaya Misl dan ekonomisme pada umumnya.
Sesudah menyatakan bahwa tangan "simanset biru"[51] tak akan dapat menahan perkembangan gerakan buruh, tajuk rencana itu seterusnya mengatakan: "……. Daya hidup gerakan buruh sedemikian karena kaum buruh itu sendiri akhirnya memegang nasib mereka dalam tangan mereka sendiri dengan merebutnya dari tangan para pemimpin", dan tesis dasar ini dikembangkan lebih lanjut secara terperinci. Sebetulnya pemimpin-pemimpin (yaitu sosial demokrat, organisator-organisator Liga Perjuangan) itu, boleh dikatakan direnggut oleh polisi dari tangan kaum buruh [*7]; tetapi digambarkan seolah-seolah kaum buruh melakukan perjuangan melawan para pemimpin dan membebaskan diri dari penindasan mereka. Bukannya menyerukan maju ke arah konsolidasi organisasi revolusioner dan kearah perluasan aktivitas politik, malah mengeluarkan seruan mundur ke perjuangan trade-unionis semata-mata. Dinyatakan bahwa "dasar ekonomi dari gerakan dibarengkan oleh usaha untuk selama-lamanya tidak melupakan cita-cita politik", dan bahwa semboyan gerakan buruh ialah "berjuang untuk perbaikan keadaan ekonomi" (!) atau lebih baik lagi, "Buruh untuk Buruh". Dinyatakan bahwa dana pemogokan "lebih berharga bagi gerakan daripada seratus organisasi lain" (bandingkan pernyataan ini yang dikeluarkan dalam bulan Oktober 1897 dengan perdebatan anatar kaum "Desembris" dengan anggota-anggota muda pada awal tahun 1897), dan sebagainya. Semboyan-semboyan seperti: kita harus memusatkan perhatian bukan pada "sari" kaum buruh melainkan pada buruh "rata-rata", pada massa buruh; "politik selalu mengikuti ekonomi dengan patuh"[*8] dan sebagainya dan sebagainya menjadi mode dan mempunyai pengaruh yang sangat kuat atas massa pemuda yang tertarik pada gerakan tetapi yang dalam kebanyakan hal hanya tahu Marxisme sepotong-sepotong, Marxisme yang diuraikan secara legal.
Ini merupakan penindihan sepenuhnya kesadaran oleh spontanitas --spontanitas kaum "sosial-demokrat" yang mengulang-ulangi "ide-ide" Tuan W.W, spontanitas buruh-buruh yang terpesona oleh argumen-argumen bahwa tambahan satu kopek untuk setiap rubel lebih berharga daripada segala sosialisme dan segala politik dan bahwa mereka harus melancarkan "perjuangan dengan mengetahui bahwa mereka berjuang bukan untuk sesuatu generasi yang akan datang melainkan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka" (tajuk rencana Rabocaya Misl No.1). Kata-kata seperti itu selalu menjadi senjata yang paling disukai kaum borjuis Eropa Barat yang karena membenci sosialisme berusaha keras (seperti "Sosial-Politiker" Jerman Hirsch) untuk memindahkan trade-unionis Inggris ke tanah air mereka dan mengkhotbahkan kepada kaum buruh bahwa perjuangan serikat buruh semata-mata [*9] adalah justru perjuangan untuk diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, dan bukan untuk sesuatu generasi yang akan datang dan sesuatu sosialisme yang akan datang. Dan sekarang "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia" telah mulai mengulang-ulangi kata-kata burjuis. Disini penting menyebutkan tiga keadaan yang akan berguna bagi kita dalam menganalisa lebih lanjut perbedaan-perbedaan pendapat dewasa ini [*10].
Pertama-tama, penindihan kesadaran oleh spontanitas, yang telah kita sebutkan diatas , juga terjadi secara spontan. Ini tampaknya seperti persilatan lidah tetapi, sayang ini adalah kebenaran yang pahit. Ia terjadi bukan sebagai perjuangan secara terbuka antara dua pendirian yang sama sekali berlawanan, dimana yang satu menang atas yang lain, tetapi ia terjadi karena semakin banyak jumlah "orang tua" -orang revolusioner yang "direnggut" oleh gendarme dan karena semakin banyak jumlah orang "muda" "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia" muncul diatas panggung. Setiap orang yang --tak akan saya katakan telah mengambil bagian dalam gerakan Rusia dewasa ini,tetapi sekurang-kurangnya telah menghirup udaranya --tahu betul bahwa memang demikianlah halnya. Dan jika kami sekalipun demikian teristimewa mendesak supaya pembaca menjadi jelas sepenuhnya mengenai kenyataanyang sudah umum diketahui ini, dan jika kami demi kejelasan, begitulah, mengutip bahan-bahan mengenai Raboceye Dyelo terbitan pertama dan mengenai perdebatan antara kaum "tua" dengan kaum "muda" pada awal tahun 1897-- ini adalah karena orang-orang berspekulasi dengan ketidaktahuan rakyat umum (atau para pemuda yang masih remaja sekali) mengenai kenyataan ini dan membangga-banggakan "demokratisme" mereka. Kami akan kembali lagi kepada hal ini nanti.
Kedua, dalam manifestasi yang pertama di bidang sastra dari ekonomisme, kita sudah dapat melihat gejala yang sangat istimewa dan yang sangat khas untuk memahami semua perbedaan pendapat dikalangan kaum sosial-demokrat dewasa ini, bahwa pengikut-pengikut "gerakan buruh semata-mata", para pemuja hubungan yang paling erat dan paling "organik" ( istilah yang dipakai Raboceye Dyelo) dengan perjuangan proletar, lawan-lawan dari segala intelegensia non buruh (walaupun itu intelegensia sosialis) terpaksa, guna mempertahankan pendirian mereka, menggunakan argumen-argumen "kaum trade-unionis semata-mata" yang borjuis. Ini menunjukkan bahwa sejak awal mula Rabocaya Misl mulai --secara sadar-- melaksanakan program Credo. Ini menunjukkan (sesuatu yang sama sekali tak dapat dimengerti oleh Raboceye Dyelo) bahwa segala pemujaan kepada spontanitas gerakan buruh, segala peremehan peranan "unsur sadar", peranan sosial-demokrasi, terlepas sama sekali apakah orang-orang yang meremehkan itu suka atau tidak, berarti memperkuat pengaruh ideologi burjuis di kalangan kaum buruh. Semua yang berbicara tentang "penilaian terlalu tinggi arti penting ideologi" [*11], tentang membesar-besarkan peranan unsur sadar [*12], dan sebagainya membayangkan bahwa gerakan buruh murni dengan sendirinya dapat dan akan menghasilkan ideologi yang bebas bagi dirinya sendiri, asal saja kaum buruh "merebut nasib mereka dari tangan para pemimpin". Tetapi ini adalah kesalahan besar. Untuk melengkapi apa yang telah disebutkan diatas, kita akan mengutip lagi kata-kata yang tepat dan penting sekali yang diucapkan K. Kautsky tentang rancangan program baru Partai Sosial-Demokrat Austria [*13]:
"banyak kritikus revisionis kita berpendapat bahwa Marx menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dan perjuangan klas tidak hanya menciptakan syarat-syarat untuk produksi sosialis, tetapi juga, dan secara langsung, melahirkan kesadaran (kursif dari K.K) tentang keharusan produksi sosialis. Dan para kritikus ini menegaskan bahwa Inggris , negeri yang paling berkembang secara kapitalis, lebih jauh daripada negeri lain manapun dari kesadaran ini. Berdasarkan rancangan itu, orang bisa mengira bahwa pandangan yang katanya Marxisme-ortodoks ini, yang dengan cara yang ditunjukkan diatas sudah terbantah , disetujui juga oleh komisi yang menyusun program Austria itu. Dalam rancangan program itu tercantum: 'semakin berkembang kapitalisme semakin bertambah besar jumlah proletariat, proletariat akan semakin dipaksa dan memperoleh kemampuan untuk melancarkan perjuangan melawan kapitalisme, Proletariat menjadi sadar akan kemungkinan dan keharusan sosialisme. Dalam hubungan ini kesadaran sosialis tampak sebagai hasil yang semestinya dan langsung dari perjuangan klas proletariat. Tetapi sama sekali tidak benar. Tentu saja sosialisme, sebagai ajaran, bersumber pada hubungan-hubungan ekonomi modern sebagaimana perjuangan klas proletariat dan sebagaimana yang tersebut belakangan, timbul dari perjuangan menentang kemiskinan dan kesengsaraan massa yang diciptakan oleh kapitalisme, tetapi sosialisme dan perjuangan kelas timbul berdampingan satu dengan yang lainnya dan bukannya yang satu timbul dari yang lain: masing-masing dibawah syarat-syarat yang berbeda. Kesadaran sosialis modern dapat timbul hanya atas dasar pengetahuan ilmiah yang mendalam. Memang, ilmu ekonomi modern merupakan suatu syarat bagi produksi sosialis sama halnya seperti, misalnya, teknologi modern, dan proletarian tak dapat menciptakan yang satu atau yang lainnya, bagaimanapun juga ia menginginkannya: kedua-duanya timbul dari proses sosial modern. Pembawa ilmu bukanlah proletariat, melainkan intelegensia borjuis (kursif dari K.K): dalam otak anggota-anggota perorangan dari lapisan inilah lahir sosialisme modern, dan merekalah yang menyampaikannya kepada orang-orang proletas yang menonjol perkembangan inteleknya, yang selanjutnya memasukkannnya kedalam perjuangan klas proletariat dimana syarat-syarat mengijinkannya. Jadi, kesadaran sosialis adalah sesuatu yang dimasukkan ke dalam perjuangan klas proletariat dari luar (von Aussen Hineingentragenes) dan bukan sesuatu yang timbul dari dalamnya secara spontan (Urwuchsig). Karena itu program Hainfeld yang lama tepat sepenuhnya menyatakan bahwa tugas sosial-demokrasi ialah meresapkan proletariat (secara hurufiah: menjenuhkan proletariat) dengan kesadaran akan kedudukannya dan kesadaran akan tugasnya. Ini tak akan perlu jika kesadaran itu timbul dengan sendirinya dari perjuangan klas. Rancangan yang baru itu menjiplak dalil dalil ini dari propram yang lama, dan membubuhkannya pada dalil tersebut diatas. Tetapi ini sama sekali memutuskan jalannya pikiran…."
Karena tak mungkin ada ideologi bebas yang dikembangkan oleh massa buruh sendiri dalam proses gerakan mereka [*14], maka persoalannya hanyalah demikian : ideologi borjuis atau sosialis. Disini tak ada jalan tengah (karena umat manusia belum menciptakan ideologi "ketiga" manapun, dan lagi pada umumnya dalam masyarakat yang dikoyak-koyak oleh kontradiksi-kontradiksi klas sekali-kali tak akan ada ideologi non-klas atau diatas klas). Karena itu, setiap peremehan ideologi sosialis dan setiap penjauhan diri dari padanya berarti memperkuat ideologi borjuis.Orang berbicara tentang spontanitas, tetapi perkembangan spontan gerakan buruh menuju justru ke arah ketundukannya kepada ideologi borjuis, berjalan justru menurut program Credo, karena gerakan buruh yang spontan adalah trade-unionis, adalah Nur-Gewerkschaftlerei, sedang trade-uninis berarti pembudakan kaum buruh secara ideologi oleh borjuis. Karena itu tugas kita, tugas sosial-demokrasi, ialah memerangi spontanitas, membelokkan gerakan buruh dari aspirasi trade-unionisme yang spontan untuk berlindung dibawah sayap borjuis ini, dan menariknya ke bawah sayap sosial-demokrasi revolusioner. Karena itu kata-kata para penulis surat "ekonomi" dalam Iskra No. 12, yang menyatakan bahwa usaha-usaha yang bagaimanapun dari ideologis yang paling bersemangat tidak akan bisa membelokkan gerakan buruh dari jalan yang ditentukkan oleh saling pengaruh antara unsur-unsur materiil dengan lingkungan materiil, sepenuhnya sama dengan meninggakan sosialisme, dan sekiranya penulis-penulis surat ini sanggup mempertimbangkan apa yang mereka katakan itu dengan tiada takut, dengan konsekwen sepenuhnya, seperti yang mestinya dilakukan oleh setiap orang yang memasuki arena aktivitas kesusasteraan dan aktivitas sosial, maka bagi mereka tidak lain tinggal "mendekapkan tangan yang menganggur di dada yang kosong " dan…. Dan menyerahkan medan aktivitas kepada tuan-tuan sebangsa Tuan Struwe dan Tuan Prokopowic yang menyeret gerakan buruh "menurut garis perlawanan sekecil-kecilnya", yaitu menurut garis trade-unionisme borjuis, atau kepada tuan-tuan sebangsa Tuan Zubatov yang menyeretnya menurut garis "ideologi" kepadrian dan gendarme.
Ingatlah contoh Jerman. Apa jasa bersejarah Lassalle kepada gerakan buruh Jerman? Jasanya ialah bahwa dia membelokkan gerakan itu dari jalan trade-unionisme dan koperasi yang dikhotbahkan orang-orang progresis, jalan yang telah ditempuhnya secara spontan (dengan bantuan yang bersimpati dari Schulze-Delitzsch dan orang-orang sebangsa dia). Untuk memenuhi tugas ini diperlukan sesuatu yang sama sekali berlainan dengan omongan tentang peremehan unsur spontan, tentang taktik-sebagai proses, tentang saling pengaruh antara unsur-unsur dengan lingkungan dan sebagainya. Untuk itu diperlukan perjuangan mati-matian melawan spontanitas, dan hanya sesudah perjuangan demikian itu, yang dilancarkan selama bertahun-tahun, barulah dapat, misalnya, mengubah penduduk buruh Berlin dari sebagi sandaran partai progresis menjadi satu benteng terbaik sosial-demokrasi. Dan perjuangan ini sekarangpun sekali-kali belum selesai (sebagimana mungkin nampak bagi mereka yang mempelajari sejarah gerakan Jerman menurut Prokopowic, dan mempelajari filsafat gerakan Jerman menurut Struwe). Sekarangpun klas buruh Jerman, boleh dikatakan, terpecah-belah dalam beberapa ideologi: sebagian kaum buruh terorganisasi dalam serikat-serikat buruh Katolik dan monarkis, sebagian lagi terorganisasi dalam serikat-serikat Buruh Hirsch-Duncker [53], yang didirikan oleh pemuja-pemuja borjuis dari trade-unionisme Inggris, sedang sebagian lagi terorganisasi dalam serikat-serikat buruh sosial-demokratis. Bagian yang terakhir ini tak berhingga lebih banyak daripada semua lainnya, tetapi ideologi sosial-demokratis dapat mencapai keunggulan ini, dan akan dapat mempertahankannya, hanya melalui perjuangan gigih menentang semua ideologi lainnya.
Tetapi mengapa --pembaca akan bertanya-- gerakan yang spontan, gerakan menurut garis perlawanan sekecil-kecilnya, menuju justru ke dominasi ideologi borjuis? Karena alasan yang sederhana yaitu bahwa ideologi borjuis jauh lebih tua menurut asal-usulnya daripada ideologi sosialis; karena ia dikembangkan secara lebih menyeluruh dan karena ia mempunyai sarana penyebaran yang tak berhingga lebih banyaknya [*15]. Dan semakin muda gerakan sosialis itu disuatu negeri, maka semakin keraslah ia harus berjuang menentang segala usaha memperkuat ideologi non-sosialis, dan semakin keraslah kaum buruh harus diperingatkan terhadap penasehat-penasehat jelek yang berteriak-teriak menentang "penilaian terlampau tinggi unsur sedar", dan sebagainya. Penulis-penulis ekonomi itu, seirama denga Raboceye Dyelo, mengecam ketidaktoleran yang khas bagi masa kanak-kanak gerakan itu. Atas ini kita jawab: ya, gerakan kita memang masih dalam masa kanak-kananya, dan agar bisa lebih cepat dewasa, ia harus menjangkiti dengan ketidaktoleranan terhadap orang-orang yang menghambat pertumbuhannnya dengan pemujaan mereka kepada spontanitas. Tak ada yang lebih menggelikan dan lebih merugikan daripada berlagak sebagi "orang tua" yang sudah lama mengalami segala episode perjuangan yang menentukan.
Ketiga, Rabocaya Misl nomor pertama menunjukkan bahwa istilah "ekonomisme" ( yang, tentu saja, tidak kita usulkan supaya dilepaskan sebab bagaimanapun juga sebutan ini sudah berakar) tidak cukup mencerminkan hakekat aliran baru itu. Rabocaya Misl tidak menolak sama sekali perjuangan politik: dalam anggaran dasar untuk dana buruh yang dimuat dalam Rabocaya Misl No.1, ada disebut-sebut tentang perjuangan melawan pemerintah. Hanya saja Rabocaya Misl berpendapat bahwa "politik selalu mengikuti ekonomi dengan patuh" (dan Raboceye Dyelo membuat variasi dari tesis ini ketika, dalam programnya, ia mengatakan bahwa "di Rusia lebih dari negeri lain manapun, perjuangan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari perjuangan politik). Jika dengan politik itu dimaksudkan politik sosial-demokratis, maka dalil-dalil yang diajukan Rabocaya Misl dan Raboceye Dyelo itu salah sama sekali. Perjuangan ekonomi kaum buruh sering sekali berkaitan (meskipun bukan tak terpisahkan) dengan politik borjuis, politik kepaderian, dan lain-lain, sebagaimana sudah kita lihat. Dalil-dalil Raboceye Dyelo itu benar jika dengan politik itu dimaksudkan politik trade-unionis, yaitu hasrat umum semua buruh guna memperoleh dari pemerintah tindakan-tindakan tertentu untuk meringankan kesengsaraan yang menjadi ciri keadaan mereka, tetapi yang tidak melenyapkan keadaan itu, yaitu tindakan-tindakan yang tidak menghapuskan penundukkan kerja kepada kapital. Hasrat ini memang umum bagi trade-unionis Inggris yang bersikap memusuhi sosialisme, bagi kaum buruh Katolik, bagi kaum buruh "Zubatov" , dan sebagainya. Ada bermacam-macam politik. Jadi, kita lihat bahwa Rabocaya Misl lebih memuja spontanitasnya, memuja ketiadaannya akan kesadaran daripada pengingkari perjuangan politik. Walaupun mengakui sepenuhnya perjuangan politik (lebih tepat dikatakan keinginan-keinginan dan tuntutan-tuntutan politik kaum buruh), yang tumbuh secara spontan dari gerakan buruh itu sendiri, Rabocaya Misl sama sekali menolak menyusun secara bebas politik sosial-demokratis yang khas yang sesuai dengan tugas-tugas umum sosialisme dan dengan syarat-syarat dewasa ini di Rusia. Selanjutnya kita akan menunjukkan Raboceye Dyelo juga membuat kesalahan yang sama.
C. GRUP PEMBEBASAN DIRI DAN RABOCEYE DYELO [54]
Kita dengan begitu panjang lebar telah membicarakan tajuk rencana Rabocaya Misl nomor pertama yang tidak banyak diketahui dan sekarang hampir dilupakan orang, karena tajuk rencana ini paling awal dan paling menyolok menyatakan aliran pikiran yang umum yang kemudian muncul sebagi aliran-aliran kecil yang tak terhitung banyaknya. W.I sepenuhnya benar ketika, dalam memuji nomor pertama dan tajuk rencana Rabocaya Misl, dia mengatakan bahwa tajuk rencana tersebut ditulis secara "tajam dan dengan bergelora"(Listok Rabotnika No. 9-10 hal.49). Setiap orang yang percaya pada pendapatnya, yang berpendapat bahwa dia memberikan sesuatu yang baru, menulis "dengan gelora" dan dengan cara yang begitu rupa sehingga pandangan-pandangannya itu tampak menonjol. Hanyalah orang-orang yang biasa berdiri diatas dua perahu yang tidak mempunyai "gelora" sedikitpun, hanya orang-orang yang demikianlah yang bisa kemarin memuji-muji gelora Rabocaya Misl, hari ini menyerang "gelora polemik" lawan-lawan Rabocaya Misl.
Kita tidak akan membicayakan Lampiran Khusus Rabocaya Misl (nanti kita akan berkesempatan, mengenai berbagai hal, menyinggung tulisan ini, yang menyatakan ide-iede kaum ekonomis dengan konsekwen) tetapi hanya dengan singkat akan membicarakan Seruan Grup Pembebasan Diri Buruh ( Maret 1899, dimuat lagi dalam Nakanunye [55] London, No.7 Juli 1899). Penulis-penulis seruan ini tepat sekali mengatakan bahwa "kaum buruh Rusia baru saja bangun, baru saja melihat sekelilingnya, dan secara naluri mencekau alat perjuangan yang pertama dijumpai". Tetapi di sini penulis-penulis itu menarik kesimpulan salah yang sama seperti yang di tarik Rabocaya Misl dengan melupakan bahwa kenalurian adalah kesadaran (spontanitas) yang harus dibantu oleh kaum sosialis, bahwa alat perjuangan "yang pertama dijumpai", dalam masyarakat modern, akan selalu berupa alat perjuangan trade-unionis, dan ideologi "yang pertama dijumpai" akan berupa ideologi (trade-unionis) borjuis. Begitu juga, penulis-penulis ini tidak menolak politik, mereka hanya (hanya!) mengatakan, dengan mengulangi kata-kata yang diucapkan Tuan W.W, bahwa politik adalah bangunan atas, dan oleh karenanya, "agitasi politik harus menjadi bangunan-atas dari agitasi untuk kepentingan perjuangan ekonomi; ia harus tumbuh di atas dasar perjuangan ekonomi ini dan berjalan dibelakangnya".
Adapun Raboceye Dyelo, ia memulai aktivitasnya langsung dengan "membela" kaum ekonomis. Ia betul-betul berbohong dalam nomor pertamanya itu juga ( No. 1, hal 141-142) ketiga ia menyatakan bahwa ia "tidak tahu kawan-kawan muda mana yang dimaksud oleh Akselrod" dalam brosurnya yang terkenal, [*16] dimana ia memperingatkan kaum ekonomis, tetapi Raboceye Dyelo dalam polemik sengit dengan Akselrod dan Plekhanov mengenai kebohongan itu, terpaksa mengakui bahwa ia "dengan menyatakan kebingungan ingin membela semua sosial-demokrat yang lebih muda di luar negeri dari tuduhan yang tidak adil" (Akselrod menuduh kaum ekonomis berpandangan cupet). Sebetulnya tuduhan ini adil sepenuhnya, dan Raboceye Dyelo tahu betul bahwa tuduhan ini antara lain menimpa juga W.I. seorang anggota dewan redaksinya. Sepintas lalu baiklah saya sebutkan bahwa dalam polemik tersebut Akselrod sepenuhnya benar dan Raboceye Dyelo sama sekali salah dalam menafsirkan brosur saya Tugas-Tugas Kaum Sosial-Demokrat Rusia [*17] . Brosur itu ditulis dalam tahun 1897, sebelum Rabocaya Misl terbit, ketika saya berpendapat, dan berhak berpendapat, bahwa haluan semula Liga Perjuangan Petersburg, yang saya lukiskan diatas, adalah haluan yang berdominasi. Dan haluan itu adalah benar-benar haluan yang berdominasi, setidak-tidaknya sampai pertengahan tahun 1898. Karena itu Raboceye Dyelo tidak berhak sedikitpun dalam usahanya membantah adanya dan bahaya ekonomisme, menunjuk kepada brosur yang menyatakan pandangan-pandangan yang didesak oleh pandangan-pandangan "ekonomis" di Petersburg dalam tahun 1897-1898 [*18]
Tetapi Raboceye Dyelo tidak hanya "membela" kaum ekonomis --ia sendiri senantiasa tergelincir kedalam kesalahan-kesalahan mereka yang fundamental. Sumber kekacauan ini terletak dalam pengertian yang bercabang mengenai tesis dalam program Raboceye Dyelo berikut: "kita anggap gejala yang paling penting dari kehidupan Rusia, gejala yang terutama akan menentukan tugas-tugas" "dan watak aktivitas kesusasteraan Perserikatan, ialah gerakan massa buruh (kursif dari Raboceye Dyelo) yang telah timbul dalam tahun-tahun belakangan ini". Bahwasanya gerakan massa merupakan gejala yang paling penting, ini tak dapat dipertengkarkan lagi. Tetapi seluruh persoalannya ialah bagaimana memahami "penentuan tugas" oleh gerakan massa ini. Ini bisa diinterpretasi dengan dua cara: atau dalam arti pemujaan kepada spontanitas gerakan ini, artinya menurunkan peranan sosial-demokrasi menjadi pembudakan belaka kepada gerakan buruh sebagaimana adanya (interpretasi Rabocaya Misl, Grup Pembebasan Diri dan kaum ekonomis lainnya); atau dalam arti bahwa gerakan massa mengajukan kepada kita tugas-tugas baru di bidang teori, politik dan organisasi, yang jauh lebih rumit daripada tugas-tugas yang dapat memuaskan kita dalam periode sebelum timbulnya gerakan massa. Raboceye Dyelo telah dan masih cenderung justru ke interpretasi yang pertama, karena ia tidak mengatakan apapun yang tegas tentang sesuatu tugas baru, melainkan terus-menerus memperbincangkan seolah-olah "gerakan massa" ini justru membebaskan kitadari keharusan menyadari dengan jelas dan menyelesaikan tugas-tugas yang diajukannya kepada kita. Cukup ditunjukkan bahwa Raboceye Dyelo mengangap tidak mungkin menentukan penggulingan otokrasi sebagai tugas pertama gerakan massa buruh, dan bahwa ia memerosotkan tugas ini (demi kepentingan gerakan massa) menjadi tugas perjuangan untuk tuntutan-tuntutan politik yang terdekat (Jawaban, hal. 25) .
Akan kami lewati artikel B. Kricevski, redaktur Raboceye Dyelo, yang berjudul "Perjuangan Ekonomi dan Politik Dalam Gerakan Rusia", yang dimuat dalam surat kabar itu No.7, yang mengulangi kesalahan-kesalahan [*19] itu juga, dan langsung beralih Raboceye Dyelo No.10. Tentu saja, kita tidak akan menguraikan secara terperinci berbagai kebertan yang diajukan B. Kreicevski dan Martinov terhadap Zarya dan Iskra.Yang menarik perhatian kita disini semata-mata pendirian prinsipiil yang dibentangkan oleh Raboceye Dyelo No.10. Misalnya, kita tidak akan mengupas keanehan --bahwa Raboceye Dyelo melihat suatu 'kontradiksi yang diametral" antara dalil:
"Sosial-demokrasi tidak mengikat tangannya, tidak membatasi aktivitas-aktivitasnya pada sesuatu rencana atau metode perjuangan politik yang telah dipertimbangkan sebelumnya; ia mengakui semua alat perjuangan selama alat-alat perjuangan itu sesuai dengan kekuatan yang ada pada partai", dan seterusnya (Iskra. No.1) [56]
dengan dalil :
"Tanpa organisasi yang kuat, yang berpengalam dalam perjuangan politik dalam segala keadaan dan dalam segala periode, maka tak mungkin berbicara tentang rencana aktivitas yang sistematis yang diterangi dengan prinsip-prinsip yang teguh dan yang dilaksanakan dengan gigih, yang merupakan satu-satunya yang patut dinamakan taktik" (Iskra No.4) [57]
Mencampuradukkan pengakuan, dalam prinsip, atas segala alat perjuangan, atas segala rencana dan metode, selama hal-hal ini bermanfaat --dengan tuntutan supaya pada saat politik tertentu kita berpedoman pada rencana yang dilaksanakan dengan teguh, jika kita hendak mempersoalkan taktik, ini berarti sama dengan mencampuradukkan pengakuan ilmu kedokteran atas berbagai cara pengobatan dengan tuntutan berpegang teguh pada satu cara pengobatan tertentu untuk penyakit tertentu. Akan tetapi soalnya ialah bahwa Raboceye Dyelo, walaupun ia sendiri mengidap penyakit yang telah kita namakan memuja-muja spontanitas, tidak mau mengakui "cara pengobatan" apapun untuk penyakit itu. Karena itu, ia telah membuat penemuan yang istimewa bahwa "taktik- sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme" (No. 10, hal.18), bahwa taktik adalah "proses pertumbuhan tugas-tugas Partai yang tumbuh bersama dengan Partai" (hal.11, kursif dari Raboceye Dyelo). Ucapan yang terakhir ini mempunyai segala kemungkinan untuk menjadi peribahasa yang terkenal, suatu monumen yang abadi bagi "aliran" Raboceye Dyelo. Atas pertanyaan : kemana? Suatu organ pimpinan menjawab: gerakan adalah proses perubahan jarak antara titik pangkal dan titik-titik berikutnya gerakan itu. Tetapi kedalaman yang tiada tolok taranya ini bukan hanya suatu keanehan (jika demikian halnya, tak akan ada gunanya dibicarakan secara khusus), melainkan juga merupakan program seluruh aliran, yaitu program itu juga yang dinyatakan oleh R.M (dalam Lampiran Khusus Rabocaya Misl) dengan kata-kata: perjuangan yang dikehendaki ialah perjuangan yang mungkin dan perjuangan yang mungkin adalah perjuangan yang berlaku pada saat tertentu. Inilah justru aliran opurtunisme yang terbatas, yang seecara pasif menyesuaikan diri dengan spontanitas.
"Taktik- sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme!" Sungguh, ini adalah fitnahan terhadap Marxisme; ini berarti mengubahnya menjadi karikatur Marxisme yang dihadapkan kepada kita oleh kaum Narodnik dalam perang mereka melawan kita. Ini berarti meremehkan inisiatif dan enerzi aktivis-aktivis yang sadar, padahal Marxisme, sebaliknya, memberikan dorongan raksasa kepada inisiatif dan enerzi sosial-demokrat, membukakan baginya perspektif-perspektif yang seluas-luasnya dan (jika orang boleh menyatakan begitu) menyediakan untuknya kekuatan perkasa berjuta-juta orang dari klas buruh yang "secara spontan" bangkit berjuang! Seluruh sejarah sosial-demokrasi internasional penuh dengan rencana-rencana yang diajukan kadang-kadang oleh satu pimpinan politik, kadang-kadang oleh pimpinan politik lainnya; ada yang membenarkan pandangan jauh dan ketepatan pandangan politik dan organisasi dari pimpinan politik yang satu dan ada yang memperlihatkan kecupetan serta satu titik balik yang paling penting dalam sejarahnya --terbentuknya Kerajaan, pembukaan Reichstag dan pemberian hak pilih umum -- Liebknecht mempunyai satu rencana untuk politik dan pekerjaan sosial demokratis pada umumnya dan Schwetzer mempunyai rencana lain. Ketika Undang-Undang Anti Sosialis menyerang kaum Sosialis Jerman, Most dan Hasselmann mempunyai satu rencana, mereka siap seketika itu juga menyerukan dilakukannya kekerasan dan teror; Hochberg, Schraman dan (sebagian) Bernstein mempunyai rencana lain, mereka mulai mengkhotbahkan kepada kaum sosial-demokrat bahwa mereka sendirilah dengan kekasaran dan kerevolusioneran yang keterlaluan yang telah memprovokasi pengundangan Undang-Undang itu, dan sekarang harus bertingkah laku yang patut menjadi teladan untuk memperoleh maaf; rencana yang ketiga ialah yang diajukan oleh mereka yang mempersiapkan dan melaksanakan penerbitan organ ilegal. Tentu saja mudah, dalam menoleh kembali, bertahun-tahun sesudah perjuangan mengenai masalah pemilihan jalan terakhir dan sesudah sejarah menjatuhkan putusannya yang terakhir mengenai ketepatan jalan yaang telah terpilih, mengucapkan pepatah yang mendalam tentang pertumbuhan tugas-tugas Partai yang tumbuh bersama dengan partai. Tetapi pada saat kekalutan [*20], ketika "kritikus-kritikus" dan kaum ekonomis Rusia memerosotkan sosial demokrat ke tingkat trade-unionisme, dan ketika kaum teroris semakin kuat mengkhotbahkan diterimanya "taktik-sebagai-rencana" yang mengulangi lagi kesalahan-kesalahan lama, pada saat demikian itu, bila membatasi diri pada kedalaman-kedalaman itu, berarti memberi kepada diri sendiri "surat keterangan tentang kemiskinan". Pada saat banyak orang sosial-demokrat Rusia di hinggapi justru kelangkaan inisitif dan enerzi, dihinggapi kelangkaan "ruang lingkup propaganda politik, agitasi politik dan organisasi politik" [*21], kelangkaan "rencana" untuk mengorganisasi pekerjaan revolusioner secara lebih luas, bila pada saat yang demikian mengatakan: "taktik-sebagai rencana berkontradiksi dengan jiwa pokok Marxisme" berarti tidak hanya memvulgarkan Marxisme di bidang teori, tetapi juga menyeret Partai mundur dalam praktek.
Raboceye Dyelo seterusnya menggurui kita :
"Tugas orang revolusioner sosial-demokrat hanyalah mempercepat perkembangan objektif dengan pekerjaannya yang secara sadar, tetapi bukan meniadakannya atau menggantinya dengan rencana-rencana subyektif. Iskra tahu semua ini dalam teori. Tetapi arti penting mahabesar yang secara tepat diberikan Marxisme kepada pekerjaan revolusioner yang sadar menyebabkan Iskra dalam praktek, karena padangannya yang dokriner tentang taktik, meremehkan arti penting unsur obyektif atau spontan perkembangan" (hal.18).
Satu contoh lagi tentang kekalutan teori yang luar biasa yang sudah sepatutnya bagi Tuan W.W dan kelompoknya. Kita akan bertanya kepada ahli filsafat kita: dalam hal apa dapat tercermin "peremehan" perkembangan obyektif dari pihak penyusun rencana-rencana yang subyektif? Jelas, dalam hal bahwa ia mengabaikan kenyataan bahwa perkembangan obyektif ini menciptakan atau memperkuat, menghancurkan atau melemahkan klas-klas, lapisan-lapisan, golongan-golongan tertentu, bangsa-bangsa, kelompok-kelompok bangsa tertentu, dsb, dengan begitu menjadi syarat bagi pengelompokan kekuatan-kekuatan politik internasional tertentu, bagi penentuan pendirian partai-partai revolusioner, dan sebagainya. Tetapi jika demikian, maka kesalahan penyusun rencana-rencana itu bukanlah dalam hal meremehkan unsur spontan melainkan sebaliknya, dalam hal meremehkan unsur sadar, karena dia tidak mempunyai cukup "kesadaran" untuk memahami secara tepat perkembangan obyektif. Karena itu omongan tentang "penilaian arti "relatif" (krsif dari Raboceye Dyelo) spontanitas dan kesadaran itu saja sudah menyingkapkan ketiadaan "kesadaran" sama sekali . Jika "unsur-unsur spontan perkembangan" tertentu dapat ditangkap oleh kesadaran manusia pada umumnya, maka penilaian yang tidak tepat mengenai unsur-unsur spontan itu akan sama saja dengan "meremehkan unsur sadar". Tetapi jika unsur-unsur spontan itu tidak dapat ditangkap oleh kesadaran, maka kita tak dapat mengetahuinya, dan tidak dapat membicarakannya. Jadi apakah yang dipercakapkan oleh B. Kreicevski itu? Jika dia berpendapat bahwa "rencana-rencana subyektif" Iskra itu salah (dan dia justru menyatakan rencana-rencana subyektif itu salah), maka dia semestinya menunjukkan kenyataan-kenyataan obyektif apa yang diabaikan dalam rencana-rencana ini, dan kemudian menuduh Iskra tidak mempunyai cukup kesadaran karena mengabaikannya dan menuduh Iskra, menggunakan kata-kata dia sendiri, "meremehkan secara sadar". Tetapi jika dia, walaupun tidak puas dengan rencana-rencana subyektif, tidak mempunyai argumen lain kecuali kutipan "meremehkan unsur spontan" (!!), maka dia dengan itu hanya membuktikan bahwa : 1) secara teori dia memahami Marxisme ala orang-orang sebangsa Kareyev dan Mikhailovski yang sudah cukup di cemooohkan oleh Beltov [58], dan 2) dalam praktek, dia sepenuhnya puas dengan "unsur-unsur spontan perkembangan" yang telah membawa kaum Marxis legal kita ke Bernsteinisme dan membawa kaum sosial-demokrat kita ke ekonomisme, dan bahwa dia "sangat marah" kepada orang-orang yang telah bertekad bulat bagaimanapun juga akan membelokkan sosial-demokrasi Rusia dari jalan perkembangan "spontan".
Dan kemudian menyusullah hal-hal yang sungguh lucu. "Persis seperti manusia-manusia akan berbiak dengan cara kuno, kendatipun segala sukses ilmu pengetahuan alam, demikian pulalah kelahiran sistem masyarakat baru, dimasa depan juga., terutama sebagai akibat ledakan-ledakan spontan, kendatipun segala sukses ilmu-ilmu sosial dan pertambahan jumlah pejuang yang sadar" (hal.19). Persis seperti kata arif bijaksana kuno yang berbunyi: "Setiap orang tolol dapat melahirkan anak", kata arif bijaksana kaum "sosialis modern" (a la Narcissus Tuporilov [59]) juga berbunyi: setiap orang tolol dapat ikut serta dalam kelahiran spontan sistem masyarakat baru. Kita juga berpendapat demikia. Untuk keikutsertaan semacam itu cukuplah menyerah kepada ekonomisme ketika ekonomisme berkuasa, dan menyerah kepada terorisme ketika terorisme merajalela. Misalnya, dalam musim semi tahun ini, ketika begitu penting memperingatkan orang supaya jangan tergila-gila akan terorisme, Raboceye Dyelo bengong dihadapan masalah yang "baru" baginya itu. Dan sekarang, enam bulan sesudah itu, ketika masalah tersebut telah menjadi kurang aktual, ia sekaligus menyodorkan kepada kita pertanyaan : "kita berpendapat bahwa tidak mungkin dan tidak seharusnya tugas sosial-demokrasi menghalang-halangi kebangkitan semangat teroris"(Raboceye Dyelo, No.10, hal 23)., juga resolusi Kongres: "Kongres menganggap teror yang sistematis dan ofensif sebagai tak tepat pada waktunya (Dua Kongres, Hal.18). Betapa terang dan sambung-menyambung! Jangan menghalang-halangi, tetapi menyatakan sebagai tak tepat pada waktunya, dan menyatakannya dengan begitu rupa sehingga teror yang sistematis dan defensif tidak termasuk dalam ruang lingkup "resolusi" itu. Haruslah diakui bahwa resolusi semacam itu sangat aman dan sepenuhnya terjamin terhadap kesalahan, seperti orang yang berbicara tetapi tidak mengatakan apa-apa itu terjamin terhadap kesalahan! Dan apa yang dibutuhkan untuk menyusun resolusi semacam itu hanyalah: kecakapan untuk mengekor di belakang gerakan. Ketika Iskra mentertawakan Raboceye Dyelo karena menyatakan soal teror sebagi suatu soal baru, maka ia dengan marah menuduh Iskra "luar biasa kurang ajarnya karena memaksakan pada organisasi Partai pemecahan soal-soal taktik yang diusulkan oleh sekelompok penulis emigran lebih dari lima belas tahun yang lalu" (hal.24). Memang, alangkah kurang ajarnya dan alangkah dibesar-besarkannya unsur sadar --mula-mula secara teori memecahkan masalah-masalah, kemudian meyakinkan organisasi, Partai dan Massa akan ketepatan pemecahan itu! [*22]. Akan lebih baik jika sekadar mengulang-ulang sesuatu yang telah hafal dan tanpa "memaksakan" sesuatu pada siapapun juga, tunduk pada setiap "pembelokan" baik ke jurusan ekonomisme ataupun ke jurusan terorisme. Raboceye Dyelo bahkan menggeneralisasi petuah besar dari kebijaksanaan duniawi ini dan menuduh Iskra serta Zarya "mempertentangkan program mereka dengan gerakan seperti roh yang melayang-layang diatas kekacauan yang tak berbentuk", (hal.29). Tetapi apa lagi fungsi sosial-demokrasi jika bukan sebagai "roh", yang tidak hanya melayang-layang diatas gerakan spontan, tetapi juga meningkatkan gerkan ini ke tingkat "programnya"? Tentulah, bukan pula fungsinya mengekor di belakang gerakan: paling banter, ini tidak akan ada gunanya bagi gerakan: paling buruk ia akan sangat, sangat merugikan. Tetapi Raboceye Dyelo tidak hanya mengikuti "taktik-sebagai-proses" ini, bahkan mengangkatnya menjadi suatu prinsip, sehingga lebih tepatlah menamakan haluan Raboceye Dyelo bukan oportunisme, melainkan ekorisme (dari kata ekor). Dan haruslah diakui bahwa orang-orang yang telah bertekad untuk selalu membuntut dibelakang gerakan dan menjadi ekornya, selama-lamanya dan mutlak tidak bisa "meremehkan unsur spontan perkembangan".
* * *
Demikianlah, kita sudah menjadi yakin bahwa kesalahan pokok "aliran baru" dalam sosial demokrasi Rusia berupa pemujaan kepada spontanitas, dan ketidakmengertian bahwa spontanitas massa menuntut kesadaran besar-besaran dari kita kaum sosial-demokrat. Semakin besar kebangkitan spontanitas dari massa, semakin meluaslah gerakan, maka semakin cepat lagi dengan tiada bandingnya bertambah besarnya tuntutan akan kesadaran yang besar-besaran dalam pekerjaan teori, politik dan organisasi dari sosial-demokrasi.
Kebangkitan spontan massa di Rusia telah (dan terus) berlangsung dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga pemuda sosial-demokrat ternyata belum dipersiapkan untuk menunaikan tugas-tugas raksasa ini. Ketidaksiapan ini merupakan kemalangan kita bersama, kemalangan semua orang sosial-demokrat-Rusia. Kebangkitan massa meluas dan berlangsung dengan tak putus-putusnya dan sambung-bersambung; ia bukan hanya tidak berhenti di tempat-tempat di mana ia telah mulai, tetapi melanda tempat-tempat baru dan lapisan-lapisan baru penduduk (di bawah pengaruh gerakan buruh telah hidup kembali gejolak di kalangan pemuda-pelajar, kaum intelektual pada umumnya dan bahkan dikalangan kaum tani). Akan tetapi kaum revolusioner ketinggalan di belakang kebangkitan ini baik dalam "teori-teori" mereka maupun dalam aktivitas mereka; mereka gagal mendirikan organisasi yang tak putus-putusnya dan yang sambung-bersambung, yang sanggup memimpin seluruh gerakan.
Dalam Bab I telah kami buktikan bahwa Raboceye Dyelo meremehkan tugas-tugas teori kita dan bahwa ia "secara spontan" mengulang-ulangi semboyan yang sedang menjadi mode "kebebasan mengkritik"; bahwa mereka yang mengulang-ulangi semboyan ini tidak mempunyai cukup "kesadaran" untuk memahami pertentangan yang diametral antara pendirian para "kritikus" oportunis dengan pendirian kkaum revolusioner di Jerman dan di Rusia.
Dalam bab-bab yang berikut akan kita bahas bagaimana pemujaan kepada spontanitas ini mendapatkan perwujudannya di bidang tugas-tugas politik dan pekerjaan organisasi dari sosial-demokrasi.
________________________________________
Catatan:
[*1] Raboceye Dyelo no.10, September 1901, hlm. 17-18 Kursif dari Raboceye Dyelo.
[*2]Trade-unionis tidak menutup pintu sama sekali terhadap politik sebagaimana kadang-kadang diduga orang. Trade-unionis selalu melakukan agitasi dan perjuangan politik tertentu (tetapi bukan agitasi dan perjuangan politik sosial-demokratis). Dalam bab berikutnya kita akan membicarakan perbedaan antara politik trade-unionis dengan politik sosial-demokratis.
[44] Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg dibentuk oleh W. I. Lenin dalam musim rontok tahun 1895 dan mempersatukan semua lingkaran buruh Marxis di Petersburg. Ia dipimpin oleh suatu Grup Sentral di bawah pimpinan Lenin. Liga Perjuangan itu adalah organisasi pertama di Rusia yang mengkombinasi sosialisme dengan gerakan buruh dan beralih dari mempropagandakan Marxisme di kalangan selingkaran kecil kaum buruh yang maju ke agitasi politik di kalangan massa luas klas buruh.
"Arti penting Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg terletak dalam kenyataan bahwa ia, sebagaimana kata Lenin, merupakan embrio pertama yang sesungguhnya dari partai revolusioner yang didukung oleh gerakan buruh".
[*3] A.A wanayev meninggal di Siberia Timur pada tahun 1899 karena penyakit TBC yang diidafnya selama dikurung tersendiri dalam penjara sebelum perang. Karena itu kita berpendapat keterangan diatas boleh disiarkan, yang kita jamin kebenarannya karena ia berasal dari orang-orang yang secra langsung dan dekatnya mengenal A.A. Wanayev.
[45] Ruskaya Starina-- majalah bulanan tentang sejarah, terbit di Petersburg dari tahun 1870 sampai 1918.
[*4] Lihat Kumpulan karya, edisi Rusia ke-4, Jilid 2, hal.71-76—red.
[46] Obskurantisme-- sikap yang bermusuhan terhadap pencerahan dan kemajuan, semangat yang menghambat kemajuan.
[47] S. Petesburgski Raboci Listok (Lembaran Buruh Petersburg)-- surat kabar ilegal, organ Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg. Terbit dua nomor: No. 1 dalam bulan Februari (bertanggal Januari) 1897 (distensil di Rusia sebanyak 300-400 eksemplar); dan No. 2 dalam bulan September 1897 di Jenewa.
[*5] "Ketika bersikap negatif terhadap aktivitas-aktivitas sosial demokrat pada akhir tahun-tahun 90-an, Iskra mengabaikan tidak adanya syarat-syarat pada waktu itu untuk pekerjaan lain kecuali perjuangan untuk -tuntutan-tuntutan kecil". Demikian kaum ekonomis menerangkan dalam surat mereka yaitu Surat Kepada Organ-Organ Sosial-Demokrat Rusia (Iskra No.12). Kenyataan-kenyataan yang dikutip diatas membuktikan bahwa pernyataan tentang "tidak adanya syarat-syarat" bertentangan sama sekali dengan kebenaran. Tidak hanya pada akhir, tetapi bahkan pada pertengahan tahun-tahun 90-an, semua syarat untuk pekerjaan lain sudah ada selain perjuangan untuk tuntutan-tuntutan kecil, semua syarat sudah ada --kecuali latihan yang cukup bagi para pemimpin. Bukannya terus terang mengakui tidak cukupnya latihan pada pihak kita, para ideologis, para pemimpin --kaum "ekonomis" hendak melempaskan semua kesalahan pada "tidak adanya syarat-syarat", pada pengaruh lingkungan materiil yang menentukan jalan, yang dari jalan ini tak seorang idiologis pun akan mungkin membelokkan gerakan. Apa ini kalau bukan membungkuk-bungkuk kepada spontanitas, kalau bukan kegila-gilaan para ideologis akan kekurangan kekurangan mereka sendiri?
[48] Rapat khusus yang dimaksudkan Lenin diadakan di Petersburg antara tanggal 14 dan 17 Februari (26 Februari dan 1 Maret) 1897. rapat ini dihadiri oleh W. I. Lenin, A. A. Waneyev, G. M. Krzyizyanovski dan anggota-anggota lainnya dari Liga Perjuangan Untuk Pembebasan Klas Buruh Petersburg, yaitu "veteran-veteran" yang telah dikeluarkan dari penjara selama tiga hari sebelum dikirim ke pembuangan Siberia dan "orang-orang muda" yang memimpin Liga Perjuangan sesudah Lenin ditangkap.
[49] Listok Rabotnika (Lembaran Pekerja)-- diterbitkan di Jenewa oleh Perserikatan Kaum Sosial-Demokrat Rusia Di Luar Negeri dari tahun 1896-1899. Terbit sepuluh nomor. No. 1 sampai No. 8 diedit oleh grup Pembebasan Kerja. Karena mayoritas anggota Perserikatan memebelok ke "ekonomisme", maka grup Pembebasan Kerja menolak untuk terus mengedit penerbitan-penerbitannya. No. 9- No. 10 diterbitkan oleh dewan redaksi baru yang dibentuk oleh Perserikatan.
[50] Artikel W.I.-- yang dimaksud ialah artikel W. P. Iwansyin.
[*6]Sambil lalu perlu dinyatakan bahwa pujian-pujian kepada Rabocaya Misldalam bulan November 1898, pada waktu ekonomisme, terutama diluar negeri, telah terbentuk sepenuhnya, berasal dari W.I itu juga yang tak lama kemudian menjadi salah seorang redaktur dari Raboceye Dyelo. Namun Raboceye Dyelo tetap tidak mengakui adanya dua aliran dalam sosial-demokrasi Rusia dan terus tidak mengakuinya hingga kini!
[51] Gendarme-gendarme tsar mengenakan baju seragam bermanset biru.
[*7]Bahwasanya kiasan ini benar, dapat dilihat dari kenyataan khas yang berikut. Ketika, sesudah penangkapan atas diri kaum "Desembris", tersiar berita dikalangan kaum buruh di Jalan Schusselburg bahwa penangkapan itu terjadi atas bantuan seorang provokator N.N. Mikhailov (seorang dokter gigi) yang dekat dengan salah satu dari grup-grup yang berhubungan dengan kaum Desembris, kaum buruh menjadi begitu marah sehingga mengambil keputusan membunuh Mikhailov.
[*8]Kutipan-kutipan ini diambil dari tajuk rencana dalam nomor pertama Rabocaya Misl itu juga. Dari sini orang dapat menilai taraf teori yang dimiliki oleh "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia"[52], yang terus mengulang-ulangi pemvulgaran secara kasar "meterialisme ekonomi" pada waktu dalam literatur terjadi perang kaum Marxis menentang Tuan W.W yang sebenarnya, yang sudah lama dijuluki "ahli urusan reaksioner", karena mempunyai pandangan-pandangan yang serupa mengenai hubungan antara politik dengan ekonomi!
[52] W. W. --nama samaran W. P. Worontstov, salah seorang ideologis dari Narodisme liberal dalam tahun-tahun 80-an dan 90-an abad ke-19. Kata-kata Lenin "W. W. dari sosial-demokrasi Rusia" merupakan sindiran untuk kaum "ekonomis" yang mewakili aliran oportunis dalam sosial demokrasi Rusia.
[*9] Orang-orang Jerman bahkan mempunyai kata khusus : "Nur-Gewerkschafter", yang artinya pembela perjuangan "serikat buruh semata-mata"
[*10] Kita tekankan kata kata dewasa ini untuk dialamatkan kepada mereka yang mungkin secara munafik mengangkat bahu seraya berkata: sungguh mudah sekarang mencaci-maki Rabocaya Mils, tetapi kan hanya sesuatu yang sudah usang! Mutato nomine de te fabula narratur (ubahlah namanya maka kisah itu mengenai dirimu.--Red), demikianlah jawaban kita kepada kaum munafik dewasa ini yang semacam itu yang ketundukannya sama-sekali kepada ide-ide Rabocaya Misl akan dibuktikan berikut ini.
[*11] Surat kaum "ekonomis" dalam Iskra No.12.
[*12] Raboceye Dyelo No.10
[*13] Neue Zeit (Zaman Baru. --red) 1901-1902, XX, I, No.3 hlm 79. Rancangan komisi yang dibicarakan K. Kautsky itu diterima oleh Kongres Wina (pada akhir tahun lalu) dalam bentuk yang sedikit diubah.
[*14] Ini sudah barang tentu tidaklah berarti bahwa kaum buruh tidak ambil bagian dalam menciptakan ideologi demikian itu. Tetapi mereka ambil bagian itu bukan sebagai kaum buruh, melainkan sebagai ahli-ahli teori sosialisme, sebagai orang-orang sebangsa Proudhon dan sebangsa Waitling; dengan kata lain, mereka ambil bagian hanya apabila dan sejauh mereka mampu. Sedikit atau banyak, menguasai pengetahuan pada zaman mereka dan mendorong maju pengetahuan. Dan agar kaum buruh dapat melakukan ini lebih sering, maka perlu dilakukan segala usaha guna meningkatkan taraf kesadaran kaum buruh pada umumnya; kaum buruh jangan membatasi diri pada bingkai "literatur untuk kaum buruh" yang dipersempit secara dibuat-buat, tetapi harus belajar menguasai semakin banyak literatur umum. Bahkan akan lebih tepat jika dikatakan bukannya "membatasi diri" tetapi dibatasi, karena kaum buruh sendiri membaca dan ingin membaca semua yang ditulis untuk intelegensia dan hanya beberapa orang intelektual (yang jelek) yang berpendapat bahwa "bagi kaum buruh" cukuplah diceritai tentang keadaan-keadaan pabrik dan diulang-ulang saya yang sudah lama diketahui.
[53] Serikat-Serikat Buruh Hirsch-Duncker-- didirikan oleh borjuis-borjuis liberal Hirsch dan Duncker dalam tahun 1868 di Jerman. Hirsch dan Duncker mengkhotbahkan "kerukunan kepentingan-kepentingan klas", menyelewengkan buruh dari perjuangan klas revolusioner melawan borjuasi, membatasi tugas-tugas gerakan serikat buruh pada bingkai tugas-tugas di bidang dana saling bantu dan organisasi pendidikan-kebudayaan.
[*15] Sering dikatakan: Klas buruh secara spontan condong kepada sosialisme. Itu sepenuhnya benar dalam arti bahwa teori sosialis menentukan sebab-sebab kesengsaraan klas buruh dengan lebih mendalam dan lebih tepat daripada teori lain manapun juga, dan karena itu kaum buruh dapat mencernakannya dengan begitu mudah akan tetapi asal saja teori ini sendiri tidak menyerah kepada spontanitas, asalkan ia membuat spontanitas tunduk padanya. Biasanya ini diterima sebagi benar, tetapi justru inilah yang dilupakan atau diputarbalikkan oleh Raboceye Dyelo. Klas buruh secar spontan condong kepada sosialisme, tetapi sungguhpun demikian ideologi burjuis yang lebih tersebar luas ( dan terus-menerus dihidupkan kembali dalam bentuk-bentuk yang sangat beraneka warna) secara spontan lebih-lebih lagi mendesakkan diri pada klas buruh.
[54] Grup Pembebasan Diri Buruh— satu grup kecil orang-orang “ekonomis yang dibentuk di Petersburg dalam musim rontok tahun 1898. Grup ini yang bereksistensi hanya beberapa bulan saja, mengeluarkan sebuah manifesto yang memaparkan tujuan-tujuannya (dimuat dalam Nakanunye, majalah yang terbit di London), susunan anggaran dasar dan beberapa surat sebaran untuk disebarkan di kalangan buruh.
[55] Nakanunye (Menyongsong)-- majalah dari aliran Narodnik yang terbit dalam bahasa Rusia di London dari bulan Januari 1899 samapai Februari 1902. terbit 37 nomor. Nakanunye menghimpun di sekitarnya wakil-wakil berbagai partai borjuis kecil.
[*16] Tentang Masalah Tugas-Tugas dan Taktik kaum Sosial Demokrat Rusia Dewasa ini, Jenewa 1898. Dua pucuk surat yang ditulis kepada Rabocaya Gazeta dalam tahun 1897.
[*17] Lihat Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4 Jilid 2, hal.299-326 --Red.
[*18] Dalam membela kebohongannya yang pertama ("kita tak tahu kawan-kawan muda mana yang dimaksud oleh P. B. Akselrod") Raboceye Dyelo menambah dengan kebohongan yang kedua, ketika dalam jawabannya ia menulis: "Sejak tinjauan tentang Tugas-Tugas diterbitkan, dikalangan orang-orang sosial-demokrat Rusia tertentu telah timbul atau kecendrungan-kecendrungan ke arah keberatsebelahan ekonomi, yang merupakan langkah mundul dari keadaan gerakan kita sebagaimana dilukiskan dalam Tugas-Tugas (hal.9). Inilah yang dikatakan Jawaban itu, yang dimuat dalam tahun 1900. Tetapi Raboceye Dyelo nomor pertama (yang memuat tinjauan itu) terbit dalam bulan April 1899. Apakah ekonomisme itu baru timbul dalam tahun 1899? Tidak, dalam tahun 1899 terdengar protes pertama kaum sosial demokrat Rusia terhadap ekonomisme (protes terhadap Credo). Ekonomisme timbul dalam tahun 1897, sebagaimana Raboceye Dyelo tahu betul, karena sudah pada bulan November 1898, W.I. Memuji Rabocaya Misl (lihat Listok Rabotnika No.9-10)
[*19] "Teori tingkat-tingkat" atau teori "lika-liku yang takut takut-takut" dalam perjuangan politik dinyatakan, misalnya dalam artikel ini demikian: "Akan tetapi tuntutan-tuntutan-tuntutan politik, yang menurut wataknya adalah umum bagi seluruh Rusia, harus mula-mula" (ini ditulis dalam bulan Agustus 1900!) " sesuai dengan pengalaman yang diperoleh lapisan tertentu"(sic!). "kaum buruh dari perjuangan ekonomi. Hanya (!) atas dasar pengalaman inilah agitasi politik dapat dan harus dimulai", dan seterusnya.(hal.11). Pada halaman 4 sipenulis ketika menyanggah apa yang dianggapnya sebagai tuduhan yang sama sekali tidak beralasan yaitu tuduhan sebagai bid'ah ekonomis, dengan mengharukan berseru : "Sosial-demokrat mana sih yang tidak tahu bahwa menurut ajaran Marx dan Engels kepentingan-kepentingan ekonomi dari berbagai klas memainkan peranan yang menentukan dalam sejarah dan, karenanya, bahwa terutama perjuangan proletariat untuk kepentingan-kepentingan ekonominya harus mempunyai arti penting nomor satu bagi perkembangan klasya dan perjuangannya untuk pembebasan ?"(Kursif dari kami). Kata "karenanya"sama sekali tidak pada tempatnya. Dari kenyataan bahwa kepentingan-kepentingan ekonomi memainkan peranan yang menentukan sekali-kali tidak seharusnya ditarik kesimpulan bahwa perjuangan ekonomi (yaitu, perjuangan serikat buruh) mempunyai arti penting nomor satu, karena kepentingan-kpentingan yang paling pokok, yang "menentukan" dari klas-klas dapat dipenuhi hanya dengan perubahan-perubahan politik yang radikal pada umumnya; terutama kepentingan-kpentingan ekonomi yang pokok dari proletariat dapat dipenuhi hanya dengan revolusi politik yang akan mengganti diktatur borjuasi dengan diktatur proletariat. B. Kreicevski mengulangi argumen-argumen "W.W. dari sosial-demokrasi Rusia" (yaitu, politik mengikuti ekonomi dan lain-lain) dan argumen-argumen kaum Bernsteinis dari sosial-demokrasi Jerman (misalnya, justru dengan argumen semacam ini. Woltmann mencoba membuktikan bahwa kaum buruh pertama-tama harus memperoleh "kekuatan ekonomi" sebelum memikirkan revolusi politik).
[56] W. I. Lenin, Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4, Moskow, 1946, Jilid 4, hlm. 345-346.
[57] Ibid, Jilid 5, hlm. 6.
[*20] "Ein Jahr der Verwirrung" ("Tahun Kekalutan") adalah judul yang diberikan oleh Mehring pada bab dalam bukunya Sejarah Sosial-Demokrasi Jerman dimana ia melukiskan keragu-raguan dan ketiadaan kebulatan tekad yang mula-mula dipertunjukan oleh kaum sosialis dalam memilih "taktik-sebagai-rencana" yang sesuai dengan syarat-syarat baru.
[*21] dari tajuk rencana Iskra No. 1 (Lihat Kumpulan Karya, edisi Rusia ke-4, Jilid 4, hal.344 -Red)
[58] Dengan nama samaran N. Beltov, G. W. Plekhanov menerbitkan bukunya yang terkenal Tentang Perkembangan Pandangan Monistik Mengenai Sejarah, yang terbit secara legal di Petersburg dalam tahun 1895.
[59] Yang dimaksud ialah sajak satiris "Lagu Pujian Sosialis Rusia Supra-Modern" oleh Y. O. Martov, yang dimuat dalam Zarya No. , April 1901, dengan bertanda tangan "Narcissus Tuporilov". Sajak ini memperolok-olok kaum "ekonomis" dan penyesuaian diri mereka dengan gerakan spontan.
[*22] Jangan dilupakan pula bahwa dalam memecahkan "secara teori" masalah teror, grup Pembebasan Kerja menggeneralisasi pengalaman gerakan revolusioner yang terdahulu.
Langganan:
Postingan (Atom)